Jumat, pengarahan pelaksanaan keputusan dewan dimulai dengan penanggung jawab yang telah ditetapkan. Davina menerima ringkasan sesudahnya, lalu melihat satu kebutuhan rutin dalam rencana diproses oleh pelaksana tanpa menunggu ia serta Devon membaca kembali barang yang sama. Catatan tersedia untuk ditinjau. Ketika satu permintaan lain membawa syarat baru, perkara itu masuk jalur yang berbeda. Keputusan Kamis mulai dipakai sebagai tugas, bukan sekadar salinan yang disimpan dalam map.
Ia menjawab satu pertanyaan dalam mandatnya, kemudian menutup pekerjaan pada jam yang sudah disediakan. Sore itu tidak ada kelas yang harus dikejar atau lokasi yang wajib dikunjungi. Davina melihat kalender, merasa aneh tidak segera mempunyai alasan untuk berjalan cepat. Ia memutuskan merapikan rambut yang beberapa kali ditunda, membuat janji pada tempat yang sudah dikenalnya lalu pergi tanpa perlu menunggu siapa pun menyusun sisa hari.
Di kursi salon, ia menjelaskan ingin memotong sebagian yang membuat ujung terasa berat. Penata menunjukkan panjang yang akan diambil dan Davina menyetujui. Ia memperhatikan rambut jatuh sedikit demi sedikit, mendengar obrolan orang pada kursi sebelah mengenai perjalanan serta anak sekolah. Tidak ada pertanyaan tentang apakah suaminya mengizinkan, dan ia tidak perlu memakai perubahan sebagai kejutan untuk menguji seberapa cepat Devon melihat.
Setelah selesai, ia menatap cermin lebih lama daripada biasanya. Wajahnya sama, hanya rambut terasa lebih ringan dan mudah diatur. Ia tersenyum, membayar lalu keluar membeli minuman. Udara sore mengenai sisi leher yang sebelumnya tertutup. Davina berhenti pada etalase toko, melihat pantulan tanpa mencari bagian yang perlu dipakai agar orang lain menyesal pernah menyakitinya.
Ia ingat niat awal membuat Devon jatuh cinta lalu meninggalkan dengan hati terluka. Pada masa itu ia membayangkan penampilan serta perhatian sebagai cara mendapatkan sesuatu yang tidak mau diberikan pria tersebut. Sekarang ia masih senang tampak menarik untuk suami, tetapi tidak ingin setiap perubahan ditakar berdasarkan seberapa jauh dapat mengubah orang lain. Rambut yang lebih pendek cukup berarti ia menginginkannya dan menyukai hasil.
Devon memberi kabar akan pulang pada jam biasa. Davina membalas ia sedang membeli sesuatu dan akan tiba lebih dahulu. Ia tidak mengirim foto dengan pertanyaan yang menuntut jawaban benar sebelum bertemu. Di penthouse, ia menaruh tas, mengganti pakaian serta menyimpan bahan kelas yang akhirnya mempunyai tempat tetap. Ia membiarkan sebagian sore berlalu dengan duduk tanpa segera membuka daftar pekerjaan baru.
Ketika Devon tiba, ia menyapa dari ruang tamu. Suaminya berhenti sebentar setelah meletakkan tas, menatap lalu tersenyum. Ia mendekat, mengulurkan tangan menyentuh ujung rambut setelah Davina tetap berada dekatnya. Ia menanyakan dipotong sore tadi dan mendapat jawaban iya. Davina tertawa melihat pria itu tampak lega karena kali ini ia tidak terlambat menyadari sesuatu.
'Kamu cantik,' katanya.
'Itu jawaban yang sangat aman.'
'Aku boleh menyampaikan jawaban yang benar tanpa dituduh sedang mencari aman?'
