Pada pekan berikutnya, Davina kembali menjalankan jadwal kerjanya dengan badan yang sudah terasa pulih. Ia menemui pendamping untuk membahas hasil tugas beberapa bulan terakhir, bukan meminta jabatan baru sesudah menyelesaikan kelas. Ada hal yang lebih baik dan beberapa pertanyaan masih dikirim terlalu dekat dengan waktu dibutuhkan. Ia mencatat masukan, menyusun cara memperbaiki lalu menerima bahwa bekerja serius tidak berarti selalu mendapat pujian ketika kembali dari sakit.
Mandat dua hari tetap sesuai untuk sekarang. Ia dapat memakai pelajaran dasar yang sudah diselesaikan tanpa menjadikan seluruh waktu luang sebagai kewajiban perusahaan. Ketika ditanya apakah ingin mengambil bidang yang lebih khusus kelak, Davina menjawab ingin melihat setelah menjalani hasil belajar dalam tugas nyata. Posisi yang pernah ditolak telah diisi melalui kebutuhan tim; tidak ada kursi yang diam-diam disimpan sambil menunggu anak pemilik berubah pikiran.
Ia pulang membawa catatan yang tidak terasa sebagai teguran atas seluruh dirinya. Devon menerima ceritanya dengan beberapa pertanyaan, lalu mengakui ia pun baru mendapat masukan dari tim mengenai cara memberi perkiraan waktu. Rendi menunjukkan rapat yang dimulai terlalu terlambat karena putusan kecil masih menunggu dirinya. Devon sedang memperbaiki pembagian, bukan meminta tim lebih sabar hanya karena ia mempunyai banyak pekerjaan.
'Jadi kita sama-sama belum sangat mudah diajak bekerja?' tanya Davina.
'Aku ingin memilih kalimat yang lebih bagus. Tapi mungkin itu cukup tepat.'
Mereka tertawa, kemudian beralih pada kalender perjalanan. Davina ingin pergi dekat laut sebagaimana pernah dibicarakan. Ia tidak ingin tur yang membuat dua hari diisi rencana setiap jam. Devon menginginkan tempat yang dapat dijangkau tanpa seluruh waktu habis berpindah, dengan kesempatan berjalan serta makan tenang. Keduanya menemukan akhir pekan berikutnya sama-sama dapat disediakan.
Mereka membandingkan beberapa pilihan berdasarkan waktu perjalanan, kenyamanan dan kegiatan yang benar ingin dilakukan. Davina menolak satu tempat yang tampak indah tetapi membutuhkan terlalu banyak perpindahan. Devon menutup pilihan lain yang hampir semua halnya harus dipesan bersama kelompok. Mereka memilih penginapan kecil dekat pantai dan membaca ketentuan sebelum membuat pemesanan dua malam atas keputusan bersama.
Davina mencatat waktu tiba serta barang yang diperlukan, kemudian menghapus beberapa pilihan kegiatan agar hari mereka tetap mempunyai waktu kosong.
'Tidak perlu kejutan lokasi?' tanya Devon.
'Kamu boleh memilih camilan di perjalanan. Aku ingin tahu ke mana kita pergi.'
'Itu terdengar seperti tanggung jawab yang masih bisa kutangani.'
Davina tertawa dan menyelesaikan bagian yang menjadi tugasnya. Pemesanan dikonfirmasi, tanggal disimpan pada kalender yang sama lalu kabar ketidakhadiran kerja diteruskan melalui jalur masing-masing. Mereka tidak meminta kedua keluarga menyetujui pilihan hotel. Orangtua diberi tahu sebagai kabar perjalanan, bukan diminta menentukan apakah pasangan telah cukup pantas mengambil waktu untuk diri sendiri.
Setelah selesai, Davina duduk bersandar dan melihat nama tempat pada layar. Ia merasakan senang serta ingatan yang tidak seluruhnya menyenangkan tentang perjalanan pertama. Devon melihat ia lebih diam, lalu menanyakan apakah ada bagian yang ingin diubah. Istrinya mengatakan tidak. Ia ingin pergi, tetapi tidak ingin berpura-pura laut hanya mengingatkan makan malam cantik serta foto yang disukai.
