Gedung Pengadilan River City dibangun seratus tahun lalu dari batu kapur yang kini menghitam oleh asap kota. Pagi itu antrean di depan tangganya mengular sampai ke tikungan jalan, di bawah payung-payung hitam, sementara mobil siaran berita berjajar di seberang dengan antena terangkat seperti tiang kapal.
Perkara itu tercatat dengan nama yang kering di papan pengumuman lobi: Negara melawan Julian Crawford, Marcus Crawford, Jenderal Vance, dan Hakim Miller. Tetapi semua orang di antrean itu menyebutnya dengan nama yang dipakai kota selama sepuluh tahun untuk berbisik. Kebakaran Thorne.
Ethan masuk lewat pintu samping bersama dua petugas Kepala Pertahanan. Ia mengenakan setelan hitam sederhana, bukan setelan yang dulu ia pakai saat turun dari pesawat, melainkan setelan yang dibelikan Elena di toko biasa di distrik utara, dengan ukuran yang tidak dibuat untuk menyembunyikan apa pun. Liontin perak ada di lehernya, di balik kemeja. Kembarannya ada di saku dalam jasnya.
Ruang sidang utama penuh sampai ke balkon. Silas duduk di barisan kedua, tongkatnya tersandar di bangku, wajahnya sudah tidak pucat lagi. Elena duduk di bangku saksi yang terpisah, tangannya terlipat di pangkuan.
Di meja terdakwa, empat pria duduk berjajar.
Julian Crawford paling tua dan paling berubah. Jas mahalnya telah diganti jas pinjaman yang terlalu besar di bahu, dan tangannya gemetar sedikit ketika ia menuang air ke gelas. Ia tidak menoleh ke arah Ethan. Di sampingnya Marcus, kurus, rambutnya dipotong pendek ala tahanan, matanya merah. Lalu Jenderal Vance, tegak dan kaku dengan rahang terkunci. Lalu Hakim Miller, yang selama tiga puluh tahun duduk di kursi tinggi di gedung ini dan kini duduk di bawahnya, menatap meja di depannya seperti orang yang baru belajar membaca.
Kursi kelima, kursi yang dulu disediakan untuk Sang Arsitek di meja makan ayah Ethan, kosong. Volkov sedang menunggu sidangnya sendiri di pengadilan federal. Kesaksiannya sudah dibacakan pekan lalu, tiga jam penuh, dan sudah diberitakan di setiap saluran.
Hakim ketua masuk. Semua berdiri, lalu duduk.
"Sebelum kita mendengar saksi berikutnya," kata hakim ketua, seorang perempuan berambut putih dengan kacamata baca di ujung hidung, "pengadilan menerima permohonan dari penuntut umum mengenai satu barang bukti yang selama ini berada di bawah kendali pribadi saksi. Tuan Thorne, silakan maju."
Ethan berdiri dan berjalan ke depan. Ia mengeluarkan ponsel lipat murah yang layarnya retak, ponsel yang sama dengan yang ia bawa dari terowongan London ke dataran garam dan kembali lagi.
"Yang Mulia," katanya. "Tiga bulan lalu saya memasang sistem yang akan mengirim seluruh bukti Pembantaian Thorne kepada setiap kantor berita besar bila saya tidak melapor setiap dua puluh empat jam. Saya memasangnya karena saya tidak percaya ada ruangan di negara ini yang mau mendengarkannya." Ia berhenti. "Saya memintanya dimatikan di ruangan ini, karena sekarang ada ruangan yang mau mendengarkan."
Hakim ketua mengangguk. Ethan membuka ponsel itu dan mengetik enam angka. Kode yang sama dengan tanggal lahir ibunya. Lalu enam angka lain, yang hanya pernah ia ketik sekali di kepalanya, pada malam ia memasang saklar itu.
Satu baris balasan muncul di layar. Ethan memperlihatkannya kepada panitera, lalu kepada hakim.
Saklar dinonaktifkan. Pengiriman dibatalkan.
Lalu ia mengeluarkan sebuah drive kecil berlapis logam dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja panitera. "Ini isinya. Semuanya. Termasuk nama-nama orang yang tidak bersalah, yang kebetulan tercantum di dalamnya. Saya serahkan kepada pengadilan untuk memutuskan apa yang dibuka kepada publik dan apa yang dilindungi."
Panitera mencatat nomor drive itu dan menyegelnya di depan semua orang.
Di barisan kedua, Silas menghembuskan napas panjang yang terdengar sampai ke depan.
Saksi berikutnya adalah Marcus Crawford.
Ia berjalan ke kursi saksi dengan pengawalan, mengucapkan sumpah dengan suara yang hampir tidak terdengar, lalu duduk. Penuntut umum, jaksa bertubuh kecil yang dulu duduk di ruang tengah rumah aman sampai lewat tengah malam, berdiri di depannya.
