Pada akhir pekan sebelum perjalanan, kedua keluarga makan bersama di rumah orangtua Davina. Undangan dikirim untuk makan, dengan waktu yang sudah cocok bagi mereka. Hawa datang membawa hidangan yang dipesan setelah bertanya kebutuhan Mama. Devon serta Davina tiba dengan bahan minuman, membantu menyimpan lalu duduk pada tempat yang disediakan. Tidak ada map pekerjaan dibawa untuk dibuka sebelum hidangan selesai.
Kedua ayah duduk berhadapan seperti pada banyak pertemuan lain. Davina sempat menunggu siapa akan memulai pembahasan perusahaan. Papa justru menanyakan perjalanan singkat orangtua Devon, lalu mendengar kisah mengenai barang yang hampir tertinggal. Ibu Devon mengoreksi bagian yang membuatnya terdengar membawa terlalu banyak, sedangkan suaminya membela ia hanya menyebut yang benar perlu diangkat dari mobil.
Mereka tertawa dan percakapan bergerak pada makanan. Hawa menanyakan apakah Devon sudah berhasil mencoba resep yang dahulu dibicarakan. Davina menjawab hasilnya dapat dimakan dan dapur memerlukan waktu untuk dipulihkan. Suaminya memprotes ringkasan yang terlalu singkat, mengatakan ada bagian yang dipuji. Istrinya mengangguk sambil tersenyum, lalu menyebut saus yang memang disukainya lebih daripada sisanya.
'Itu sudah lebih baik daripada percobaan pertama,' kata Hawa.
'Kalian berdua terlalu cepat menjadi satu tim kalau membicarakan aku.'
Devon mengeluh dengan wajah yang membuat orang lain ikut tertawa. Davina mendapati ia menikmati bisa menggoda suami di depan keluarga tanpa menunggu pembalasan ketika pulang. Tidak semua lelucon harus berubah menjadi cara membuat seseorang tampak kecil. Ia menambahkan ia senang mereka memasak, kemudian meraih hidangan yang dibawa Hawa untuk dibagi sebelum habis di sisinya sendiri.
Saat makan, ayah Devon sempat menyebut perkembangan ruang yang kini digunakan. Papa menanggapi beberapa kalimat, lalu ibu menyela dengan permintaan tolong mengambilkan lauk pada bagian lain meja. Setelahnya pembicaraan tidak kembali pada siapa yang semestinya memegang keputusan. Jika ada pertanyaan usaha yang perlu ditindaklanjuti, kedua ayah menyebut akan membawanya melalui tim pada hari kerja. Davina menarik napas lega dan melanjutkan makan selagi masih hangat.
Ia menunjukkan hasil belajar yang diminta Mama, menceritakan dua kelas telah selesai dan ia belum langsung mengambil rangkaian baru. Hawa menanyakan bagian yang paling dinikmati. Davina menjawab dapat bertemu orang yang mengenalnya sebagai peserta lain, bukan selalu istri Devon atau anak pemilik. Ia masih punya banyak hal yang belum dikuasai, tetapi sekarang mempunyai cara menanyakan tanpa merasa semua orang sedang menilai apakah perjodohan keluarganya berhasil.
'Ibu ingin lihat foto teman-temanmu,' kata Mama.
Davina menunjukkan gambar yang memang sudah dipilih bersama peserta. Mama tersenyum, mengatakan putrinya tampak gembira. Ia mengangguk, menerima komentar itu tanpa menambahkan daftar prestasi. Devon melihat dari samping dan menyebut istrinya tampak sama gembira pada hari ia hampir salah memilih menu makanan. Davina menoleh, menuduh suami mengambil kesempatan yang tidak diberikan, dan mereka tertawa bersama.
