Guru Fang An berjalan mengambil kain yang berisi jarum-jarum perak dari dalam lemari penyimpanan yang ada di dalam ruangan tersebut. Laki-laki dewasa itu membuka kain berukuran empat puluh lima centimeter. Terlihat ada banyak benda pipih nan tajam di dalamnya. Dia mengambil satu per satu jarum perak dan mulai menusukkan di titik-titik tertentu dengan hati-hati dan teliti, karena jika kita salah sedikit saja menusukkan jarum, maka akan menimbulkan cedera atau hal-hal yang buruk nantinya. Bisa saja orang akan kehilangan nyawa.
Feiye menahan rasa sakit saat guru Fang An menancapkan satu per satu jarum perak ke dalam kulit putihnya.
"Saat aku sudah menusukkan jarum ke dalam tubuhmu, kau tidak boleh sembarang mencabutnya karena hal ini sangatlah berbahaya," pesan guru Fang An yang dijawab anggukan setuju Long Feiye.
Dari tusukan jarum, muncul bau yang tidak sedap bersamaan dengan cairan berwarna hitam yang menyembur keluar secara perlahan. Cairan hitam itu lengket dan Feiye merasa tak nyaman dengan itu, namun dia tak boleh menarik jarumnya. Dia yakin hal yang dilakukan oleh sang guru pasti hal yang berguna baginya, pikirnya dengan yakin.
"Guru An, kenapa ada cairan hitam yang keluar dari kulitku?" tanya Long Feiye yang tak mengerti. Dia belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Siapa yang tak sakit jika kulit tubuhnya ditusuk jarum, orang yang banyak daging saja bisa merasakan sakit, apalagi orang yang tak punya daging dan kulit setebal sapi atau kudanil. Kalau kulit kudanil itu sangat tebal, mungkin saja tusukan pedang tak terasa kulitnya sangking tebalnya.
"Selesaikanlah sesi pengobatanmu dan jangan banyak bergerak dan berbicara. Nanti setelah selesai guru akan menjelaskannya," sahut guru Fang An.
"Baiklah guru An," balas Long Feiye dengan patuh.
Selama empat jam ruangan sepi tanpa pembicaraan sedikit pun, Guru An tampak sedang mempersiapkan barang-barang di atas meja berukuran sedang. Cairan hitam yang keluar semakin lama semakin banyak, dan cairan itu mengotori dan membasahi hanfu yang Long Feiye pakai. Kulitnya sangatlah lengket, seperti habis dilumuri dengan getah karet.
Guru Fang An mencabut satu per satu jarum perak dalam kulit murid pertamanya itu. Jarum perak dilumuri cairan lengket hitam mirip seperti oli. Dia menyimpan jarum perak ke dalam tempatnya semula setelah membersihkannya terlebih dahulu. Long Feiye merasa lega, semua jarum perak telah dicabut dari kulit tubuhnya.
"Sejak kapan kau punya musuh?" tanya guru Fang An secara tiba-tiba.
"Musuh? Maksud guru An?" tanya Long Feiye balik.
"Ya, musuh. Orang yang tak menyukaimu, atau orang yang membencimu," jelas sang guru.
"Sejak aku dinyatakan tak bisa berkultivasi, guru An." Pernyataan itu mengingatkannya pada beberapa tahun yang sudah lama berlalu. Sejak kata itu diucapkan semua hal indah yang pernah didapatkannya dulu semua berakhir berganti dengan hinaan dan cacian maki. Hampir semua orang menghina dan mencelanya, bahkan wanita yang telah melahirkannya pun meninggalkan dirinya sendiri karena merasa malu punya anak yang cacat dan tak bisa berkultivasi. Sedangkan sang ayah meninggal ketika berperang dengan iblis. Semua keluarga dari pihak ayah dan pihak ibu, pun tak mau mengakui Long Feiye sebagai keponakan, dan cucu mereka.m Long Feiye sebagai cucu pertama laki-laki di keluarga Long, bahkan hampir saja jatah uang bulanan ditiadakan. Hanya satu orang paman dari pihak keluarga Long, yang membela dan mengatakan "Long Feiye tetaplah bagian keluarga Long, dan tak boleh menghilangkan uang bulanan Feiye." Setelah diskusi, tak bisa dikatakan diskusi karena diikuti pertengkaran dan perdebatan, akhirnya uang bulanan Feiye tetap ada, meskipun hanya separuh. Mungkin hanya paman yang bersikap baik padanya. Jika paman tak membelanya saat itu, dia tak akan mendapatkan haknya.
"Baiklah, bersihkan dirimu dulu Feiye. Ruang pemandian ada di sana, ingat gunakan air yang hangat, jangan air yang dingin," pesan guru Fang An.
"Baiklah, guru," sahut Long Feiye. Dia bangkit dari posisi bersila, dan berjalan ke arah ruangan yang dimaksud sang guru.
***
Feiye melepaskan semua hanfu yang dia pakai, kecuali pakaian dalam. Dia melangkah masuk ke dalam bak pemandian yang sudah berisi air hangat. Bak terbuat dari kayu kualitas terbaik, biasanya hanya golongan ber-uang yang bisa memilikinya. Namun Feiye tak akan bertanya soal itu. Setelah cairan hitam keluar dari tubuhnya, Feiye merasa tubuhnya jauh lebih ringan dari yang sebelumnya. Seakan-akan beban telah diangkat dari tubuhnya.
Air bak pemandian yang semula berwarna putih dan jernih kini berubah warna menjadi hitam dan berbau busuk melebihi telur yang sudah disimpan berbulan-bulan. Melebihi bau makanan yang sudah basi.
Setelah mandi, Feiye keluar dari bak mandi. Dia mengambil hanfu putih yang tersedia. Dia berjalan kembali ke tempat ruangan yang semula.