"Tuan Crawford, ceritakan kepada pengadilan apa yang terjadi pada malam kebakaran."
Marcus menatap meja terdakwa, ke arah ayahnya. Julian Crawford tidak membalas tatapannya.
"Ayah membangunkan saya pukul sebelas malam," kata Marcus. "Ia bilang kami harus mengantar sesuatu. Ada dua jeriken di bagasi mobil. Saya bertanya isinya apa. Ia bilang jangan bertanya." Suaranya pecah. "Saya tujuh belas tahun. Saya tidak bertanya lagi."
Ia bicara selama satu jam. Tentang rumah besar bergaya Victoria yang lampunya masih menyala ketika mereka tiba. Tentang orang-orang bayaran yang sudah menunggu. Tentang pintu-pintu yang dikunci dari luar, dan tentang ayahnya yang menyuruhnya berjaga di gerbang, dari mana ia tetap melihat ayahnya menyalakan korek api, dan tentang suara yang ia dengar dari gerbang itu. Tentang mobil polisi yang tidak pernah datang. Tentang ayahnya yang tertawa di mobil dalam perjalanan pulang, dan dirinya yang ikut tertawa karena takut.
"Kenapa Anda tertawa?" tanya jaksa.
"Karena kalau saya tidak tertawa," jawab Marcus, "saya akan menangis, dan Ayah akan tahu saya lemah."
Ruang sidang sunyi sekali. Di balkon, seseorang terisak pelan.
Elena bersaksi sesudah makan siang. Ia menceritakan semuanya, persis seperti yang ia janjikan di depan Kepala Pertahanan. Kode brankas. Senapan mesin ringan yang tidak kosong di lantai bank. Amplop-amplop yang ia antar selama empat tahun tanpa ia buka. Pesta ulang tahun perusahaan, ayahnya yang mabuk, dan senyumnya sendiri kepada tamu-tamu sesudahnya. Lalu tinta hijau di memo yang ia temukan di dataran garam.
Pengacara pembela berusaha membuatnya terlihat seperti perempuan yang menyelamatkan diri sendiri dengan menjual orang mati. Elena mendengarkan setiap pertanyaannya sampai habis sebelum menjawab.
"Kalau saya ingin menyelamatkan diri," katanya, "saya akan menerima tawaran paspor baru dari pria yang membunuh ayah saya. Saya tidak menerimanya. Saya di sini, dengan nama saya sendiri."
Pengacara itu tidak punya pertanyaan lagi.
Ethan menjadi saksi terakhir hari itu.
Ia duduk di kursi saksi dan menatap ruang sidang. Ia melihat wajah-wajah asing yang menunggu, kamera-kamera yang dilarang masuk tetapi berderet di luar jendela, orang-orang tua di balkon yang mungkin pernah mengenal ayahnya. Ia melihat Silas, yang mengangguk sekali. Ia melihat Elena, yang tidak bergerak.
Jaksa bertanya kepadanya tentang malam itu.
"Saya lima belas tahun," kata Ethan. "Saya terbangun karena bau asap. Pintu kamar saya tidak bisa dibuka. Saya keluar lewat jendela ke atap teras, lalu jatuh ke halaman ketika balok atap runtuh. Bahu saya robek." Ia berhenti. "Saya mendengar ayah saya memanggil nama ibu saya. Lalu saya tidak mendengarnya lagi. Saya merangkak melalui pipa drainase di ujung taman mawar ibu saya, karena itu satu-satunya jalan yang tidak dijaga."
"Apa yang Anda lihat dari sana?"
"Dua orang berjalan ke mobil di gerbang. Satu laki-laki dewasa. Satu anak yang lebih tua dari saya." Ethan menatap meja terdakwa. "Mereka tertawa. Yang lebih muda berteriak ke arah rumah bahwa dunia ini milik mereka yang merebutnya."
Marcus menunduk. Julian Crawford akhirnya mengangkat wajah dan menatap Ethan, untuk pertama kalinya sejak sidang dibuka. Tidak ada apa pun di matanya selain kelelahan.
Ethan menatapnya kembali. Ia menunggu kebencian datang, seperti yang selalu datang selama sepuluh tahun. Yang datang hanya rasa lelah yang sama.
"Saya tidak punya pertanyaan lagi, Yang Mulia," kata jaksa.
Hakim ketua menunda sidang sampai pekan berikutnya.
Di luar, hujan sudah berhenti. Wartawan berteriak menanyakan sesuatu dari balik garis polisi ketika Ethan menuruni tangga. Ia tidak menjawab. Elena berjalan di sebelah kirinya, Silas di sebelah kanannya dengan tongkat yang mengetuk anak tangga.
"Bagaimana rasanya?" tanya Elena, mengulang pertanyaan yang pernah ia ajukan di mobil gurun.
Ethan memikirkannya.
"Seperti meletakkan sesuatu yang berat," katanya. "Dan baru tahu seberapa berat sesudah diletakkan."