Untuk beberapa saat tidak ada jawaban. Lalu terdengar bunyi kursi digeser di lantai, langkah pelan, dan suara yang sama dengan yang ia dengar di terowongan King William Street, kini lebih serak dan lebih lelah.
"Subjek A-1." Uskup mengucapkannya seperti orang mengucapkan nama lama yang disukainya. "Kau datang sendiri ke pintuku. Aku tersanjung."
"Kau yang memanggil."
"Aku memanggil, dan kau datang. Itulah yang selalu kusukai darimu, Ethan. Kau patuh, bahkan saat kau mengira sedang memberontak." Ia tertawa kecil, lalu terbatuk. "Duduklah, kalau ada kursi di luar sana. Kita punya waktu."
"Satu jam," kata Ethan. "Sesudah itu orang lain yang memutuskan."
"Orang lain selalu memutuskan. Itu pelajaran pertama di tempat ini."
Ethan tetap berdiri. Ia menyandarkan bahu ke dinding di samping pintu baja itu, menjauhkan rusuknya dari tepi kusen. Di ujung koridor, Silas berdiri bersama komandan tim, dan Elena menunggu beberapa langkah di belakang mereka. Tidak ada yang mendekat.
"Kau tahu apa yang ada di ruangan ini?" tanya Uskup.
"Arsip."
"Arsip," ulang Uskup, seolah kata itu terlalu kecil. "Sembilan tahun pekerjaan, dan riset yang lebih tua dari itu. Setiap dosis, setiap rekrutan, setiap pembayaran. Siapa yang menandatangani apa. Siapa yang tahu dan memilih diam. Ada map di sini dengan nama ayahmu di sampulnya, Ethan. Catatan risetnya yang asli, sebelum Volkov mengganti judulnya. Ayahmu ingin membuat veteran lumpuh berjalan lagi. Kau tahu itu?"
"Aku tahu."
"Dan di sebelahnya ada map lain. Lebih tipis. Tanggal di sampulnya kau hafal." Jeda. "Aku tidak menyalakan api malam itu. Aku tidak berada di River City. Tetapi aku sudah membaca map itu berkali-kali. Aku tahu siapa yang mengusulkan tanggalnya, siapa yang menyetujuinya, siapa yang membayar bensinnya. Aku tahu siapa yang memastikan polisi tidak datang."
Ethan diam.
"Aku bisa memberikannya padamu," kata Uskup, lebih pelan. "Bukan kepada negara. Kepadamu. Nama-nama yang belum kau temukan. Mereka masih hidup, Ethan. Beberapa masih makan malam di restoran yang sama, masih menyekolahkan cucu di sekolah yang sama. Mereka tidur nyenyak."
"Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Karena aku ingin melihat apa yang kubangun." Suara di balik pintu berubah, hampir lembut. "Buka pintunya. Masuklah. Aku akan memberikan semuanya. Lalu kau boleh melakukan apa yang selama sepuluh tahun kau impikan. Kepadaku dulu, kalau kau mau. Aku tidak akan melawan. Lenganku patah, bahuku hancur dihantam lokomotif itu. Aku sudah selesai. Kau bisa menuntaskannya dengan tanganmu sendiri, tanpa saksi, tanpa pengadilan, tanpa pengacara Volkov yang tersenyum."
Ethan memejamkan mata.
Ia bisa membayangkannya dengan sangat jelas. Itulah masalahnya. Ruangan berbau bahan bakar, seorang pria kurus di kursi, nama-nama di atas kertas, dan sepuluh tahun yang akhirnya dibayar lunas. Ia sudah membayangkannya ribuan kali, di barak, di kapal, di hutan, di tepi sungai yang jauh dari rumah. Bayangan itulah yang membuatnya tetap berjalan ketika alasan lain habis.
"Kau ingin aku masuk," kata Ethan, "karena orang-orang di ujung koridor ini akan melihatku keluar dengan darah di tangan. Dan semua yang ada di ruangan itu akan jadi barang bukti dari tempat pembunuhan."
"Kau terlalu banyak berpikir sekarang. Dulu kau tidak begitu."
"Dulu kalian menyuntikku sampai aku berhenti takut." Ethan membuka mata. "Rasa takut kembali, Uskup. Pelan-pelan. Dan bersamanya kembali hal-hal lain. Aku takut kehilangan orang. Aku takut menjadi orang seperti kalian."
Hening panjang di balik pintu.
"Ayahmu juga takut," kata Uskup akhirnya. "Itu sebabnya ia kalah."
"Ayahku kalah karena ia memercayai teman sekamarnya." Ethan menatap pintu baja itu. "Kau mau bicara soal kalah? Mari bicara soal Thomas Sterling."