'Aku tahu,' jawab Devon pelan.
'Aku ingin punya perjalanan lain yang kupilih sendiri. Bukan untuk membuat yang dulu tidak pernah terjadi.'
Suaminya mengangguk. Ia tidak menawarkan semua akan dibuat sempurna sebagai pengganti pulau yang menyimpan rasa takut. Ia mengatakan ingin berjalan bersama dengan cara yang sekarang mereka pilih, dan akan mendengar jika Davina ingin kegiatan berbeda. Istrinya menyentuh tangannya, berterima kasih lalu menunjukkan bagian sarapan yang membuatnya tertarik sejak tadi. Devon tertawa karena akhirnya pembicaraan kembali pada sesuatu yang sungguh ditunggunya.
Malam itu mereka mengatur sebagian pekerjaan rumah agar pulang nanti tidak disambut bahan makanan yang terlupa. Davina menuliskan yang masih perlu dibeli dan Devon memeriksa tempat menyimpan barang. Keduanya sempat saling menyalahkan mengenai satu bungkusan yang tidak dikenali sebelum menemukan label milik belanja bersama. Mereka tertawa, mengaku ingatan masing-masing ternyata belum sebaik ketika membela diri.
Sesudah dapur rapi, Devon menerima pengingat konsultasi yang sudah dijadwalkan sebelum perjalanan. Ia mengonfirmasi tanpa menjadikannya pengumuman pengorbanan kepada istri. Davina mengetahui waktunya karena berkaitan dengan kapan mereka akan bertemu, tetapi tidak menuntut isi setiap percakapan. Perubahan yang ingin mereka pertahankan membutuhkan usaha yang tidak seluruhnya harus disaksikan atau diberi nilai oleh pasangan.
Ia kemudian mengirim kabar perjalanan kepada Em. Sahabatnya membalas dengan harapan mereka menikmati, lalu meminta buku yang masih tertahan akhirnya dikembalikan sebelum berangkat. Davina tertawa dan mengambil buku tersebut dari tumpukan yang sudah berpindah beberapa kali. Devon menawarkan mengantar pada waktu yang sesuai arah, mendapat jawaban mereka dapat mengembalikan ketika bertemu singkat sebelum perjalanan. Tidak semua urusan yang menyenangkan harus menunggu sampai dua hari liburan dimulai.
Menjelang tidur, Davina masuk ke kamar dan mendapati Devon sedang menyiapkan sebagian pakaian. Ia mengambil satu yang terlalu resmi lalu menanyakan acara mana yang disembunyikan dalam rencana pantai. Pria itu tersenyum malu, mengembalikan ke lemari dan memilih sesuatu yang lebih nyaman. Istrinya menertawakan kebiasaan membawa cadangan untuk keadaan yang bahkan tidak masuk rencana.
'Kamu juga belum mengepak,' balasnya.
'Aku masih punya waktu mengkritik lebih dahulu.'
Devon tertawa, meraih pinggangnya ketika ia mendekat dan menerima ciuman yang diberikan. Davina menikmati rasa dekat yang tidak lagi harus dipakai untuk menentukan siapa menang pada hari itu. Mereka berpelukan, berbicara sedikit lalu menyimpan pakaian agar ranjang dapat dipakai. Ia mengatakan ia bahagia, bukan karena dua malam di tepi laut akan menyelesaikan sesuatu yang belum dijalani.
'Aku bahagia denganmu sekarang,' katanya.
Devon tersenyum, membalas bahwa ia pun demikian. Mereka mematikan lampu pada waktu yang dipilih, membiarkan sisa daftar kecil menunggu. Davina berbaring dekat suami dan menyentuh tangannya di bawah selimut, merasa senang mengetahui perjalanan yang akan datang berawal dari jawaban keduanya, bukan dari tuntutan yang salah satu harus ikuti agar orang lain tetap mau tinggal.