Mereka datang dari timur, membelakangi garis tipis cahaya yang baru muncul di cakrawala.
Ethan mendengarnya lebih dulu daripada melihatnya. Dengung berlapis-lapis, beberapa mesin sekaligus, makin keras sampai batu di bawah perutnya ikut bergetar. Lalu bayangan-bayangan itu muncul di atas dataran garam, rendah dan cepat, dan lampu sorot dari udara menyapu kamp seperti siang yang dipaksakan datang terlalu awal.
Dari punggung bukit, semua terjadi tanpa suara manusia. Hanya mesin, angin, dan sesekali bunyi pendek yang terpantul jauh di dataran, terlalu jauh untuk diketahui apa. Sebuah sirene di dalam kamp meraung, lalu berhenti di tengah nada. Lampu-lampu sayap barat padam serentak. Di gerbang selatan, sebuah truk yang mencoba keluar berhenti mendadak, berbelok, dan miring ke parit di pinggir jalan.
Silas memegang teropong dengan kedua tangan. Bibirnya bergerak, menghitung sesuatu yang tidak ia ucapkan.
Elena tidak memakai teropong sama sekali. Ia hanya menatap, lengannya memeluk lutut.
Ethan merasakan setiap detik seperti batu yang ditaruh di dadanya, satu demi satu. Di bawah sana ada empat puluh orang yang tidak bisa takut. Ia tahu apa artinya. Orang yang tidak bisa takut tidak tahu kapan harus tiarap. Ia memikirkan tiga rekrutan dari angkatannya yang meninggal karena "kecelakaan latihan", dan memikirkan bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa dari atas bukit ini selain menunggu, dan bahwa menunggu adalah pilihan yang ia ambil sendiri.
Ia tetap di tempat.
Dua puluh menit kemudian, sirene terakhir berhenti. Asap tipis naik dari salah satu sudut kamp, kelabu di langit yang mulai biru, lalu menipis dan hilang. Helikopter-helikopter mendarat satu per satu di halaman tengah, dan baling-balingnya melambat.
Sunyi.
Telepon satelit bergetar. Suara yang keluar bukan suara Kepala Pertahanan, melainkan suara seorang perempuan yang tegas dan kering, berbicara dengan aksen yang tidak bisa Ethan tebak.
"Tuan Thorne? Saya memimpin tim di bawah. Atasan Anda di ibu kota bilang Anda bisa mengenali orang-orang di sini." Jeda. "Dan ada satu orang yang menolak keluar sebelum bicara dengan Anda."
Mereka turun dengan mobil gurun, pelan, menyusuri jalan yang dulu Ethan tempuh dengan berlari. Di gerbang, dua prajurit berseragam gurun tanpa lambang Hesperus menghentikan mereka, memeriksa wajah mereka dengan senter, lalu mempersilakan masuk.
Kamp itu tampak lebih kecil dari dekat. Lebih kotor juga. Di halaman tengah, orang-orang berseragam abu-abu duduk di atas tanah dalam kelompok-kelompok kecil, berselimut termal perak yang berkilat di bawah cahaya pagi. Petugas medis bergerak di antara mereka, memeriksa mata, menempelkan alat di jari, mencatat.
Rekrutan-rekrutan itu tidak menangis. Tidak ada yang bertanya apa yang terjadi. Mereka duduk dan menunggu diperintah, dan karena tidak ada yang memerintah, mereka terus menunggu.
Elena berhenti melangkah. "Mereka tidak tahu harus berbuat apa," bisiknya.
"Mereka belum pernah diberi kesempatan untuk tahu," jawab Ethan.
Di sisi lain halaman, para penjaga kamp duduk berjajar dengan tangan terikat di belakang punggung. Beberapa berdarah di pelipis atau hidung. Satu orang terbaring di atas tandu dengan kaki dibebat papan. Mereka menatap ke tanah, kecuali satu.
Pria itu besar, wajahnya penuh bekas luka lama dan beberapa yang baru. Ia duduk dengan satu kaki terjulur kaku ke depan, terbungkus penyangga logam, kaki yang patah belum sebulan lalu dan jelas belum sembuh. Ketika Ethan lewat, ia mengangkat wajah dan tersenyum miring.
