Sabtu pagi, Davina menemui penasihat keluarga untuk membaca penjelasan dokumen yang dirapikan sesudah keputusan dewan. Devon ikut pada bagian yang menyangkut keduanya. Mereka membawa pertanyaan yang dahulu sering berhenti pada ketakutan: apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan bila kehidupan pribadi pasangan berubah, dan bagian mana yang selama ini hanya dibicarakan sebagai harapan keluarga.
Penasihat menunjukkan perjanjian usaha serta penempatan wakil yang lama, kemudian bagian yang kini ditegaskan. Tidak ada ketentuan dalam dokumen usaha itu yang membuat perusahaan otomatis batal hanya karena pasangan berpisah. Ada jabatan serta pembicaraan keluarga yang terlanjur dirangkap dengan perkawinan, dan bagian itulah yang kini dipisahkan pada mandat serta mekanisme penggantian. Investasi Arman juga mengatur perusahaan serta proyek, bukan kewajiban pribadi Davina untuk tetap menjadi istri.
'Jadi selama ini aku mengira tidak punya pilihan karena semua orang bicara seperti kesepakatan ini hidup dari pernikahan kami,' kata Davina.
'Pernikahan memang menjadi bagian dari rencana keluarga,' jawab penasihat. 'Itu berbeda dari mengatakan badan usaha hanya boleh berjalan bila kalian tetap bersama. Kita sudah memeriksa dokumen yang mengikat usaha dan memperjelas penanggung jawabnya.'
Davina membaca halaman yang ditunjukkan, menanyakan satu bagian sampai ia memahami. Ia tidak menganggap penjelasan itu membuat berpisah akan mudah atau tanpa akibat pribadi. Ada keluarga, kebiasaan serta perasaan yang benar berkaitan. Namun, ia tidak lagi perlu menyebut ketakutan akan otomatis merusak perusahaan sebagai alasan bahwa ia tidak dapat menilai hidupnya sendiri. Penasihat tidak menentukan keputusan pernikahan; ia menjawab pertanyaan pada dokumen yang menjadi tugasnya.
Devon menunggu ketika ia membaca bagian yang sama sekali lagi. Ia tidak mengambil halaman untuk menunjukkan betapa mudah dipahami atau mengatakan seharusnya istrinya sudah lega. Davina akhirnya memberi tanda pada pertanyaan yang telah dijawab dan meminta salinan penjelasan. Penasihat menyiapkan, menyebut bagian yang merujuk keputusan masing-masing perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih, merasa mempunyai sesuatu yang dapat dipakai ketika pikiran lama datang kembali dengan suara yang terdengar terlalu pasti.
Pada bagian anak, tidak ada kewajiban mempunyai keturunan sebagai syarat mandat atau usaha. Davina memandang Devon, kemudian kembali mendengar penjelasan. Harapan orangtua dapat dibicarakan sebagai harapan, bukan disampaikan seolah ada utang yang harus dilunasi dengan tubuh atau tahun tertentu. Pertanyaan yang dulu terasa terlalu besar untuk diucapkan akhirnya mempunyai jawaban yang dapat dibaca kembali tanpa menunggu suasana keluarga sedang baik.
Mereka keluar menjelang siang. Devon menanyakan apakah ia ingin langsung pulang atau duduk sebentar di tempat lain. Davina memilih berjalan, karena terlalu lama duduk mendengar sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh. Keduanya menemukan tempat teduh, berdiri pada sisi yang tidak menghalangi orang lewat. Ia mengatakan ia marah pada dirinya yang dahulu tidak mencari tahu lebih awal, lalu langsung merasa itu bukan seluruh jawabannya.
'Aku waktu itu baru masuk pernikahan yang katanya harus membuat semua orang senang,' katanya. 'Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa tanpa dianggap mau merusak.'
'Aku juga membiarkan ketakutan itu bekerja untukku,' jawab Devon.