Davina tertawa, meraih kemejanya dan mencium singkat. Ia mengatakan ia menyukai hasil serta tidak ingin menghabiskan pagi mengatur terlalu lama. Devon mengangguk lalu mengaku ia sendiri perlu merapikan rambut karena beberapa kali hanya berniat ketika sudah terlalu sulit ditata. Istrinya mengatakan ia boleh memakai jadwal miliknya sendiri, kemudian menertawakan wajah yang pura-pura tidak memahami sindiran.
Mereka menyiapkan makan sambil membicarakan rencana kunjungan kepada orangtua Davina. Ia ingin datang Sabtu pekan berikutnya agar mempunyai waktu membahas tanpa bergegas. Devon menyetujui dan meminta memastikan kedua orangtua tersedia. Davina mengirim pesan kepada Mama, mendapat jawaban mereka senang datang. Ia merasa dadanya hangat menyadari kali ini tidak sedang mencari kesempatan melaporkan bahwa semuanya sudah sempurna.
Saat makan, Devon menerima satu kabar dari timnya mengenai pekerjaan rutin yang telah diselesaikan. Ia membaca singkat dan membalas terima kasih, kemudian menyimpan perangkat. Davina menanyakan apakah tidak perlu melihat seluruhnya. Pria itu menjawab orang yang bertugas sudah mempunyai bahan serta kewenangan, dan ia dapat membaca laporan pada waktu kerja berikut. Ia tidak harus menunggu keluarga merasa selalu tenang sebelum mempercayai pembagian yang sudah diputuskan.
'Aku sempat merasa aneh sore tadi,' kata Davina. 'Seperti ada yang tertinggal karena aku bisa pulang tanpa diminta melihat satu hal lagi.'
'Aku juga sempat ingin bertanya apakah tidak ada pesan yang belum dibalas. Lalu aku menemukan ternyata memang tidak ada yang harus kujawab sekarang.'
Mereka tertawa kecil. Davina mengaku masih takut ruang kosong akan membuatnya tampak tidak berguna. Devon mengatakan ia tidak lebih menyayanginya ketika jadwalnya penuh. Istrinya memandang, merasa senang mendengar itu dari orang yang dahulu mengira waktu setelah pulang seharusnya selalu tersedia bagi dirinya. Ia tidak menjadikan kalimat tersebut jaminan mereka tidak akan pernah saling menuntut lagi, tetapi ia dapat menerima dengan rasa hangat malam itu.
Sesudah makan, mereka memilih permainan yang belum selesai pada Jumat sebelumnya. Devon membaca aturan lebih teliti dan berhasil menang satu putaran. Davina menuduhnya sengaja berlatih diam-diam, lalu tertawa ketika ia menunjuk buku petunjuk yang sama. Mereka menghitung poin, saling protes pada keberuntungan dan meneruskan sampai keduanya menguap.
Pada satu giliran menebak, Devon memberi petunjuk mengenai benda yang selalu ditarik Davina ketika tidur. Istrinya langsung menjawab selimut, kemudian memprotes karena ia juga sering melakukannya. Devon tertawa, mengatakan keberatan diterima setelah poin dicatat. Davina menandai jawaban, membalas dengan petunjuk yang membuat suaminya salah menyebut dua benda sebelum menemukan yang dimaksud. Mereka berhenti ketika tawa mulai membuat kata yang sebenarnya mudah semakin sulit diselesaikan.
Sebelum tidur, Davina berdiri di depan cermin untuk menyisir. Devon lewat, menyentuh bahunya dan mengatakan ia akan mematikan lampu luar. Ia mengangguk, melihat bayangan dirinya yang tampak sedikit berbeda. Perempuan itu masih mempunyai ingatan yang tidak menyenangkan serta pertanyaan yang belum dapat dijawab seluruhnya. Namun, malam itu ia tidak perlu membentuk diri sebagai hukuman untuk seseorang atau bukti bagi keluarga. Ia menyimpan sisir dan kembali kepada suami karena ingin berada di sana.