Sesudah makan, keluarga berpindah ke ruang yang lebih longgar. Ayah Devon menanyakan bagaimana pasangan merencanakan perjalanan. Keduanya menjelaskan pergi dua malam dekat laut, memilih tempat serta waktu bersama. Tidak ada agenda mengunjungi semua kenalan keluarga. Papa sempat hendak memberi daftar tempat, kemudian berhenti ketika Davina mengatakan mereka ingin sedikit rencana dahulu. Ia mengangguk, menyerahkan pilihan yang tidak perlu dibawa ke forum pemilik.
'Kirim kabar setelah tiba,' kata ibu Devon.
'Tentu,' jawab Devon. 'Kami akan memberi tahu.'
Davina memandang suami, senang jawaban itu dapat sederhana. Memberi kabar tidak harus berarti menyerahkan seluruh perjalanan untuk dipantau, dan menerima perhatian orangtua tidak membuat pilihan mereka hilang. Ia juga tidak perlu menolak setiap bantuan agar tampak mandiri. Ketika Mama menawarkan makanan untuk jalan, ia menerima yang memang ingin dibawa dan tertawa mendapati Devon ikut memilih dengan sungguh-sungguh.
Pada satu jeda, Papa mengatakan ia senang melihat mereka mau datang tanpa menganggap semua pertemuan akan menjadi ujian. Davina menjawab ia senang ketika meja makan benar digunakan untuk itu. Ayahnya mengangguk, menerima sindiran kecil tersebut. Ia tidak meminta putrinya berjanji selalu bahagia agar keluarga tidak perlu khawatir. Ia hanya menanyakan apakah tempat duduk dekat jendela terlalu dingin setelah sakit, lalu menutup sedikit bukaan ketika diminta.
Devon membantu memindahkan beberapa piring ke dapur. Ayahnya mengikuti membawa gelas yang hampir ditinggal, mengatakan ia sekarang tampak lebih terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Putranya menjawab ia masih sering salah menyimpan penutup wadah. Ayah tertawa, mengaku hal serupa membuat dirinya beberapa kali ditegur ibu. Mereka menemukan satu penutup yang ternyata bukan pasangan wadah di dekatnya, menukar lalu menyimpan barang sesuai petunjuk sebelum kembali bergabung.
Menjelang pulang, Hawa mengajak semua berfoto karena sudah lama tidak mempunyai gambar bersama yang hanya mengenai keluarga. Mereka berdiri dengan beberapa pertukaran tempat, saling menertawakan siapa tertutup dan siapa masih memegang cangkir. Davina berdiri dekat Devon, menerima lengannya pada punggung dan menyandarkan tubuh dengan nyaman. Foto diambil setelah semua siap, kemudian mereka berkerumun melihat hasil pada layar.
Mama memilih satu untuk dicetak di rumah. Davina meminta salinan yang sama dan Devon mengatakan ia ingin pula. Ia tidak mengingat foto Darrel sebagai ukuran bahwa dirinya selalu akan tampak memalukan pada gambar orang lain. Hari itu ia berada bersama keluarga dengan senyum yang tidak perlu dijelaskan sebagai bukti semua masa lalu sudah beres. Ia hanya senang ikut berdiri.
Hawa mengirim gambar yang dipilih ke kelompok keluarga, lalu menertawakan pesan ibu yang langsung meminta satu salinan lebih terang. Mereka memperbaiki pilihan bersama, memastikan semua dapat menemukan wajahnya sebelum telepon akhirnya disimpan agar tidak menghabiskan sisa pertemuan melihat layar.
Di depan pintu, kedua ayah saling berpamitan tanpa meminta pasangan menyatakan satu posisi perusahaan. Orangtua dapat tetap berbeda pada beberapa perkara dan menemui tim pada waktunya. Davina masuk mobil dengan makanan yang dibungkus secukupnya, memandang suami lalu mengatakan ia menikmati makan siang. Devon menjawab ia juga, kemudian menertawakan foto yang memperlihatkan dirinya hampir memejamkan mata. Mereka pulang sambil memilih bagian mana yang akan ditunjukkan kepada Em, dengan cerita keluarga yang boleh disimpan karena menyenangkan.