Tiba-tiba puluhan anak panah muncul dan menembus ruangan asrama putra dan putri. Murid-murid yang belum tidur segera membangunkan teman sekamar yang sudah tertidur lelap.
Di kamar Long Feiye dan Bai Quan pun juga terjadi demikian. Feiye segera menghindar dari serangan anak panah yang terjadi secara tiba-tiba.
Bai Quan tak bergerak sama sekali dengan tenang dia membentuk sebuah perisai untuk dirinya sendiri dan juga Long Feiye. Perisainya berwarna merah dan terasa hangat di atas kulit. Saat anak-anak panah hendak menembus perisai api milik Bai Quan, belum sempat menusuk kulit, semua anak panah telah hangus terbakar.
Bai Quan merapikan tumpukan kertas yang telah disalin dan juga buku norma peraturan ke dalam laci ke tempat yang aman. Tak mungkin dia harus menulis lagi karena terkena anak-anak panah yang tak tahu asalnya dari mana.
Dengan cepat guru-guru membantu menghilangkan anak panah. Dan sisanya mencari dan mengejar pelaku yang telah melakukan hal yang tak baik itu. Para penganggu itu benar-benar mengacau waktu istirahat semua orang.
Beberapa guru melayang mengejar pelaku kejahatan.
Di kamar paling terakhir juga terjadi hal yang sama. Lianyu yang baru saja memejamkan kedua matanya, terpaksa terbangun kembali saat mendengar suara aneh yang mengusik indra pendengaran. Beberapa anak panah menancap ke meja, meja belajar, dan juga dinding.
"Astaga dari mana puluhan anak panah ini," ujar Song Lianyu. Dia terus menghindar sambil terus menangkis anak-anak panah yang terarah padanya.
"Oy, kurang kerjaan sekali! Malam-malam begini menyerang orang! Benar-benar tak punya otak!" umpat Song Lianyu dengan kesal.
Gadis itu mengeluarkan energi spiritual, warnanya merah muda dan juga kelopak bunga persik menghancurkan anak-anak panah.
Beberapa saat kemudian serangan anak panah berhenti. Song Lianyu bernapas dengan lega. "Uh, akhirnya anak panah itu tak menggangguku lagi."
"Baiklah, aku mendapatkan banyak anak panah." Song Lianyu mengumpulkan semua anak panah yang tertancap di meja, kursi, dan dinding.
Lianyu menatap anak panah tersebut. "Di ujung anak panah ini tak ada apapun," ujarnya.
***
Keesokan harinya, hari ini kebetulan hari libur sekolah. Song Lianyu memutuskan untuk jalan-jalan sebentar untuk mencari pekerjaan.
Setelah memberi makan si Winter dan si putih sudah telah tidur dengan nyenyak di atas bantalnya. Song Lianyu berjalan keluar. Han Shiyi dan Yuwen Yue berkunjung ke rumah orang tua mereka. Sedangkan Bai Quan mengajak Long Feiye untuk memancing di sungai. Sebenarnya Han Shiyi juga mengajak Lianyu ke rumah orang tuanya, tapi Lianyu menolak, dan mengatakan lain kali saja.
Song Lianyu berjalan sendirian di tengah kota. Dia mendatangi satu per satu toko sambil bertanya apakah ada pekerjaan atau lowongan untuknya.
Di depannya sekarang Lianyu ada toko pembuatan pakaian yang bernama toko Xing. Dalam hati gadis itu berharap supaya di sana ada lowongan yang kosong.
"Permisi pak, apakah ada lowongan pekerjaan di sini?" tanya Song Lianyu pada seorang pria yang ada di bagian depan. Bagian melayani pelanggan.
"Nona, ingin melamar di toko ini?" tanya bapak itu balik.
Song Lianyu mengangguk mengiakan. "Iya, pak. Aku ingin melamar di sini, apakah ada posisi yang kosong di sini?" jawabnya.
"Wah, kebetulan sekali nona. Di sini kekurangan satu orang bagian pembuatan pakaian, tapi tunggu sebentar apakah kau bisa melakukannya, nona?" tanya si bapak. Tidak masalah jika umur nona yang ada di hadapannya masih muda, yang penting dia bisa melakukan pekerjaan dengan baik.
"Apakah seperti memotong dan menyulam?"
"Ya, seperti itu, nona. Kau bisa?"
"Aku bisa melakukannya, pak. Apakah bapak pemilik toko ini?" tanya Song Lianyu.
"Ya, aku pemiliknya. Kau bisa bekerja hari ini juga, nona," ujar si bapak pemilik toko pakaian Xing. Letak tokonya berada diposisi yang berbeda dari toko-toko yang lain.
"Kau bawa gadis ini ke tempat pembuatan pakaian," perintah majikan.
"Oh, tunggu sebentar. Nona kau isi dulu namamu di sini dan tanggal mulai bekerja yaitu tanggal hari ini. Nona di sini gajiannya per minggu, untuk uang gajinya per minggu 20 tael perak," jelas bapak pemilik.
"Baik, pak, aku bersedia," jawab Song Lianyu dengan semangat. Akhirnya setelah keliling mencari, dia mendapatkan pekerjaan juga dan gajinya juga terbilang cukup besar.