Mereka membuka semua jendela di sayap barat dan menyalakan kipas-kipas besar yang ditemukan di gudang. Butuh hampir satu jam sampai bau bahan bakar cukup tipis untuk dimasuki tanpa masker. Selama itu, jeriken-jeriken dikeluarkan satu per satu oleh prajurit bersarung tangan tebal dan dijajarkan jauh di tengah halaman, di bawah matahari yang mulai memanggang.
Komandan tim mengatur segalanya dengan ketenangan orang yang sudah terlalu sering melakukannya. Dua petugasnya akan memotret setiap rak sebelum disentuh. Satu orang mencatat. Tidak ada map yang keluar dari ruangan tanpa nomor.
"Atasan Anda minta saya membiarkan Nona Sterling ikut memeriksa," katanya pada Ethan, di ambang pintu baja. "Katanya ia bisa membaca kode keuangan Hesperus lebih cepat dari siapa pun di tim saya. Saya tidak suka orang luar di ruang barang bukti. Tapi saya lebih tidak suka bekerja seminggu untuk sesuatu yang bisa selesai dalam sehari."
"Dia akan bekerja di bawah aturan Anda," kata Ethan.
"Saya tahu. Saya yang menentukannya." Komandan itu menatap Elena. "Sarung tangan. Tidak ada yang dipindahkan tanpa difoto. Semua yang Anda salin, Anda salin di depan petugas saya."
Elena mengangguk dan mengenakan sarung tangan karet.
Ruang arsip lebih besar daripada yang Ethan duga. Rak-rak logam berjajar dari lantai ke langit-langit, penuh map tebal bersampul abu-abu dengan label tulisan tangan. Di satu sudut ada meja kerja dengan lampu baca dan kursi yang tadi diduduki Uskup. Asbak di atas meja itu penuh. Di lantai, di sekitar kaki kursi, tumpahan bahan bakar mengering menjadi noda gelap.
Elena berjalan menyusuri rak tanpa bicara, membaca label satu per satu. Ethan tetap di dekat pintu. Ia tahu ia seharusnya membantu, tetapi kakinya tidak mau masuk lebih jauh.
"Angkatan," gumam Elena, menyentuh satu deret map. "Angkatan pertama sampai ketujuh. Pembayaran. Pemasok. Ini," jarinya berhenti pada label yang ditulis dengan tinta biru pudar, "ini tulisan yang berbeda."
Petugas memotret raknya, lalu memotret mapnya, lalu mengizinkan Elena menariknya keluar. Map itu tebal, tepinya menguning dan melengkung karena usia. Di sampulnya tertulis dua kata dengan huruf tegak yang rapi.
Resonansi Saraf.
Di bawahnya, lebih kecil: A. Thorne.
Ethan tidak ingat kapan ia melangkah. Ia hanya menyadari dirinya sudah berdiri di samping meja, menatap tulisan itu. Ia mengenali huruf R yang ekornya melengkung terlalu panjang. Ia pernah melihatnya di kartu ulang tahun, di catatan yang ditempel di pintu kulkas, di surat izin karyawisata sekolah.
Elena membuka map itu dengan hati-hati. Halaman pertama adalah surat pengantar, diketik di atas kertas berkop laboratorium kecil di River City, ditujukan kepada sebuah yayasan veteran.
Elena membacanya pelan, setengah berbisik, supaya petugas pencatat bisa mendengar.
"Tujuan penelitian ini adalah memulihkan sambungan antara keinginan dan gerak pada pasien yang kehilangannya karena cedera. Banyak dari mereka masih ingin berjalan. Tubuh mereka hanya lupa caranya. Saya percaya kita bisa membantu tubuh itu mengingat."
Ia berhenti. Ethan menatap halaman itu dan tidak berkata apa-apa.
Di halaman-halaman berikutnya, tulisan tangan Arthur Thorne memenuhi pinggir kertas. Pertanyaan, coretan, tanda seru. Lalu, di sepertiga terakhir map, tulisan lain mulai muncul di samping catatan Arthur. Lebih tajam, lebih miring. Kalimat-kalimat pendek yang mengubah kata "pemulihan" menjadi "penekanan", kata "pasien" menjadi "subjek".
"Ini tulisan Volkov," kata Elena. "Aku pernah melihatnya di amplop-amplop yang kubawa."
Petugas memotret halaman itu dua kali.
Map kedua ada di rak yang sama, tepat di sebelahnya, seperti yang dikatakan Uskup. Lebih tipis. Sampulnya hanya berisi satu tanggal. Ethan tidak perlu membacanya untuk tahu tanggal apa itu.
Elena menatapnya. "Kau mau aku yang membuka?"
"Buka," kata Ethan.
Isinya hanya tujuh lembar. Sebuah memo pendek berjudul Penyelesaian Aset Thorne, ditujukan kepada Dewan. Paragraf pertama menyebut bahwa riset Arthur Thorne telah "dialihkan secara lengkap" dan bahwa "pemilik asal menolak kerja sama lanjutan serta mengancam membawa masalah ini kepada pihak berwenang". Paragraf kedua menyebut tanggal, dan kalimat bahwa "penanganan akan dibuat menyerupai kecelakaan rumah tangga". Paragraf ketiga menyebut bahwa kepolisian distrik akan "dialihkan oleh panggilan lain" selama dua jam.
