Han Shiyi menyadari satu hal setelah temannya mengatakan jika Feiye tak kelihatan "Oh, ya, aku baru sadar kalau Feiye menghilang setelah pelajaran tadi. Aku seharian ini hanya fokus menemanimu latihan, sampai lupa dengan Feiye. Semoga saja tak ada yang mengganggunya," ujar Han Shiyi berharap. Kasihan kalau Feiye tiap hari selalu diganggu. Hidupnya pasti tak nyaman jika begitu terus, batin Han Shiyi.
"Ya, betul katamu itu, tapi seharusnya Feiye jangan diam saja saat dihina, harusnya membalasnya. Karena apa, jika diamin terus menerus, maka musuh semakin menginjak-injak harga diri," balas Song Lianyu. Entahlah, apakah Feiye memang terlalu baik atau terlalu takut untuk membalas orang-orang yang menyakitinya. Oh, jangan tanya jika hal itu terjadi padanya ketika di sini, dia tak akan menunggu waktu yang lama untuk membalas. Dia berprinsip jika orang berani mengganggunya, maka dia akan juga mengganggunya, itu saja, sangat simple. Jika orang memberinya apel yang manis, maka dia akan memberi apel yang manis juga. Jika ada orang yang memberinya apel busuk, maka dia akan memberi orang itu apel yang busuk juga. Itu baru yang namanya adil.
Han Shiyi menghembuskan napas dengan lelah. "Aku tak tahu lagi, Lianyu. Kami sudah sering nasehatin dia, tapi dia tetap hanya diam saja. Tiap kali dijawabnya, kalau diladenin, maka masalah menjadi tambah runyam," ujarnya.
"Tapi kasihan dengan Feiyenya sendiri, semoga saja suatu hari nanti orang-orang yang jahat padanya bisa sadar dan tak melakukan hal jahat lagi," harap Song Lianyu.
"Iya, dan semoga saja rombongan Mu Chen dan Su Tian terbentur suatu hal sehingga membutuhkan bantuan Feiye. Biar dua orang itu kehilangan muka," ujar Han Shiyi sambil membayangkan hal itu, di mana Mu Chen dan Su Tian bersujud meminta pertolongan.
"Oh, jangan tanya, aku sangat mengharapkan itu, mereka itu jahat sekali seperti iblis," sahut Song Lianyu setuju.
"Oh, ya, kita bawakan juga kue osmanthusnya untuk mereka."
Han Shiyi meminta pelayan membungkus kue osmanthus untuk teman-teman yang lain.
***
Malam hari telah datang menggantikan sang matahari. Matahari sedang beristirahat, mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit lelah.
Long Feiye sedang berada di balkon kamarnya. Dia sedang memainkan suling. Suara serulingnya terdengar merdu dan menenangkan seolah bersatu dengan suara angin lembut dari alam.
Empat jam yang lalu Feiye pulang ke kamar asrama. Setelah mengantarkan batang kayu ke salah satu pengrajin untuk dijadikan pedang kayu.
Tiba-tiba pikirannya melayang ke masa kecilnya. Di mana sebelum Feiye dinyatakan tak bisa berkultivasi. Feiye menghentikan permainan sulingnya. Biarkan dia mengingat sekilas kenangan indah sebelum semuanya hancur berantakan tak bersisa lagi.
Saat itu Feiye kecil berumur enam tahun. Dia sedang berada di dalam kediaman Long tepatnya di samping taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Aroma bunga senantiasa tercium ketika setiap kali angin berembus.
Terlihat di tengah taman sang ayah(Long Feng Xi) sedang berlatih pedang dengan diiringi alunan musik yang dipetik sang ibu. Feiye kecil duduk di samping ibunya sambil mendengarkan suara musik yang merdu dan menenangkan, bersamaan dengan ayunan pedang ayah yang menyapu angin.
"Ye'er ketika kau dewasa nanti, kau harus bisa menjadi seperti ayahmu. Dan jika bisa harus di atas ayahmu," ujar wanita yang tampak cantik dengan balutan hanfu mewah.
"Baiklah, ibu, Ye'er akan seperti ayah ketika besar nanti," balas Feiye kecil dengan wajah polosnya.
