Pelajaran pedang melayang sudah setengah hari berakhir, namun Song Lianyu masih terus berlatih menerbangkan pedangnya.
Lianyu mengembuskan napas, dia tampak kelelahan. Keringat peluh membasahi dahi dan tubuhnya.
Dia meneguk secangkir air yang diberikan oleh Han Shiyi sampai habis tak bersisa. Han Shiyi setia menemani Song Lianyu.
"Lianyu, ayo istirahat dulu. Kau sudah sejak pagi sampai sekarang belum istirahat," ujar Han Shiyi.
"Tapi, aku belum bisa menerbangkannya," sahut Song Lianyu sambil menunjuk pedang kayu yang tergeletak di atas lantai.
"Baiklah, aku tahu, tapi kau harus istirahat dulu. Bagaimana kalau aku ajak kau ke salah satu kedai makan?" ajak Han Shiyi. Dia menunggu jawaban dari sahabatnya. Perutnya Shiyi juga berbunyi lapar. Perutnya sudah beberapa kali memainkan musik yang khas.
"Baiklah, aku setuju. Aku juga lapar sebenarnya," jawab Song Lianyu. Perutnya berbunyi lapar seakan menyetujui perkataan sang pemilik.
"Tapi aku mandi dulu, tidak enak kalau keluar bau keringat tercium orang," ujar Song Lianyu sambil tertawa.
"Ya lah mandi dulu pastinya. Tak perlu buru-buru," jawab Han Shiyi ikut tertawa.
***
Berbeda dengan laki-laki yang satu ini, Feiye setelah pelajaran gege Ding Yuxi. Dia memilih pergi ke hutan untuk mencari potongan kayu yang bagus untuk dibuat menjadi pedang. Di punggungnya ada keranjang rotan, dan juga alat pemotong kayu.
Di sekitar banyak barisan pohon-pohon dengan beragam ukuran, ada yang ukuran besar, ada yang berukuran kecil, dan ada pula yang berukuran sedang. Setelah mendapatkan batang pohon yang kiranya sesuai, dia memutuskan untuk memotongnya salah satu dahan yang rendah. Meletakkan dahan yang sudah dipotong ke dalam keranjang, dia melanjutkan perjalanannya.
Feiye mendengar suara seperti ada yang berada dalam masalah. Merasa penasaran dia mencari sumber suara itu. Ya, mungkin saja dia bisa menolongnya, pikir Feiye.