Sabtu pagi, Devon membaca ringkasan penutupan acara sebelum menyimpan perangkat. Pendapatan mengikuti harga ruang alternatif, biaya layanan serta dua catatan Ratih masuk untuk ditindaklanjuti pengelola. Tidak ada upaya menagih selisih ruang utama. Ia meneruskan bagian yang perlu diketahui timnya, lalu menutup. Mereka telah menyediakan jalur agar pekerjaan dapat diselesaikan oleh orang yang bertugas, sehingga pagi sesudah acara tidak harus kembali menjadi pertemuan seluruh keluarga.
Davina masih tidur ketika ia keluar membeli sarapan. Ia memilih yang disukai istrinya dan kembali sebelum makanan dingin, mendapati perempuan itu berdiri dekat jendela dengan rambut berantakan. Davina mengeluh ia tidak dibangunkan untuk ikut. Devon menunjukkan pesan yang dikirim dan mengatakan istrinya tampak terlalu pulas untuk diganggu. Davina tertawa, menerima bungkusan lalu menanyakan apakah ia setidaknya memesan cukup.
'Aku memakai perkiraan yang lebih aman setelah mengenalmu,' katanya.
'Kalau terlalu banyak, jangan menyalahkanku.'
Mereka duduk makan, membicarakan bagian acara yang paling diingat. Davina justru menyebut pembicaraan salah seorang pembicara, bukan persoalan mikrofon atau antrean. Devon meminta diceritakan karena ia sempat keluar pada bagian itu. Ia mendengarkan penjelasan yang bersemangat, senang istrinya masih mempunyai perhatian untuk sesuatu selain apakah orang lain akan kecewa pada pekerjaan mereka.
Menjelang siang, ayahnya mengundang datang sebentar. Devon memberitahu Davina ia ingin menemui sendiri dan akan memberi kabar bila ada bagian usaha yang perlu diketahui. Istrinya mengangguk, memilih memakai waktu untuk menyiapkan tugas kelas. Ia tidak harus ikut agar percakapan keluarga dapat berlangsung dengan benar. Devon berangkat setelah mencuci piring yang menjadi bagiannya, membawa wadah yang selama ini belum dikembalikan kepada ibu.
Ayah menunggu di teras. Ia menanyakan angka acara, lalu menerima bahwa ringkasan yang dikirim tidak berubah hanya karena terlihat ramai. Untuk beberapa waktu mereka membicarakan pembagian akhir yang akan diputuskan dewan. Devon menyatakan ia akan mempertahankan ruang gerak pelaksana serta hak strategis kedua pihak, dengan perbedaan jenis transaksi dijelaskan. Ayah mendengar sampai selesai sebelum bertanya apakah pendapat itu berasal dari pembicaraan dengan Davina.
'Sebagian kami bahas bersama. Sebagian kami belum sepakat,' jawabnya. 'Saya juga membaca hasil tim sendiri.'
'Ayah dulu mengira pernikahan membuat urusan kalian lebih mudah.'
'Ada hal yang lebih mudah karena kami mau mendengar. Ada juga yang justru berat karena orang mengira pendapat istri bisa saya urus sepulang kerja.'
Ayah menunduk sebentar. Devon tidak menambahkan tuduhan bahwa semua yang pernah dilakukan orangtua merupakan kesalahan. Ia tahu ada usaha, waktu serta kekhawatiran yang benar diberikan. Namun, ia perlu menyebut bagian yang tidak ingin diteruskan: memakai hubungan keluarga sebagai pengganti persetujuan orang dewasa. Ia pun pernah memanfaatkan rasa takut Davina terhadap merger untuk mempertahankan kuasa dalam rumah, dan itu pilihannya sendiri.
'Saya tidak ingin bilang saya menyakitinya karena Ayah menjodohkan kami,' katanya. 'Yang saya lakukan tetap tanggung jawab saya. Tapi perusahaan juga tidak boleh terus memberi alasan bahwa kami tidak punya pilihan pribadi.'
