Kapal kargo itu bernama Santa Lúcia, mengangkut mesin pertanian bekas dan pipa baja, dan kaptennya hanya punya satu aturan: penumpang yang tidak terdaftar makan di dapur dan tidak keluar ke dek saat siang. Mereka berlayar dari Tilbury dengan kabut menutupi muara, dan selama tujuh hari berikutnya dunia menyempit menjadi kabin bersekat besi, getaran mesin, dan bau solar.
Ethan menghabiskan hari pertama dengan tidur. Ia tidak memutuskannya. Tubuhnya memutuskan untuknya, begitu kapal meninggalkan perairan Inggris dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia terbangun dua belas jam kemudian dengan mulut kering dan rusuk yang berdenyut, dan mendapati Silas duduk di ranjang seberang, membaca ulang foto-foto buku Uskup di laptopnya.
"Kau mendengkur," kata Silas. "Seperti lokomotif perawatan."
"Sudah berapa lama?"
"Cukup lama sampai aku melapor ke Saklar Mati atas namamu. Kode itu terlalu mudah ditebak, omong-omong. Tanggal lahir ibumu."
Ethan menatapnya. Silas mengangkat bahu. "Aku letnanmu selama tujuh tahun. Aku tahu kau lebih sentimental daripada yang kau akui."
Hari-hari berikutnya mereka jalani dengan rutinitas yang Silas susun seperti jadwal operasi. Pagi, latihan napas yang membuat Ethan merasa bodoh: tarik pelan, tahan, embuskan, sampai rusuknya berhenti menolak. Siang, peta. Sore, berjalan bolak-balik di lorong kabin selama setengah jam, lalu satu jam, lalu dua. Elena menghabiskan waktunya di dapur kapal, menulis. Ia menulis keterangannya untuk Kepala Pertahanan dengan tangan, di buku tulis bergaris yang ia beli di toko kapal, dan setiap malam ia merobek halaman yang menurutnya terlalu membela diri, lalu menulisnya ulang.
Pada hari kelima, Ethan bisa mengangkat lengan kanannya di atas kepala tanpa melihat bintang. Pada hari keenam, ia melakukan dua puluh push-up di lantai kabin, dan Silas berpura-pura tidak melihat wajahnya pucat sesudahnya.
"Kau belum pulih," kata Silas.
"Aku sudah cukup pulih."
"Itu dua kalimat yang berbeda. Kau dulu yang mengajariku bedanya."
Pada malam ketujuh, Santa Lúcia membuang sauh di pelabuhan kecil yang berbau ikan asin dan aspal panas. Mereka turun lewat tangga pilot saat bulan belum terbit. Seorang pria tua dengan truk bak terbuka menunggu di ujung dermaga. Dulu ia pengemudi konvoi bantuan di salah satu perang tempat Ethan bertugas, dan sekali waktu Ethan menariknya keluar dari truk yang terbakar. Ia tidak bertanya ke mana mereka akan pergi. Ia hanya mengantar mereka ke landasan udara tua di luar kota, tempat sebuah pesawat baling-baling bermesin ganda menunggu dengan lampu dimatikan.
Penerbangan itu memakan waktu empat jam, rendah di atas perbukitan, lalu di atas sesuatu yang lebih datar dan lebih kosong. Ethan duduk di dekat jendela. Saat matahari terbit, cahayanya memantul dari tanah di bawah mereka dengan warna yang menyakitkan mata: putih, berkilau, retak-retak seperti kulit tua.
Dataran garam.
Ia mencium baunya sebelum pesawat mendarat. Udara kering yang menempel di tenggorokan, mineral dan debu, dan di baliknya sesuatu yang tidak bisa ia namai tetapi langsung ia kenali. Bau itu menyeretnya mundur sembilan tahun, ke dalam kabin pesawat lain, ke dalam tubuh seorang anak enam belas tahun yang tangannya masih berbekas luka bakar.