Tidak ada jawaban.
"Sterling ditangkap. Ia bisa bicara. Jadi seseorang masuk ke selnya dan ia tidak pernah bicara lagi. Elena bilang itu pekerjaan pembersih." Ethan berhenti sejenak. "Kau pembersihnya, Uskup. Kau tahu cara Hesperus membereskan orang yang gagal, karena kaulah yang melakukannya."
Masih hening. Tetapi Ethan mendengar napas di balik pintu berubah, lebih pendek.
"Sekarang lihat dirimu," lanjutnya. "Kau kehilangan buku catatanmu di terowongan. Kau kehilangan London. Hari ini kau kehilangan Tungku. Siapa yang akan dikirim Direktur untuk membereskanmu? Kau sudah memikirkan wajahnya, bukan? Kau mungkin yang melatihnya sendiri."
"Hati-hati, Ethan."
"Kau memintaku masuk dan membunuhmu karena kau tahu itu cara mati yang lebih baik daripada menunggu orangmu sendiri. Kau ingin memilih caranya. Aku mengerti. Tapi aku tidak akan memberikannya." Ethan menekan telapak tangannya ke pintu yang dingin. "Kau akan keluar dari ruangan itu dengan kakimu sendiri. Kau akan naik helikopter yang bukan milikmu. Kau akan duduk di ruangan yang dijaga orang-orang yang tidak bisa dibeli Direktur, dan kau akan hidup cukup lama untuk mengulang semua yang baru saja kau katakan padaku, di depan hakim."
"Dan kalau aku menolak?"
"Maka kau membakar dirimu bersama map ayahku, dan Direktur tidak perlu mengirim siapa pun. Kau menghemat pekerjaannya." Suara Ethan tetap datar. "Itu pilihanmu. Bukan pilihanku. Aku sudah memilih."
Lama sekali tidak ada bunyi apa pun. Di ujung koridor, komandan tim melirik jam tangannya. Silas berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuh. Elena tidak bergerak sama sekali.
Lalu terdengar bunyi kecil yang jelas: tutup pemantik logam yang ditutup.
"Kau tahu yang lucu?" kata Uskup. Suaranya kini sangat pelan. "Aku menulis di laporanku bahwa kau adalah hasil terbaik kami. Respons takut nol. Kepatuhan penuh. Dan sekarang kau berdiri di luar pintuku, takut, membangkang, dan menolak membunuhku." Ia tertawa sekali, tanpa nada. "Mungkin ayahmu memang tidak kalah."
Kunci di balik pintu berputar.
Ethan mundur tiga langkah dan mengangkat kedua tangannya agar terlihat kosong. Komandan tim dan dua prajuritnya bergerak maju dari ujung koridor, senjata diarahkan ke lantai.
Pintu baja itu terbuka perlahan. Bau bahan bakar menyerbu keluar. Uskup berdiri di ambangnya, lebih kurus daripada yang Ethan ingat, mantel abu-abunya kotor oleh debu dan noda gelap. Lengan kirinya tergantung di kain gendongan, dan separuh wajahnya masih tertutup perban yang menguning. Tangan kanannya terbuka, telapaknya menghadap ke depan. Pemantik itu tergeletak di lantai di belakangnya.
Ia menatap Ethan, lalu menatap orang-orang di belakang Ethan.
"Subjek A-1," katanya sekali lagi, kali ini seperti mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu.
"Namaku Ethan Thorne," jawab Ethan.
Prajurit-prajurit itu memegang lengan kanan Uskup, memborgolnya di depan tubuh karena lengan kirinya tidak bisa ditarik ke belakang, dan menggiringnya menyusuri koridor putih. Ia berjalan tanpa melawan, dengan punggung tetap lurus.
Ketika ia lewat di depan Elena, ia memperlambat langkah. "Nona Sterling. Ayahmu akan malu."
"Bagus," jawab Elena.
Uskup dibawa keluar, ke cahaya pagi dan suara baling-baling yang mulai berputar lagi.
Ethan tetap berdiri di koridor. Tangannya, yang tadi ia angkat untuk menunjukkan bahwa ia tidak bersenjata, masih setengah terangkat. Ia menurunkannya perlahan dan menyadari bahwa jari-jarinya gemetar.
Silas sampai di sampingnya lebih dulu. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, bahunya menyentuh bahu Ethan, seperti yang dulu ia lakukan di malam-malam setelah operasi yang buruk.
"Aku hampir masuk," kata Ethan pelan.
"Aku tahu," jawab Silas. "Tapi kau tidak masuk."