"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya guru Fang An saat melihat anak didiknya berjalan mendekat.
"Aku merasakan tubuhku jauh lebih ringan dari yang sebelumnya, guru," jawab Long Feiye dengan jujur.
"Baguslah, tapi dua hari ke depan kau masih harus melakukan pengobatan sampai semua racun di dalam tubuhmu benar-benar hilang."
"Baiklah, Guru An."
"Feiye kemari.'' Fang An memberikan kode agar Long Feiye berjalan mendekat dan duduk di kursi yang telah tersedia.
"Ambillah ini, setiap kali kau ingin ke menemui guru, fokuskan pikiran dan kau akan masuk ke dalam sini." Fang An mengambil cincin berhiaskan batu hijau dari dalam lemari yang ada di dalam ruangan. Laki-laki dewasa itu menyodorkan cincin batu hijau pada Long Feiye.
"Baiklah, guru," jawab Feiye dengan patuh. Dia menyimpan cincin batu hijau ke dalam hanfunya.
**
Long Feiye membuka kedua matanya, yang di hadapan sekarang adalah tempat terakhir dia berdiri. Pepohonan yang rindang dan subur. Dia juga melihat keranjang yang berisi batang pohon yang dia tebang tadi.
"Apa yang tadi itu hanyalah mimpi?" ujar Long Feiye dengan ekpresi kebingungan.
Lalu dia tak sengaja melihat cincin berbatu hijau yang ada di tangan kanannya. "Cincin ini, ini artinya mimpi itu bukanlah sekedar mimpi. Itu adalah kenyataan."
Selain itu dia juga merasakan tubuhnya yang ringan seakan beban berat yang dia tanggung selama ini, menjadi lebih ringan.
Laki-laki berusia enam belas tahun itu mendongak ke atas dan betapa terkejutnya kalau hari sudah sore.
"Aku harus bersiap-siap untuk pulang," ujar Long Feiye.
Dia membawa keranjang ke punggungnya.
***
Sementara itu di tempat yang lain Song Feiye dan Han Shiyi baru saja selesai menghabiskan makanan mereka berdua. Saat ini mereka sedang makan kue osmanthus.
"Kue ini memang sangat enak," ujar Song Feiye dengan mulut penuh dengan makanan. Sampai Han Shiyi tertawa.
Song Lianyu menuangkan teh untuk dirinya sendiri, dia meminumnya sampai habis. "Oh, ya aku tidak melihat Feiye setelah pelajaran guru tadi," ujarnya.