Fang An meminta Long Feiye untuk duduk di atas ranjang dengan posisi bersila. Laki-laki dewasa itu sedang memeriksa denyut nadi Long Feiye, tepatnya di pergelangan tangannya. Dahinya mengernyit saat merasakan ada yang berbeda saat dia merasakannya. Seperti ada suatu cairan yang ikut mengalir di dalam aliran darah Long Feiye.
"Feiye, apakah ada seseorang yang pernah memasukkan suatu energi ke dalam tubuhmu?" tanya Fang An dengan melihat anak didiknya itu. Fang An untuk pertama kalinya mengambil seorang murid.
Long Feiye segera menggeleng. "Tak pernah guru An," jawabnya langsung. Karena memang nyatanya tak ada, jika saja ada yang berbaik hati memberikannya energi mungkin saja di bisa bisa berkultivasi sudah sejak lama.
Hanya ada satu cara untuk membuktikannnya. Cairan ini sepertinya sudah lama bercampur dengan darah Long Feiye. Jika orang lain yang memeriksa nya pasti merasa dalam darah Feiye tak ada apa-apa, batin Fang An dalam keheningan. Guru Fang An mengira mungkin itu adalah racun.
"Feiye, aku akan menusukkan jarum perak ke dalam kulitmu di beberapa bagian. Kau harus menahan rasa sakitnya untuk beberapa waktu," ujar guru Fang An terlebih dahulu. Tak bisa secara sembarang menusuk jarum tanpa memberitahu sang pemilik, itu juga menghindari dari rasa kaget dan juga terkejut. Ya, untuk beberapa orang ada yang menganggap jarum adalah benda pipih yang tajam, yang menakutkan.
"Baiklah, guru. Feiye akan menahan rasa sakitnya," sahut Feiye dengan mantap. Sebagai anak laki-laki dia harus lebih kuat dari anak perempuan.