"Thorne."
Ethan berhenti. "Miller."
"Sudah kubilang pada Direktur kau terlalu keras kepala untuk mati." Kolonel Miller menggeser kakinya yang kaku dan meringis. "Kau tahu berapa lama aku harus belajar berjalan lagi sesudah kau melemparku dari pesawat itu?"
"Kau masih hidup," kata Ethan. "Itu lebih dari yang kau berikan pada orang-orang di rumahku."
Senyum Miller memudar sedikit. "Aku tidak ada di sana malam itu."
"Tapi kau ada di sini." Ethan menatap rekrutan-rekrutan di bawah selimut perak. "Setiap hari."
Miller membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ethan meninggalkannya.
Komandan tim menunggu di depan bangunan putih. Perempuan itu berusia empat puluhan, rambutnya diikat ketat, wajahnya terbakar matahari. Ia tidak menyebut nama dan Ethan tidak bertanya.
"Kami menemukan tiga ruangan dengan persediaan obat biru," katanya tanpa basa-basi. "Disegel semuanya. Truk-truk yang sempat keluar sudah dihentikan di jalan selatan. Tidak ada korban jiwa di pihak rekrutan." Ia menatap Ethan. "Dua penjaga mencoba membakar gudang dokumen di sayap timur. Kami memadamkannya. Sebagian sudah hangus."
"Dan Uskup?"
Komandan itu menunjuk pintu baja di ujung koridor sayap barat. "Ruang arsip utama. Ia mengunci diri di dalam sejak tim kami masuk. Ada beberapa jeriken bahan bakar yang dibawa masuk sebelum kami tiba. Ia punya pemantik. Katanya, kalau kami mendobrak, yang terbakar hanya dirinya dan kertas-kertas itu." Ia berhenti. "Kertas-kertas itulah yang dibutuhkan atasan Anda. Kalau kami mendobrak, ia membakar. Kalau kami menunggu, ia juga mengancam membakar."
"Apa yang dia minta?"
Komandan itu mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku rompinya, robekan dari buku catatan. Tulisan tangan yang rapat dan miring. Ethan mengenalinya dari ratusan halaman di Bermondsey.
Hanya Subjek A-1.
Silas mengumpat pelan di belakangnya. "Ethan, tidak. Dia memancingmu. Itu satu-satunya hal yang dia bisa lakukan dengan baik."
"Aku tahu," kata Ethan.
"Kalau begitu jangan lakukan."
"Dia tidak bisa memancingku ke mana pun," kata Ethan. "Pintunya terkunci dari dalam. Aku akan berdiri di luar." Ia menoleh pada komandan tim. "Aku hanya bicara. Lewat pintu. Orang-orang Anda tetap di tempat."
Komandan itu menimbang, lalu mengangguk sekali. "Saya beri Anda satu jam. Sesudah itu, keputusan ada di tangan saya."
Ethan berjalan menyusuri koridor sayap barat. Lantainya keramik putih, dindingnya putih, lampunya putih. Ia melewati sebuah pintu yang terbuka dan melirik ke dalam tanpa sengaja.
Ruangan itu berisi deretan kursi bersandaran tinggi, masing-masing dengan sabuk di lengan kursinya. Di dinding ada lemari kaca berisi botol-botol kosong, kini dibungkus pita kuning bertanda segel. Lampu di langit-langit terlalu terang, seperti dulu.
Ethan berhenti di ambang pintu. Ia tidak masuk. Ia berdiri di sana cukup lama sampai Elena, yang mengikutinya beberapa langkah di belakang, menyentuh lengannya.
"Ini ruangannya," kata Elena. Bukan pertanyaan.
"Dulu hanya ada enam kursi," jawab Ethan.
Ia memalingkan wajah dan melanjutkan langkah ke ujung koridor, ke pintu baja kelabu yang tertutup rapat. Di baliknya, samar-samar, tercium bau bahan bakar.
Ethan mengetuk dua kali.
"Uskup," katanya. "Aku di sini."