Silas menurunkan teropongnya lebih dulu. Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama, hanya mengusap debu dari lensa dengan ujung kemejanya, seolah kotoran di kaca itulah yang membuat pemandangan di bawah mereka salah.
"Mereka tidak meninggalkannya," katanya akhirnya. "Mereka memperbesarnya."
Ethan tetap menatap. Dari punggung bukit, Tungku tampak kecil dan rapi, seperti mainan yang diletakkan di atas taplak putih. Tetapi ia tahu ukuran sebenarnya. Ia pernah berlari mengelilingi dataran itu sampai paru-parunya terbakar. Dulu hanya ada barak kayu, satu menara air, dan bangunan rendah berdinding putih yang tidak boleh didekati tanpa dipanggil. Sekarang bangunan putih itu menjulurkan sayap ke dua arah, dan di halaman tengahnya, di bawah lampu sorot, ada orang-orang yang berbaris.
Ia memutar cincin fokus. Wajah-wajah itu menjadi jelas. Laki-laki dan perempuan, kebanyakan baru lewat dua puluh, berseragam abu-abu tanpa lencana. Mereka berdiri diam ketika diperintah diam dan bergerak serentak ketika diperintah bergerak. Tidak ada yang menoleh ke arah suara truk. Tidak ada yang menggaruk lengan, menguap, atau berbisik ke orang di sebelahnya.
Ethan mengenali cara berdiri itu. Ia pernah berdiri seperti itu.
"Berapa?" tanya Elena di sampingnya. Ia berbaring tengkurap di atas batu yang masih menyimpan panas siang, teropong kecil di tangannya.
"Empat puluh, mungkin lebih," jawab Silas. "Itu yang di luar."
Di sisi timur kamp, deretan truk bak tertutup berbaris dengan mesin menyala. Orang-orang berseragam lain, yang bergerak dengan cara biasa dan karena itu jelas bukan rekrutan, memuat peti-peti ke bak truk. Peti kayu, peti logam, lemari arsip yang diikat tali. Sebuah forklift mengangkut sesuatu yang dibungkus terpal.
"Pindahkan sebelum musim angin," gumam Elena. "Mereka sedang berkemas."
"Lebih cepat dari perkiraanku," kata Silas. "Mereka tahu bukunya hilang. Mereka tidak menunggu angin."
Ethan menurunkan teropong. Tangannya tenang, tetapi ada sesuatu di dalam dadanya yang bergerak, sesuatu yang dulu tidak ada di sana. Ia menatap barisan anak-anak muda itu dan memikirkan pertanyaan yang tidak ingin ia ucapkan. Peti bisa dimuat ke truk. Lemari arsip bisa dibakar. Lalu apa yang dilakukan Hesperus dengan empat puluh bukti yang bisa berbicara?
Silas membaca wajahnya, atau mungkin sedang memikirkan hal yang sama. "Ethan."
"Aku tahu."
"Kau tidak tahu apa yang akan kukatakan."
"Kau akan bilang aku tidak bisa turun sendirian. Kau akan bilang rusukku belum sembuh, mereka lebih banyak, dan kalau aku tertangkap di bawah sana, semua yang kita bawa dari London tidak ada artinya." Ethan menatap lurus ke depan. "Dan kau benar."
Silas mengerjapkan mata. Elena menoleh perlahan.
"Kalau tujuh tahun lalu, waktu kau baru mengenalku," kata Ethan, "aku sudah setengah jalan menuruni bukit ini."
"Tujuh tahun lalu kau tidak tahu cara takut," kata Silas pelan.
"Sekarang aku tahu." Ethan mengulurkan tangan. "Kamera."
Silas membuka tas dan mengeluarkan kamera berlensa panjang yang ia bawa dari London, terbungkus kain agar kacanya tidak memantulkan cahaya. Ethan tidak memotret pagar atau menara. Ia memotret wajah. Barisan rekrutan di bawah lampu. Seorang perempuan muda yang tangannya diperban. Dua pria berseragam yang menggiring seorang rekrutan yang berjalan terseok, menopangnya di kedua lengan. Truk-truk yang dimuat. Lambang di pintu salah satu truk: huruf H yang dililit ular.
"Bawa bukti, bukan mayat," katanya, mengulang kalimat dari surat Kepala Pertahanan. "Ini buktinya. Orang-orang itu masih hidup. Kita pastikan tetap begitu."
Silas sudah menyiapkan telepon satelit di atas batu. Antenanya mengarah ke langit yang mulai bertabur bintang. Ia memindahkan foto-foto itu dari kamera, memilih yang paling jelas, lalu mengirimnya satu per satu. Setiap kiriman memakan waktu lama. Setiap kali indikator di layar merangkak, Ethan merasa waktu yang sama sedang dipakai orang-orang di bawah sana untuk memuat satu peti lagi.