"Bagus! Ibu yakin Ye'er tak akan mengecewakan ayah dan ibumu," ujar wanita yang telah melahirkan dan mengandung Feiye selama sembilan bulan lima belas hari.
"Ye'er, lihatlah gerakan pedang yang dilakukan oleh ayahmu. Apakah terlihat bagus?" Ibu kandung Feiye bertanya putra satu-satunya itu.
Feiye menatap arah yang dipinta oleh sang ibu. "Ya, ibu, gerakannya banyak sekali. Dan juga sangat cepat," komentarnya dengan wajah yang polos. Walaupun masih anak-anak, wajah yang merupakan perpaduan dari ayah dan ibu, sangatlah tampan. Setiap orang yang melihatnya akan merasa bahwa anak kecil berusia enam tahun itu adalah putra dewa sangking tampannya.
Kedua orang dewasa itu tertawa secara serempak ketika mendengar pernyataan polos putranya itu. Ah, putranya memang sangat menggemaskan.
Long Feng Xi menghentikan latihan pedangnya. Pedang disimpan ke dalam sarung khusus.
"Ketika Ye'er berusia delapan tahun, ayah akan mengajari semua teknik pedang yang ayah ketahui," ujar Long Feng Xi.
"Benarkah itu ayah?" tanya Feiye balik dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu saja Ye'er," balas Long Feng Xi sambil mengusap puncak kepala putranya itu.
"Ye'er, pasti akan menjadi orang yang dihormati seperti ayahmu," ujar wanita itu dengan yakin.
Namun harapan kedua orang tuanya yang digantungkan pada Long Feiye tak bisa dia lakukan. Ada rasa bersalah di dalam hatinya.
Lamunan Feiye terputus saat dia tak sengaja mendengar suara orang yang menginjak atap asrama.
"Siapa itu?" ujar Feiye, lalu berlari mengejar orang berpakaian serba hitam itu.
Aku merasakan lariku lebih cepat dari yang sebelumnya, ujar Feiye dalam hati.
Kemudian Feiye melihat orang berpakaian hitam itu terbang menuju ke atap bangunan yang lain.
"Kurasa para penjaga akan melihat orang asing itu," pikir Long Feiye. Lalu kembali ke dalam kamar asrama untuk beristirahat.
Feiye duduk di dekat Bai Quan, sedangkan Bai Quan sedang menyalin kitab norma peraturan. Bai Quan dihukum oleh guru karena masalah yang terjadi di dalam kantin.
"Maafkan aku Bai Quan, karena aku, kau yang terkena batunya," ujar Long Feiye yang merasa bersalah. Jika saja dia bisa berkultivasi, walaupun tingkat kultivasinya rendah, mungkin tak akan seperti ini jadinya.
"Sudahlah, tak apa. Aku baik-baik saja. Orang seperti Mu Chen itu memang harus diberi pelajaran, ah, rasanya aku masih kurang memukul wajahnya itu. Kalau bisa aku akan membuat wajahnya jadi kempot sebelah," ujar Bai Quan. Hal yang dilakukan yang menurut nya benar, tak pernah dia sesali setelah melakukannya.
Long Feiye mengambil kertas dan mengambil kuas untuk membantu meringankan beban Bai Quan.
"Yuwen Yue, apakah hukumannya sudah selesai dia laksanakan?" tanyanya pada Bai Quan yang sedang menulis.
"Belum, dia bilang sisa empat puluh salinan lagi yang belum," sahut Bai Quan.
"Punyamu sisa berapa salinan lagi?" tanya Long Feiye.
"Sisa lima belas salinan lagi," jawab Bai Quan.
Buku aturan norma terdiri dari dua puluh lembar lebih. Guru memberikan hukuman menyalin seratus lembar buku aturan norma. Tak terbayang tangan sepegal apa saat menulisnya.
"Kau pergi ke mana Feiye? Baru pulang sore tadi?" tanya Bai Quan.
Aku tak boleh memberitahu nya tentang pertemuan ku dengan guru Fang An, batin Long Feiye.
"Aku hanya pergi ke hutan untuk mencari kayu," ujar Long Feiye singkat.