Sabtu menjelang siang, Davina tiba di rumah orangtuanya bersama Devon. Ia sudah merasa lebih baik, tetapi memilih kunjungan tidak terlalu panjang. Mama menyambut dengan pertanyaan keadaan badan sebelum menanyakan perjalanan. Putrinya menjawab sambil memeluk, kemudian menyerahkan wadah yang dikembalikan. Mereka tertawa karena jumlah wadah hampir sama dengan jumlah yang akhirnya dibawa Mama ketika datang ke penthouse.
Papa menunggu di ruang keluarga. Ia menanyakan apakah Davina perlu berbaring dahulu. Putrinya menjawab cukup duduk sebentar, lalu mengambil tempat di dekat jendela. Devon menyapa dan duduk pada kursi yang disediakan, tidak memulai dengan laporan keputusan dewan. Bagian itu sudah diterima orang yang memang membacanya. Hari ini mereka datang karena ada hal pribadi yang ingin disampaikan sesudah urusan perusahaan mempunyai tempatnya sendiri.
Davina menunggu minuman diletakkan, menarik napas lalu mengatakan ia serta Devon telah membaca penjelasan dokumen bersama penasihat. Papa mengangguk, menyatakan ia sudah mengetahui pemisahan mandat yang disahkan. Putrinya menjelaskan ia dahulu merasa tidak mempunyai jalan keluar karena pernikahan serta merger selalu dibicarakan sebagai satu hal. Ia ingin orangtuanya mendengar bahwa ia kini memilih tetap bersama Devon, dengan mengetahui hidupnya bukan syarat otomatis bagi perusahaan untuk terus ada.
'Aku mencintainya,' katanya. 'Aku ingin menjadi istrinya. Aku tidak sedang bertahan agar Papa serta Mama tidak kecewa.'
Mama memandangnya dengan mata yang mulai basah. Papa menatap Devon, kemudian bertanya apakah ia dapat menerima bahwa pilihan Davina tetap milik Davina. Pria itu mengangguk, tidak menggunakan jawaban perempuan itu sebagai jaminan bahwa semua kekhawatiran keluarga harus berakhir. Ia mengatakan ia ingin terus menjadi suaminya dan mengetahui ada perbuatan yang dahulu membuat rasa khawatir tersebut masuk akal.
'Saya pernah mengancam serta tidak berhenti ketika ia menolak,' katanya. 'Saya tidak mau menyebutnya cuma salah paham karena kami baru menikah. Saya menyesal dan sedang mengubah cara saya menghadapi rasa marah serta ingin mengendalikan.'
Ruangan menjadi hening. Davina merasakan tangan Mama bergerak meraih tangannya. Ia menerima, lalu mengatakan tidak datang untuk memaparkan semua hal pribadi atau meminta orangtua langsung memuji suaminya. Ia ingin berhenti menyampaikan hanya bagian yang membuatnya tampak mampu menjalani semua sendiri. Ada masa yang berat dan ada perubahan yang kini benar dilihatnya. Keduanya dapat diceritakan tanpa salah satu dipakai menghapus yang lain.
Papa menarik napas panjang. Ia mengatakan seharusnya dahulu lebih cepat mendengar ketika Davina menunjukkan takut, bukan menganggap semua bagian perlu diselesaikan dengan menyesuaikan diri. Ia juga mengaku terlalu mudah membicarakan pilihan keluarga seolah anak-anak tinggal menjalankan. Maksud menguatkan hubungan tidak membuat cara tersebut selalu benar. Davina mengangguk, merasa ingin menangis dan lega pada saat yang sama.
'Aku tidak minta Papa menganggap semuanya mudah sekarang,' katanya. 'Kalau aku datang dengan cerita yang berat nanti, aku ingin tetap bisa pulang tanpa dianggap gagal.'
'Kamu tetap anak Papa. Bukan laporan keberhasilan perjodohan.'