Ia menatap suami. Devon mengatakan ia pernah tahu Davina merasa terikat dan tetap menggunakan kedudukan sebagai suami untuk menekan. Ia tidak ingin mengganti semua tanggung jawab dengan mengatakan mereka sama-sama kurang memahami dokumen. Ia telah mengancam serta mengabaikan penolakan yang jelas, sesuatu yang tidak pernah dibutuhkan oleh perjanjian perusahaan untuk terjadi.
'Aku tahu,' jawab Davina. 'Aku juga tahu sekarang kamu mau menyebutnya begitu.'
Mereka terdiam beberapa waktu. Orang lewat membawa belanja, sebuah kendaraan berhenti di seberang lalu bergerak kembali. Davina merasa hidup tidak menunggu pertanyaannya selesai. Ia dapat berdiri di sana bersama orang yang dicintai, dengan sejarah yang belum menjadi indah hanya karena keduanya sekarang lebih mudah tertawa. Ia tidak perlu memaksa kenangan berubah agar pilihan hari ini dapat berarti.
'Kalau sekarang kita tidak diminta melindungi merger lewat perkawinan,' kata Devon pelan, 'aku tetap ingin menjadi suamimu.'
Davina menarik napas, memandang wajahnya sebelum menjawab. Ia pernah merencanakan membuat pria itu mencintai lalu membalas luka. Ia pernah tinggal karena ingin menang, kemudian karena belum mengetahui jalan yang dapat dipilih. Sekarang ia mengetahui sesuatu yang jauh lebih sederhana dan lebih berat untuk dikatakan tanpa permainan.
'Aku juga ingin tetap menjadi istrimu,' katanya. 'Aku mencintaimu. Aku ingin hidup yang sedang kita buat, bukan karena aku harus menunggu orangtua tidak ada atau perusahaan tidak lagi membutuhkan.'
Devon tersenyum dengan mata yang tampak basah, lalu bertanya apakah boleh memeluk. Davina mendekat lebih dahulu. Mereka berdiri beberapa saat, tidak membuat janji tak akan pernah keliru lagi. Ia ingin dapat meneruskan karena memilih, serta tetap dapat menegur bila hal yang menyakiti muncul. Devon mengatakan ia menginginkan hubungan yang dapat menerima kebenaran itu, bukan jawaban yang didapat dari rasa takut.
Dalam perjalanan pulang, mereka membicarakan kunjungan orangtua pekan berikut. Davina ingin menyampaikan bahwa keputusan tinggal bersama miliknya sendiri. Ia tidak akan memberikan seluruh isi percakapan pribadi atau meminta orangtua langsung berhenti khawatir. Devon akan menyebut keinginannya sendiri dan menerima bahwa kepercayaan keluarga dibangun dari tindakan, bukan kalimat indah pada satu makan siang.
Di penthouse, Davina menyimpan penjelasan dokumen pada tempat yang mudah diambil. Ia tidak ingin membawanya ke ranjang sebagai benda yang harus diperiksa untuk dapat tenang. Bagian usaha sudah mempunyai orang serta tugasnya. Ia menutup laci lalu menemui Devon di dapur, memeluk dari samping setelah pria itu meletakkan benda yang dibawa.
'Aku ingin pergi sebentar setelah semua ini,' katanya. 'Ke dekat laut. Bukan bersama seluruh keluarga.'
'Aku ingin juga. Kita cari waktu yang sama-sama bisa.'
Davina mengangguk dan mencium pipinya. Mereka belum memesan apa pun sebelum melihat jadwal, tetapi keinginan itu tidak lagi perlu disimpan agar tidak terdengar sebagai pelarian. Ia ingin pergi bersama suami yang dipilih kembali dengan sadar. Untuk siang itu, mereka cukup menyiapkan makan dan menentukan siapa memotong bahan, dua orang dewasa yang dapat memulai hal biasa tanpa menunggu hidup menjadi sempurna.