Rabu pagi, Davina bangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa tidak mempunyai tenaga untuk mengikuti rencana. Ia masih duduk di tepi ranjang, mencoba menyusun alasan bahwa setelah mandi tentu lebih baik. Devon melihatnya berhenti terlalu lama pada pakaian yang hendak dipakai, lalu mendekat. Ketika ditanya, ia mengaku pusing serta merasa panas, tetapi ada bahan kerja yang seharusnya dibaca hari itu.
'Bahan itu bisa dibawa pendampingmu?' tanya Devon.
'Bisa. Aku cuma belum mengirim catatan terakhir.'
Ia mengambil telepon, memberitahu tim bahwa ia sakit dan menyerahkan catatan yang sudah tersedia. Bagian yang membutuhkan penjelasan tambahan dapat menunggu ia kembali, sedangkan pekerjaan biasa tetap dijalankan menurut mandat. Davina sendiri mengirim pesan itu. Devon tidak menjawab seolah menjadi pemilik suara istrinya, hanya membantu mengambil benda yang diletakkan terlalu jauh dari tempat duduk.
Setelah diperiksa dokter, Davina pulang untuk beristirahat dengan pengobatan serta petunjuk yang diterima. Devon mengatur pekerjaannya melalui tim dan tetap berada di rumah hari itu. Ia menyampaikan hal yang perlu dialihkan sebelum menutup perangkat, tidak membawa pertemuan panjang ke sisi ranjang sambil mengatakan sedang menemani. Davina mengganti pakaian lalu berbaring, merasa terlalu lelah untuk menertawakan rambut yang belum juga selesai disisir.
Devon menyiapkan minum serta makanan yang dapat dipilih ketika ingin. Ia tidak terus membangunkan untuk menanyakan apakah sudah lebih baik. Davina tidur beberapa lama, bangun ketika mendengar suara pelan dari dapur. Ia memanggil dan suaminya datang, menanyakan perlu apa. Ia ingin air serta tahu jam, lalu terdiam karena hampir menanyakan apakah ada pesan kantor.
'Ada yang harus kamu jawab sekarang?' tanya Devon.
'Seharusnya tidak. Aku cuma merasa ada yang mungkin tertinggal.'
Pria itu mengangguk. Ia tidak menjanjikan tidak ada apa pun yang dapat salah ketika pemilik sedang sakit. Ia mengingatkan mereka sudah menetapkan orang yang bertugas serta jalur bila diperlukan, lalu bertanya apakah ia ingin perangkat diletakkan dekat atau disimpan lebih jauh agar dapat tidur. Davina memilih menyimpan di meja luar. Jika ada hal mendesak, suara telepon masih dapat didengar.
Ia minum perlahan dan membaringkan kepala lagi. Devon duduk sebentar di kursi, tidak membawa laporan untuk diperdengarkan. Davina menatapnya, kemudian mengatakan ia sering takut ketidakhadiran dianggap bukti ia tidak sungguh mampu mengerjakan. Suaminya mengaku ia mengenali ketakutan itu, tetapi hari ini ia tidak perlu menjadikan tubuh yang demam sebagai tempat menunjukkan kesungguhan.
'Kalau aku tidak berguna hari ini?' tanyanya pelan.
'Kamu istriku yang sedang sakit. Aku tidak sedang menghitung hasil kerjamu.'
Davina merasa matanya panas karena sesuatu selain lelah. Ia mengulurkan tangan dan Devon menggenggam sebentar, kemudian melepaskan ketika ia ingin mengubah posisi. Ia tidak harus menjelaskan terima kasih dengan kalimat panjang. Suaminya menarik selimut yang bergeser, memastikan air dapat dijangkau lalu keluar ketika ia kembali memejamkan mata.
Sore hari Mama menelepon. Davina bangun dan memilih menjawab sendiri, mengatakan sudah diperiksa serta sedang beristirahat. Ibunya ingin datang membawa makanan. Ia menerima untuk esok siang ketika waktunya lebih sesuai, lalu mengatakan tidak perlu membuat semua yang disukai sekaligus. Mama tertawa, menyuruhnya tidur lagi dan memberi tahu jika perlu hal lain. Percakapan itu membuatnya hangat tanpa harus berubah menjadi kabar tentang apakah Devon merawat dengan cara yang dapat dinilai keluarga.
Malamnya ia dapat makan sedikit. Devon duduk menemani dengan hidangan sendiri, menceritakan kejadian ringan tentang belanja yang salah diantar ke pintu sebelah sebelum orang memperbaiki. Davina tertawa singkat lalu mengeluh kepalanya masih berat. Ia tidak ingin berjalan di balkon atau mendengar rencana liburan sekarang. Devon menerima, membereskan meja dan membantunya kembali berbaring pada tempat yang dipilih.
Ketika hendak tidur, Davina meminta ia tetap dekat. Suaminya mengambil bantal, duduk beberapa lama pada sisi ranjang dan mengusap rambutnya dengan gerakan yang membuat ia tenang. Tidak ada ciuman yang diubah menjadi ajakan ketika ia sedang lemah. Ia hanya ingin ditemani sampai rasa gelisah turun, dan Devon tetap di sana setelah kata-kata berhenti diperlukan.
Kamis siang, Mama datang membawa makanan dalam jumlah yang ternyata tetap lebih banyak dari perkiraan. Davina duduk sebentar di ruang tamu, tersenyum melihat ibunya serta suami memindahkan wadah agar muat. Mama menyentuh dahinya, bertanya bagaimana badan lalu mendengar jawaban tanpa langsung menyuruh berganti lima cara perawatan. Davina mengatakan ia mulai merasa lebih baik tetapi masih ingin banyak tidur.
'Kalau Sabtu belum enak, kita mundurkan makan siangnya,' kata Mama.
'Aku ingin datang. Tapi kita lihat besok dulu, ya.'
Ibunya mengangguk. Kunjungan yang pernah direncanakan untuk menyampaikan pilihan hidup tidak harus dibuktikan dengan memaksakan badan yang belum pulih. Devon menyimpan makanan, berterima kasih kemudian mengantar ibu sampai pintu. Davina kembali ke kamar setelah beberapa menit, lega tidak ada yang mengubah kunjungan menjadi kesempatan membahas laporan atau menilai apakah ia cukup bahagia.
Pada Jumat, ia sudah dapat bangun lebih ringan dan makan tanpa perlu segera berbaring lagi. Ia tetap memakai sebagian hari untuk istirahat, membaca kabar singkat yang tidak memerlukan jawaban baru lalu menyimpan perangkat. Pekerjaan telah diteruskan oleh orang yang bertugas. Ada pertanyaan yang menunggu, tetapi tidak ada perusahaan yang runtuh karena ia tidur sehari penuh.
Ia berjalan sebentar ke ruang tamu untuk melihat cahaya dari jendela, kemudian kembali duduk ketika ingin. Devon bertanya apakah minumannya sudah habis, menerima jawaban belum lalu melanjutkan membereskan. Davina tersenyum melihat rumah dapat tenang tanpa ia harus terus mengatakan sedang merasa apa.
Sore itu ia memberi kabar kepada Mama bahwa Sabtu dapat datang sebentar. Devon menanyakan apakah ingin diantar dan mendapat jawaban iya. Davina menatap suami yang sedang memeriksa wadah makanan sebelum dicuci, merasa disayangi pada hari ketika ia tidak memberi hasil yang dapat dipuji. Ia mendekat, memeluk perlahan dan berterima kasih. Devon membalas, lalu mengingatkan ia belum harus ikut membereskan dapur. Kali ini ia menerima tanpa merasa perlu membuktikan apa pun.