Silas datang pukul tujuh pagi, lewat pintu belakang binatu, membawa dua kantong plastik belanjaan dan langkah yang lebih pincang daripada yang Ethan ingat. Wajahnya masih menyimpan memar kekuningan dari River City, dan perban di tulang rusuknya mengintip dari balik kerah kemeja. Ia meletakkan kantong di meja, menatap Ethan dari ujung kepala sampai kaki, lalu menghela napas panjang.
"Kau terlihat seperti orang yang ditabrak lokomotif."
"Uskup yang ditabrak lokomotif," jawab Ethan. "Aku cuma jatuh ke karung pasir."
"Duduk tegak. Angkat lengan kananmu pelan-pelan."
Ethan menurut. Silas menekan dua jari di sisi rusuknya, dan Ethan mendesis. Silas menekan di tempat lain, lebih rendah. Kali ini Ethan tidak bersuara, tetapi rahangnya mengeras.
"Satu retak, mungkin dua," kata Silas. Dulu ia petugas medis lapangan sebelum menjadi apa pun yang lain. "Tidak ada yang bergeser. Kalau bergeser, kau sudah batuk darah. Kau perlu dua minggu tanpa melompat dari gedung."
"Kita tidak punya dua minggu."
"Kalau begitu kita punya dua minggu yang buruk." Silas membongkar kantongnya: roti, kopi instan, perban elastis, obat pereda nyeri, dan sebuah laptop berlapis karet. "Mana bukunya?"
Elena meletakkannya di meja. Silas tidak langsung menyentuhnya. Ia mengenakan sarung tangan karet dari kotak obat, baru membuka sampulnya. Sepanjang setengah jam berikutnya, ruangan hanya diisi dengung mesin cuci dan suara halaman yang dibalik.
"Uskup orang yang rapi," gumam Silas akhirnya. "Ini bukan buku harian. Ini buku kerja. Lihat." Ia menunjuk kolom-kolom berkode. "Ini jadwal kiriman katalis. Kodenya sama dengan manifes Nord-Vatn yang kita salin di Florida. Oslo, London, Rio, Tokyo. Dan ini," jarinya bergeser ke halaman lain, "pembayaran. Formatnya cocok dengan buku besar Alistair."
"Jadi dia menghubungkan ketiga sel," kata Elena.
"Dia penghubungnya. Logistik, keuangan, sains. Uskup bukan sekadar pembersih. Dia satu-satunya orang yang berdiri di ketiga ruangan sekaligus."
Silas membalik ke bagian belakang buku, ke halaman-halaman dengan tinta lebih tua. Ia berhenti. Lalu ia membaca ulang baris yang sama, bibirnya bergerak tanpa suara. Ethan melihat perubahan di wajahnya dan tahu sebelum Silas berbicara.
"Apa?" tanya Elena.
Silas memutar buku itu supaya Ethan bisa membacanya. Halamannya berjudul TUNGKU, ANGKATAN PERTAMA. Di bawahnya ada daftar pendek dengan kode dan inisial. Baris paling atas berbunyi:
Subjek A-1. E.T. 16 th. Respons takut: tidak terukur sejak dosis keempat. Nama lapangan: ARES.
Ruangan terasa lebih sempit. Elena menoleh pada Ethan, lalu kembali ke halaman itu, lalu ke Ethan lagi.
"Kau tahu tentang ini," katanya pelan.
"Aku tahu tentang kampnya," jawab Ethan. Suaranya datar, tetapi tangannya menggenggam tepi meja. "Sejak bank aku tahu mereka memakai penelitian ayahku. Aku tidak tahu akulah yang pertama."
Ia tidak berencana bercerita. Kata-kata itu keluar sendiri, satu per satu, seperti peluru yang dikeluarkan dari luka.
"Sesudah kebakaran, aku terbangun di rumah sakit. Dua hari kemudian, dua pria datang. Mereka bilang mereka utusan seorang sahabat lama ayahku. Mereka bilang orang-orang yang membakar rumahku masih mencari, dan satu-satunya tempat aman adalah tempat yang tidak bisa mereka masuki." Ethan menatap halaman itu. "Sahabat lama itu Volkov. Aku baru tahu malam aku membobol bank."
"Lalu gurun," kata Silas.
"Lalu, sesudah hampir setahun dipindah-pindah, gurun. Sebuah kamp di tepi dataran garam. Kami dua puluh orang, kebanyakan lebih tua dariku, semuanya tidak punya keluarga untuk dicari. Pagi latihan, sore pemeriksaan. Ada ruangan putih tempat mereka menyuntikkan sesuatu yang mereka sebut vitamin. Warnanya biru." Ethan berhenti. "Sesudah suntikan keempat, mimpi tentang api berhenti. Aku tidak takut lagi. Pada apa pun. Mereka menyebutnya kemajuan. Komandan kamp mulai memanggilku Ares."
