Paket itu datang pukul sepuluh malam, dibawa seorang remaja kurir bersepeda yang tidak tahu apa pun selain alamat dan ongkos yang sudah dibayar tunai. Petugas binatu di lantai bawah mengetuk pintu atas dan menyerahkan kantong kertas cokelat dengan wajah bosan. "Untuk penghuni lantai atas," katanya, lalu kembali ke mesin-mesinnya.
Di dalam kantong hanya ada sebuah ponsel murah, baterainya penuh.
Silas meletakkannya di tengah meja seperti orang meletakkan bom. Elena mundur selangkah. Ethan, yang sejak sore duduk di sofa dengan rusuk terbebat, menatap benda itu tanpa bergerak.
Ponsel itu berdering.
Ethan mengulurkan tangan, menekan tombol pengeras suara, dan tidak berkata apa-apa.
"Selamat malam, Ethan." Suara Uskup terdengar lebih serak daripada di terowongan, seperti orang yang berbicara melalui rahang yang sakit. "Kuharap tulang rusukmu lebih baik daripada bahuku. Lokomotif itu tidak sopan."
"Kau seharusnya ke rumah sakit."
"Aku sudah ke tempat yang lebih baik dari rumah sakit." Jeda. "Nona Sterling ada di sana? Tentu saja ada. Aku ingin bicara dengannya."
Elena menatap Ethan. Ethan mengangguk sekali.
"Aku mendengarkan," kata Elena.
"Nona Sterling, aku menyesal soal ayahmu. Itu keputusan yang diambil di atas kepalaku, dan aku hanya pelaksana. Aku tahu kau meminta Ethan sebuah kehidupan baru. Identitas, perlindungan, tempat yang jauh. Dia tidak bisa memberimu itu. Dia bahkan tidak bisa memberikannya kepada dirinya sendiri." Suaranya merendah, hampir ramah. "Aku bisa. Namamu dihapus dari daftar kami malam ini juga. Paspor baru, rekening yang bersih, dan tidak ada lagi orang yang mengetuk pintumu dengan masker gas. Yang kuminta hanya buku kecilku."
Elena diam begitu lama sehingga Silas melirik ke arahnya.
"Ayahku menerima tawaran seperti itu dari kalian," katanya akhirnya. "Kekayaan, perlindungan, tempat di meja. Dia berakhir di sel tahanan dengan racun di tenggorokannya."
"Ayahmu serakah. Kau hanya ketakutan. Itu berbeda."
"Aku memang ketakutan," jawab Elena. "Tapi aku sudah selesai dibeli."
Hening sejenak di ujung sana. Lalu Uskup tertawa kecil, tanpa kehangatan.
"Ethan, sampaikan pada temanmu Silas bahwa namanya masih ada di daftar yang sama dengan nama ayahmu. Kau sudah membaca daftar itu di brankas. Beberapa nama di sana sudah dicoret orang-orangku. Aku tidak keberatan menyelesaikan yang lain."
"Kau tidak akan menyentuhnya."
"Tengah malam," kata Uskup. "Itu batas waktunya. Taruh buku di depan pintu binatu, lalu pergi. Kalau tidak, aku akan datang mengambilnya, dan aku tidak akan sesopan malam ini."
Sambungan terputus.
Silas sudah mengangkat ponsel itu, membongkar casing belakangnya dengan obeng kecil. "Bersih. Tidak ada pelacak di sini. Dia tidak butuh pelacak di ponsel ini. Dia sudah tahu alamatnya." Ia mendongak tajam ke arah Elena. "Kartu identitas kontraktormu dari Royal Exchange. Masih kau simpan?"
Elena merogoh tas peralatannya dan mengeluarkan kartu plastik bertali. Silas mengambilnya, menekuknya di bawah lampu, lalu mengumpat pelan.
"Ada cip di dalamnya. Perusahaan kontraktor gedung itu milik Vane & Sterling Holdings. Kau membawa suar sejak keluar dari Southwark."
Wajah Elena memucat. "Aku tidak tahu."
"Aku juga tidak memeriksanya," kata Silas. "Itu salahku, bukan salahmu. Sekarang tidak penting."
Ethan sudah berdiri, memakai jaket dengan gerakan lambat karena rusuknya. "Sekarang jam berapa?"
"Sepuluh lewat dua puluh."
"Dia tidak akan menunggu tengah malam," kata Ethan. "Dia menelepon supaya kita sibuk berpikir. Dia sudah di bawah."
Lampu di kamar padam.