Davina tertawa kecil meski matanya basah. Mama merangkulnya beberapa saat, lalu menyuruh semuanya makan sebelum masakan dingin. Gerakan yang akrab itu membuat percakapan dapat bernapas. Devon membantu membawa piring ketika diminta, lalu mendengar kisah Mama tentang wadah yang selalu kembali dengan penutup tertukar. Ia mengaku mungkin satu berada di penthouse dan mendapat tatapan putrinya yang membuat semua tertawa.
Saat makan, Papa menanyakan rencana mereka untuk waktu dekat. Davina menjawab tetap tinggal di penthouse, bekerja melalui mandat dua hari serta meneruskan latihan dari kelas yang sudah selesai. Ia belum mengambil posisi lebih besar dan tidak meminta perusahaan menunggu. Devon menjelaskan pekerjaan elektroniknya tetap berjalan bersama peran yang dibatasi pada proyek keluarga. Mereka ingin mempunyai hidup yang dapat dijalani, bukan memenuhi semua harapan sekaligus agar terlihat mapan di depan orangtua.
Mama menanyakan apakah ada rencana pergi sebentar setelah jadwal panjang. Davina tersenyum, mengatakan ingin dekat laut bersama Devon. Mereka sedang mencari waktu yang sama dan belum meminta keluarga mengatur apa pun. Ibunya tertawa, menjawab ia hanya ingin tahu apakah perlu menyimpan makanan untuk ketika keduanya kembali. Putrinya mengangguk dengan semangat yang membuat Devon mengingatkan jumlah wadah di rumah masih cukup banyak.
Pembicaraan anak sempat muncul dalam bentuk harapan Mama, lalu ia berhenti sendiri dan bertanya apakah mereka ingin membahasnya. Davina mengatakan belum ada rencana sekarang, seperti yang pernah disampaikan. Devon menjawab keinginannya pun sama. Mereka tidak menghubungkan jawaban dengan jabatan, saham atau janji mengubah pikiran pada usia tertentu. Mama mengangguk, masih mempunyai harapan tetapi tidak meminta putrinya menjadikan harapan itu kewajiban.
Setelah makan, Papa mengajak Devon berbicara sebentar pada tempat yang tetap dapat dilihat. Ia mengatakan ia belum dapat berhenti khawatir hanya dari satu pernyataan. Devon menjawab ia mengerti. Ia tidak meminta izin untuk menutup pintu pertolongan bagi Davina dan tidak ingin hubungan mereka dinilai semata dari keahlian menjelaskan penyesalan. Yang akan dilihat keluarga adalah cara ia menjalani hari berikutnya.
Davina mendengar bagian terakhir ketika ikut mendekat, lalu mengatakan ia ingin pulang sebelum terlalu lelah. Papa tidak menahan dengan urusan usaha yang belum dibahas. Mama menyiapkan sedikit makanan, kali ini benar lebih sedikit, dan memeluk putrinya sebelum melepas. Kunjungan berakhir pada waktu yang dipilih, dengan hal yang perlu dikatakan akhirnya didengar.
Di pintu, Papa mengingatkan Devon membawa wadah yang tadi hampir tertinggal. Pria itu tertawa malu, mengangkat bungkusan sebagai bukti kali ini sudah diambil. Davina menggeleng sambil tersenyum. Ia senang dapat meninggalkan rumah dengan teguran kecil mengenai barang, setelah pembicaraan yang semula terasa begitu sulit untuk dimulai.
Di mobil, Davina diam beberapa lama. Devon menanyakan apakah ingin berbicara atau pulang tenang. Ia memilih tenang dahulu, kemudian meraih tangannya ketika kendaraan berhenti. Ia mengatakan ia senang datang. Tidak semua rasa takut hilang, dan tidak perlu hari itu ditutup dengan pernyataan semua orang sudah memaafkan. Ia telah menyebut pilihannya kepada orang yang disayangi dan mendengar bahwa ia tetap mempunyai tempat pulang. Untuk siang itu, dadanya terasa jauh lebih lapang.