Elena tidak berkata apa-apa. Silas melepas sarung tangannya perlahan.
"Tiga dari dua puluh orang itu meninggal di tahun pertama," lanjut Ethan. "Kata mereka kecelakaan latihan. Aku percaya, karena tidak takut berarti juga tidak curiga. Setahun kemudian aku dikirim ke medan perang pertama. Lalu yang berikutnya. Volkov mengira peluru akan menyelesaikan pekerjaan api." Ia mengangkat wajah. "Dia tidak tahu dia sudah membuatku terlalu sulit dibunuh."
"Dan sekarang Sel Tiga ada di sana," kata Elena.
"Tungku," Silas mengetuk kata itu. "Kamp latihanmu adalah dapur percobaannya. Kau bukan cuma prajurit mereka, Ethan. Kau buktinya. Hasil pertama yang berhasil."
Ethan berdiri. Rusuknya memprotes, tetapi kali ini ia tidak peduli. Ia berjalan ke jendela tinggi dan menatap tembok bata basah di seberangnya. Selama sepuluh tahun ia mengira 'Ares' adalah nama yang ia peroleh. Ternyata nama itu label pada botol.
"Kalau Uskup menulis 'pindahkan sebelum musim angin'," katanya tanpa berbalik, "berarti mereka akan mengosongkan Tungku. Mereka tahu buku ini hilang."
"Musim angin di dataran garam mulai sekitar tiga minggu lagi," kata Silas, sudah mengetik di laptopnya. "Kalau catatanku benar."
"Kalau begitu kita punya tiga minggu."
"Kita punya tiga minggu, satu rusuk retak, satu lutut tuaku, dan tidak ada pesawat," koreksi Silas. "Dan wajahmu sudah ada di berita pagi. Rekaman kamera Stasiun Bank. Setengah wajah, tapi cukup."
Elena menyalakan televisi kecil di sudut tanpa suara. Teks berjalan di bawah layar menyebut "tersangka utama insiden bawah tanah" dan "kemungkinan terkait kelompok ekstremis". Gambar buram seorang pria melompati pintu putar.
Ethan menatapnya lama. Lalu ia mengeluarkan ponsel lipat dari saku dan mencari satu nomor yang belum pernah ia hubungi balik.
"Siapa?" tanya Elena.
"Orang yang meneleponku di hari pertama aku pulang. Aku menyuruhnya menunggu."
Nada sambung berbunyi tiga kali. Lalu suara yang sama dengan sepuluh hari lalu, berat dan tenang, terdengar di ujung sana.
"Jenderal." Kepala Pertahanan tidak terdengar terkejut. "Kupikir Anda sedang sibuk membakar kota."
"Kotaku sudah cukup terbakar," jawab Ethan. "Aku butuh jalur yang bisa memeriksa bukti tanpa menghilangkannya. Dan aku butuh perlindungan untuk seorang saksi."
Hening sejenak. "Itu permintaan yang aneh dari orang yang meretas siaran publik River City."
"Aku tahu."
"Volkov ada di tahanan federal dan belum mengucapkan satu kalimat pun selain nama pengacaranya. Badan Intelijen Nasional menyebut Anda teroris domestik. Kepolisian London ingin bicara dengan pria di rekaman Stasiun Bank." Kepala Pertahanan berhenti. "Datanglah ke ibu kota, Jenderal. Kita bicara di ruangan yang benar."
"Belum," kata Ethan. "Ada satu sel yang masih bekerja, dan mereka akan mengosongkannya dalam tiga minggu. Kalau aku masuk ke ruanganmu sekarang, aku akan duduk di sana sampai buktinya hilang."
"Lalu apa yang Anda tawarkan?"
Ethan menatap buku di meja. "Barang aslinya. Buku kerja milik orang yang membunuh Thomas Sterling. Kau kirim kurir yang kau percayai, aku serahkan dengan catatan tertulis. Kami simpan salinannya."
Hening lebih panjang. "Besok. Saya akan mengabari tempatnya."
Sambungan terputus. Ethan menurunkan ponsel dan mendapati Elena serta Silas sama-sama menatapnya.
"Kau baru saja menyerahkan senjata terbaik kita," kata Silas.
"Aku menyerahkan bukti," jawab Ethan. "Senjata terbaik kita masih ada di kepalaku."
Di luar, hujan London kembali turun, dan di suatu tempat di kota itu, seorang pria bermantel abu-abu sedang menghitung halaman yang hilang dari sakunya.