Mesin cuci di lantai bawah berhenti serentak, dan keheningan yang tiba-tiba itu lebih nyaring daripada ledakan. Dari tangga terdengar langkah berat, lebih dari dua orang, bergerak tanpa tergesa. Silas menyambar laptopnya. Elena memasukkan buku catatan ke tas selempangnya dan mengikat talinya menyilang di dada.
"Atap," kata Ethan.
Jendela kamar mandi terlalu kecil untuk Silas, jadi mereka keluar lewat pintu darurat di ujung lorong, menuju tangga besi yang menempel di dinding luar. Silas naik lebih dulu dengan lutut yang berderak. Elena di tengah. Ethan di belakang, satu tangan di pegangan, satu tangan memegang pistol.
Pintu kamar di belakang mereka didobrak. Cahaya senter membanjiri lorong. Seorang pria bermasker gas dan berpakaian abu-abu muncul di ambang pintu darurat tepat saat Ethan mencapai anak tangga ketiga.
Ethan tidak menembak. Suara tembakan akan membangunkan seluruh blok dan membawa polisi London tepat ke tempat buku itu berada. Ia menendang pintu besi ke arah pria itu dengan seluruh berat tubuhnya. Benturannya menghantam masker dan bahu lawannya sekaligus. Pria itu terhuyung ke belakang, ke lorong, dan rusuk Ethan meledak dengan rasa sakit putih yang membuatnya nyaris melepas pegangan.
"Ethan!" Elena memanggil dari atas.
"Terus naik!"
Di atap, hujan membuat permukaan aspal licin seperti kaca. Dua Petugas Kebersihan lain sudah menunggu di sana. Mereka naik lewat bangunan sebelah. Yang pertama menerjang Silas, dan Silas jatuh berlutut, laptop terlepas dari tangannya. Yang kedua bergerak ke arah Elena dan tasnya.
Elena tidak mundur. Ia menunggu sampai pria itu cukup dekat, lalu lututnya menghantam sisi tubuh lawannya dua kali, cepat dan keras, seperti yang Ethan rasakan sendiri di lantai brankas River City. Pria itu tidak jatuh. Toleransi rasa sakitnya terlalu tinggi, seperti para pembersih di pelabuhan. Tetapi ia kehilangan keseimbangan di aspal licin, dan Elena mendorongnya ke cerobong ventilasi. Kepalanya membentur logam. Ia berhenti bergerak.
Ethan mencapai atap dan menghantam pria yang menindih Silas dengan gagang pistol, satu kali, tepat di belakang telinga. Pria itu ambruk menimpa laptop.
"Bisa berdiri?" tanya Ethan.
"Lututku bisa. Harga diriku tidak," gerutu Silas, menarik laptopnya keluar dari bawah tubuh yang pingsan itu.
Mereka menyeberang ke atap sebelah lewat papan kayu yang disandarkan para pembersih sendiri, lalu turun lewat tangga darurat bangunan lain ke gang belakang. Ethan berjalan paling akhir, dan sebelum masuk gang, ia menoleh ke jalan depan.
Di seberang binatu, sebuah sedan abu-abu parkir dengan mesin menyala. Lampu jalan menerangi kursi belakangnya. Uskup duduk di sana, lengan kiri digendong, separuh wajahnya tertutup perban. Ia tidak melihat ke arah gang. Ia sedang melihat jendela kamar mereka yang gelap, menunggu orang-orangnya turun membawa buku.
Jaraknya empat puluh yard. Ethan masih memegang pistol. Satu tembakan dan semuanya selesai.
Ia mengangkat senjata itu setengah jalan.
"Ethan." Suara Elena, rendah dan tegang, dari mulut gang. Silas bersandar padanya, lututnya tidak sanggup lagi menahan berat. "Kita harus pergi. Sekarang."
Ethan menatap sedan itu satu detik lagi. Lalu ia menurunkan pistolnya, berbalik, dan menyelipkan bahunya di bawah lengan Silas yang lain.
Mereka berjalan menembus hujan, bertiga, setengah menyeret satu sama lain. Di tikungan kedua, Ethan mengeluarkan ponsel lipat dari sakunya dan mengetikkan enam angka. Hampir dua puluh dua jam sejak laporan terakhirnya di atas binatu.
Saklar Mati menerima kodenya. Bukti tetap terkunci, untuk satu hari lagi.
Di belakang mereka, sebuah sedan abu-abu akhirnya melaju pergi, tanpa buku, tanpa tawanan.