Ayah menghela napas, memandang halaman sebelum menjawab bahwa ia tidak ingin melihat anaknya bercerai atau perusahaan pecah. Devon mengatakan ia juga tidak sedang merencanakan perceraian. Ia mencintai Davina. Justru karena itu ia ingin mereka tinggal bersama tanpa setiap pilihan dibebani ancaman kehilangan sesuatu yang seharusnya ditangani perusahaan melalui perjanjian serta orang yang bekerja di dalamnya.
Percakapan berhenti beberapa saat ketika ibu datang membawa minuman. Ia menanyakan apakah keduanya sedang berdebat lagi. Ayah mengatakan sedang mencoba memahami jawaban putranya yang kini lebih panjang. Devon tertawa pelan, menerima cangkir lalu berterima kasih. Ibunya duduk sebentar, bercerita tentang perjalanan singkat yang sedang disiapkan. Ayah mendengarkan, kemudian menanyakan apakah semua yang hendak dibawa benar diperlukan.
Devon mengenali cangkir yang sudah lama dipakai di rumah dan menanyakan mengapa ibu belum menggantinya. Perempuan itu menjawab ia menyukainya, lalu menyuruh putranya menghabiskan minum sebelum mempertimbangkan hadiah baru. Ia tertawa dan menurut, senang mendapat jawaban yang tidak perlu diterjemahkan menjadi permintaan apa pun.
Devon melihat mereka saling membantah mengenai barang yang tidak terlalu penting, lalu merasa hangat karena percakapan dapat bergerak tanpa keputusan sulit harus dipaksa selesai di teras. Menjelang pulang, ayah mengatakan ia akan membaca usul akhir dari tim. Ia tidak berjanji menyukai semuanya, tetapi tidak akan meminta putranya menjanjikan jawaban Davina secara pribadi. Devon mengangguk, menerima sesuatu yang dapat dibuktikan pada pertemuan berikut.
Di penthouse, ia menceritakan bagian yang berkaitan kepada istri. Davina mendengar, kemudian menanyakan bagaimana rasanya menyebut tanggung jawabnya sendiri kepada ayah. Devon mengaku malu dan takut dinilai tidak mampu menjalani perkawinan yang sudah diatur. Ia juga lega tidak lagi memakai kesalahan orang lain untuk membuat bagian dirinya tampak lebih kecil.
'Aku senang kamu mengatakan itu untuk dirimu,' jawab Davina. 'Bukan supaya aku harus memberi jawaban di depan keluargamu.'
Devon mengangguk. Ia tidak mengharapkan istrinya menyatakan semua sudah dimaafkan. Namun, ketika Davina mendekat untuk memeluk, ia menerima dengan rasa syukur yang tidak harus menjadi tuntutan berikut. Ia mencium rambutnya, lalu mendengar keluhan bahwa ia meninggalkan wadah makanan yang sudah dikembalikan ibu di dalam mobil. Pria itu tertawa, mengaku ternyata masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan hari itu.
Sore berlalu dengan Davina menyelesaikan latihan dan Devon mengambil barang yang terlupa. Mereka kemudian memasak dari bahan yang tersedia, memilih tidak membuat percobaan rumit lagi. Saat makan, Davina mengatakan ia ingin kembali menemui orangtuanya setelah keputusan dewan, bukan untuk menyampaikan kabar bahwa ia sudah menjadi istri yang berhasil. Ia ingin mengatakan sesuatu yang kini lebih jelas: ia memilih hidup bersama Devon dan ingin keluarga mengenal pilihan itu sebagai miliknya.
'Aku ingin mengatakan hal yang sama,' jawab suaminya.
'Kalau begitu kita tunggu rapatnya selesai, lalu datang sebagai diri kita sendiri.'
Ia tersenyum, meraih tangan Davina sebentar. Keputusan perusahaan masih memerlukan kerja orang-orang yang memang berwenang. Namun, malam itu mereka sudah dapat menyebut apa yang ingin dibawa pulang setelah semua keputusan dibuat, tanpa menunggu orangtua memberi nama pada perasaan yang telah mereka ketahui sendiri.