Di bawahnya ada lima kotak persetujuan. Empat diisi inisial dengan tinta berbeda-beda. J.C. untuk Julian Crawford. Inisial Jenderal Vance, tegak dan kaku seperti tanda tangan di surat perintah. Inisial Hakim Miller, kecil dan hati-hati. Dan satu lagi, ditulis dengan tinta hijau dan huruf yang sangat rapi: T.S.
Kotak kelima, di bagian paling bawah, berisi satu huruf V dengan garis panjang di bawahnya. Di sampingnya, seseorang menulis dengan tangan: Pelaksanaan diserahkan kepada keluarga Crawford.
Elena berhenti membaca.
Ruangan menjadi sangat sunyi. Kipas di koridor terus berputar, dan dari halaman terdengar suara baling-baling sebuah helikopter yang lepas landas, makin jauh, lalu hilang.
"Itu tulisan ayahku," kata Elena. Suaranya tidak gemetar. Justru terlalu tenang. "Tinta hijau. Ia selalu memakai tinta hijau untuk menandatangani sesuatu yang menurutnya penting. Katanya itu warna uang."
Ethan menatap huruf T dan S itu. Selama sepuluh tahun ia membayangkan wajah-wajah di meja makan ayahnya, tersenyum. Ia tahu nama-nama itu. Tetapi melihat persetujuan atas kematian keluarganya ditulis di kotak kecil, rapi, dengan tinta pilihan, terasa seperti dihantam sesuatu yang lebih berat daripada lokomotif.
"Kau sudah tahu," kata Ethan. "Kau bilang di dermaga."
"Aku tahu dari mulut ayahku yang mabuk." Elena menatap kertas itu. "Ini berbeda. Ini membuatnya tidak bisa ditarik lagi."
Petugas pencatat berdeham pelan. "Nona Sterling, kalau Anda perlu waktu..."
"Tidak." Elena menarik napas, lalu mengeluarkan kamera kecil tanpa sambungan internetnya dari tas selempang. Ia memasang kartu memori baru yang masih terbungkus plastik dan menunjukkan kemasannya kepada petugas sebelum membukanya. "Saya salin sekarang. Di depan Anda. Setiap halaman dua kali."
Ia bekerja selama tiga jam berikutnya. Map Arthur, map tanggal itu, map pembayaran yang mencatat transfer dari Vane & Sterling Holdings ke rekening-rekening kamp, map daftar rekrutan dari tujuh angkatan. Ia membaca kode keuangan dengan cepat, menunjuk baris-baris yang cocok dengan buku besar London dan manifes Oslo, dan petugas pencatat menulis semuanya. Ketika satu kartu penuh, ia memasang kartu berikutnya, dengan cara yang sama.
Ethan duduk di kursi lipat dekat pintu, sejauh mungkin dari kursi Uskup. Ia tidak membaca apa-apa lagi. Ia hanya mendengarkan suara rana kamera yang berbunyi berulang-ulang, seperti hujan kecil.
Menjelang sore, seorang prajurit muncul di ambang pintu, napasnya terengah.
"Tuan Thorne. Teman Anda."
Ethan berdiri terlalu cepat dan rusuknya menjerit. Ia mengabaikannya.
Silas tergeletak di bawah naungan truk di halaman tengah, wajahnya kelabu, kemejanya basah oleh keringat. Seorang petugas medis berlutut di sampingnya, menggunting perban lama di sekitar rusuknya. Kulit di bawahnya merah dan bengkak.
"Ia pingsan saat membantu memindahkan peti," kata petugas medis. "Lukanya meradang. Sudah berapa lama dibiarkan?"
"Sejak River City," jawab Ethan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Lebih dari tiga minggu."
"Dan ia tidak bilang apa-apa?"
"Dia tidak pernah bilang apa-apa."
Mata Silas terbuka setengah. Ia menatap Ethan dan mencoba tersenyum. "Kau jangan... memasang wajah itu."
"Wajah apa?"
"Wajah yang kau pasang... tiap kali kau kira aku tidak akan bangun lagi." Silas memejamkan mata lagi. "Aku cuma lelah, Tuan."
Petugas medis menancapkan jarum infus ke lengan Silas dan memberi isyarat pada dua prajurit untuk mengangkat tandu. "Kami terbangkan dia bersama rekrutan yang paling lemah. Ada rumah sakit lapangan dua jam dari sini."
Ethan berjalan di samping tandu sampai ke pintu helikopter. Ia memegang tangan Silas sepanjang jalan. Silas tidak membalas genggamannya, tetapi juga tidak melepasnya.
Ketika pintu helikopter ditutup, Ethan berdiri di tengah debu garam yang beterbangan, menatap mesin itu naik, dan menyadari bahwa rasa takut yang dulu menyergapnya di brankas River City datang lagi, kali ini tanpa tugas yang bisa mengalihkannya: ia benar-benar takut kehilangan seseorang.
Rasa takut itu tidak membuatnya lumpuh. Rasa takut itu membuatnya ingin pulang.