Saat itu mereka dua puluh orang, duduk berhadap-hadapan di bangku besi pesawat angkut, tidak saling bicara. Seorang pria bertubuh besar dengan seragam tanpa lencana berjalan di antara mereka dan menatap wajah satu per satu. Ketika sampai di depan Ethan, ia berhenti lebih lama.
"Kau yang dari kebakaran itu," katanya. Bukan pertanyaan. "Kau akan berterima kasih pada kami suatu hari nanti."
Ethan mengerjapkan mata. Pesawat baling-baling menyentuh landasan tanah dengan guncangan keras, dan ingatan itu pecah seperti kaca.
"Kau baik-baik saja?" tanya Elena di sampingnya.
"Aku pernah ke sini," jawab Ethan. Hanya itu yang bisa ia katakan.
Landasan itu bekas pangkalan pengintaian yang sudah lama ditinggalkan, hanya hanggar setengah runtuh dan menara air berkarat. Pilot menurunkan barang-barang mereka, menerima amplop dari Silas, dan lepas landas lagi tanpa mematikan mesin. Dalam lima menit, satu-satunya suara di dunia adalah angin yang menggiring pasir di atas aspal retak.
Silas sudah mengatur kendaraan lewat orang yang ia kenal dari masa lalunya: sebuah mobil gurun tua berdinding kanvas yang disembunyikan di dalam hanggar, dengan jeriken air dan bahan bakar terikat di atapnya. Ia memeriksa mesinnya dengan wajah orang yang tidak sepenuhnya percaya pada janji siapa pun.
"Koordinat di buku Uskup berjarak lima puluh lima mil ke timur," katanya. "Kita bisa sampai di punggung bukit sebelah utara sebelum gelap, kalau mobil ini tidak mati di tengah jalan."
"Dan kalau mati?" tanya Elena.
"Kita berjalan. Dan kalian berdua menggendongku."
Mereka berangkat di bawah matahari yang memukul seperti palu. Ethan mengemudi, karena ia satu-satunya yang pernah melintasi dataran ini. Ia tidak membutuhkan peta. Tubuhnya ingat. Di sini ada cekungan tempat truk latihan terbalik. Di sana ada batu besar berbentuk tinju tempat mereka berlari bolak-balik sampai salah satu rekrutan pingsan. Di setiap mil, ingatan muncul tanpa diminta, dan setiap ingatan datang tanpa rasa takut yang seharusnya menyertainya. Itulah yang paling mengganggunya. Ia mengingat semua itu seperti membaca laporan tentang orang lain.
"Bagaimana rasanya?" tanya Elena, setelah satu jam tanpa percakapan. "Waktu itu. Tidak takut."
Ethan memikirkan jawabannya. "Seperti berdiri di dalam ruangan tanpa pintu dan tidak merasa perlu keluar."
"Kau masih seperti itu?"
"Tidak." Ia memindahkan gigi untuk mendaki lereng berbatu. "Rasa takut kembali beberapa tahun kemudian, sedikit demi sedikit. Pertama dalam mimpi. Lalu dalam hal-hal kecil." Ia tidak mengatakan bahwa rasa takut yang paling besar kembali hampir tiga minggu lalu, di sebuah brankas di River City, saat ia membaca nama Silas di daftar target. Ia tidak perlu mengatakannya.
Saat matahari mulai rendah, mereka mencapai punggung bukit batu yang memanjang di utara dataran garam. Ethan memarkir mobil di balik bongkahan batu dan mereka merangkak naik dengan teropong.
Kamp itu seharusnya sudah mati. Ethan mengira akan melihat barak kosong, pagar roboh, dan pasir yang menelan semuanya.
Yang ia lihat adalah lampu.
Puluhan lampu, menyala satu per satu saat senja turun, membentuk segi empat yang rapi di tengah dataran putih. Pagar baru, berlapis dua. Menara-menara ramping di setiap sudut. Dan di tengahnya, bangunan rendah yang dulu hanya satu ruangan, kini membentang seperti sayap: Tungku.