Pukul sembilan malam, ponsel itu bergetar. Silas menyerahkannya.
"Jenderal." Suara Kepala Pertahanan terdengar jauh dan berderak. "Saya sudah melihatnya."
"Kau bilang dua belas jam."
"Saya bilang saya bisa meminta izin dalam dua belas jam. Saya sudah memintanya sejak pagi, begitu Anda melapor tiba di landasan. Pemerintah setempat tidak senang ada fasilitas asing di wilayah mereka yang tidak pernah mereka setujui. Itu membantu kita." Jeda. "Foto-foto yang menunjukkan truk berlambang Hesperus membantu lebih banyak lagi."
"Mereka sedang mengosongkan tempat itu. Malam ini."
"Saya tahu. Tim gabungan sudah di udara. Mereka akan tiba sebelum fajar."
"Sebelum fajar terlalu lama."
Hening di ujung sana. Ketika Kepala Pertahanan berbicara lagi, suaranya lebih pelan.
"Jenderal, saya akan mengatakan ini sekali saja. Kalau Anda turun ke sana malam ini, orang-orang saya akan tiba di tempat yang sedang terbakar, dengan Anda di tengahnya. Hesperus akan punya cerita yang sudah mereka siapkan sejak River City: seorang tentara bayaran gila menyerang fasilitas pelatihan swasta. Dan anak-anak muda yang Anda foto itu akan menjadi korban dalam cerita mereka, bukan saksi dalam cerita kita." Ia berhenti. "Anda sudah membawa saya bukti. Biarkan saya membawa mereka keluar."
Ethan menatap lampu-lampu di dataran. Satu truk mulai bergerak, merangkak keluar gerbang dan menghilang ke jalan tanah yang mengarah ke selatan.
"Satu truk baru keluar ke selatan," katanya.
"Kami melihatnya. Jalan itu hanya punya satu ujung. Ia tidak akan jauh."
Sambungan terputus. Ethan mengembalikan telepon itu kepada Silas, dan untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Lalu bunyi itu datang dari barat, rendah dan berdebar. Sebuah helikopter hitam terbang rendah di atas dataran, lampunya dimatikan sampai detik terakhir, lalu menyala dan menyorot halaman tengah. Rekrutan-rekrutan di bawah tidak bergerak meskipun debu garam beterbangan menampar wajah mereka.
Helikopter itu mendarat. Pintunya terbuka. Seorang pria kurus turun lebih dulu, mantel abu-abunya berkibar diterpa angin baling-baling. Lengan kirinya digendong dengan kain. Ia berjalan dengan punggung lurus, tidak tergesa, seperti orang yang datang memeriksa pekerjaan bawahannya.
Ethan tidak membutuhkan teropong untuk mengenalinya.
Ia merasakan tangannya mengepal di atas batu. Jaraknya hampir satu mil. Terlalu jauh untuk apa pun. Tetapi tubuhnya tetap mengukur, menghitung, mencari jalan turun. Itu kebiasaan yang ditanamkan di dataran ini, oleh orang-orang yang kini bekerja untuk pria bermantel abu-abu itu.
Elena meletakkan tangannya di atas kepalan Ethan. Tidak menekan. Hanya meletakkannya di sana.
"Dia datang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal," katanya pelan.
"Aku tahu."
"Kalau begitu kita juga di sini untuk itu," kata Elena. "Untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Termasuk dia."
Ethan menatap Uskup memasuki bangunan putih. Pintu tertutup di belakangnya. Di halaman, rekrutan-rekrutan itu dibubarkan dan digiring masuk ke barak dengan langkah yang sama rata.
Ia membuka kepalan tangannya perlahan.
Malam itu mereka bergantian berjaga di punggung bukit. Silas tidur lebih dulu, bersandar pada roda mobil gurun dengan selimut di atas lututnya. Ethan dan Elena duduk berdampingan di balik batu, mengamati lampu-lampu yang satu per satu dipadamkan di sayap timur dan dinyalakan di sayap barat, seperti seseorang yang berjalan dari ruangan ke ruangan sambil membawa lilin.
Pukul tiga pagi, telepon satelit bergetar sekali. Satu baris pesan dari Kepala Pertahanan.
Empat puluh menit. Tetap di tempat.
Ethan membangunkan Silas. Lalu ia kembali ke balik batu, mengangkat teropong, dan menunggu fajar yang dijanjikan.