Tepatnya di depan sebuah goa yang ukuran lumayan besar Feiye melihat ada seekor monyet dewasa yang tertimpa batu yang terus merintih kesakitan. Dengan cepat Feiye berlari, setiba di sana dia langsung meletakkan keranjang di dekatnya, pria itu dengan sekuat tenaga mencoba menggeser batu berukuran sedang tersebut sampai berhasil. Tangannya sampai lecet dan merah.
Monyet dewasa akhirnya bisa terbebas dari batu yang menindihnya, namun ekornya terluka.
Kenapa bisa monyet yang tak bersalah ini bisa tertimpa batu? Apakah ada orang yang sengaja melakukannya, batin Long Feiye bertanya-tanya.
"Monyet, ekormu terluka? Bagaimana ini aku tak tahu obat apa dan cara mengobatinya," ujar Long Feiye.
"Karena hal itu aku balut dulu ekormu dengan kain ya, supaya tak tambah parah lagi." Long Feiye merobek bagian bawah hanfu yang dia pakai, lalu membalut ekor monyet yang terluka.
Si monyet tampak lemas dan tak bertenaga, dia menatap Feiye seolah ingin meminta sesuatu yang bisa dimakan.
"Ah, iya, aku ingat, aku memetik beberapa buah. Aku akan mengambilnya dulu," sambungnya. Long Feiye mengambil beberapa buah seperti buah apel yang ranum dan beberapa buah pisang yang telah matang dan memberikan pada monyet. Monkey berbulu coklat muda itu memakannya dengan lahap. Melihat hal itu Long Feiye karena monkey menyukai buah-buahan yang dibawanya.
Feiye duduk di salah satu batang pohon yang sudah rubuh sambil menatap monkey makan. Saat Feiye menoleh sekilas ke kirinya karena ada suara buah busuk yang jatuh dari pohon. Ketika dia menoleh lagi ke depan si monyet coklat itu menghilang, membuatnya bertanya-tanya kemana kah gerangan si monkey.
Dia menatap ke sekitar dan yakin jika monkey mungkin jalannya tak jauh, ternyata dia tak menemukan apa pun. Feiye kemudian bangkit dari duduknya saat sebuah benda berbentuk bintang, warnanya emas dilihatnya. Saat Feiye menyentuh benda berbentuk bintang, secara tiba-tiba benda itu melesat ke dalam tubuhnya bersamaan dengan rasa sakit. Laki-laki itu berteriak kesakitan, rasanya sangat sakit seperti ribuan jarum menusuk kulitnya secara bersamaan. Tubuhnya seakan hancur dan remuk. Tak lama kemudian dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Ketika dia terbangun, Feiye sudah berada di dalam ruangan yang mewah dan indah.
Feiye terkejut karena melihat wajah seorang pria yang duduk di dekatnya itu. Dia tak pernah melihat wajah itu sebelumnya.
"Maaf, Tuan, anda siapa?" tanya Long Feiye dengan nada sopan.
"Jangan terkejut anak muda, baiklah aku akan perkenalkan namaku terlebih dahulu. Karena ada pepatah yang mengatakan tak kenal, maka tak sayang. Namaku Fang An, kau bisa panggil aku dengan sebutan guru."
Guru? ucap Feiye dalam hati.
Kenapa bisa begitu, pikirnya dengan kebingungan.
"Aku mengangkatmu sebagai muridku, apakah kau bersedia?" tanya Fang An menatap anak laki-laki berumur enam belas tahun yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Long Feiye sejenak berpikir, kemudian dia mengangguk mengiakan. Dia berpikir mungkin saja gurunya yang baru ini, mempunyai teknik untuknya yang tak bisa berkultivasi. "Long Feiye bersedia," ujarnya.
"Mulai sekarang, panggil aku dengan sebutan guru An atau guru Fang, panggilannya terserah padamu saja," sahut laki-laki dewasa yang sudah menjadi guru Long Feiye.
"Baiklah, guru An." Feiye mengatakannya sambil memberikan penghormatan pada Fang An.
"Oh, ya mengenai pemikiranmu tadi, Feiye. Aku memang punya teknik supaya kau bisa berkultivasi." Perkataan itu membuat keinginan Feiye tumbuh kembali, dia sangat ingin bisa sama seperti anak-anak yang lain, yang bisa berkultivasi.
"Bagaimana caranya guru An?" tanyanya dengan antuasias.