Selasa sesudah acara besar, Davina mengikuti pertemuan penutup rangkaian pengantar keuangan. Ia datang dengan bahan yang telah dikerjakan sendiri dan beberapa koreksi dari pertemuan sebelumnya. Latihan akhir tidak membuatnya tiba-tiba dapat membaca seluruh persoalan perusahaan. Namun, ia kini lebih mudah menemukan pertanyaan awal, membedakan jumlah yang terlihat dari kewajiban yang belum dibayar dan mengaku bila ada bagian yang memerlukan penjelasan orang yang lebih ahli.
Ia duduk di dekat teman yang dahulu mengirim foto papan ketika catatannya tertinggal. Keduanya membandingkan persiapan tanpa saling menyalin jawaban. Temannya menanyakan apakah Davina masih bekerja dua hari terjadwal. Ia menjawab iya, lalu menceritakan pernah mendapat tawaran lebih besar yang belum diambil. Ia dapat menyebutnya tanpa segera merasa harus mempertahankan keputusan dengan seluruh riwayat pernikahan serta harapan keluarganya.
'Aku dulu akan langsung bilang iya,' katanya. 'Karena takut kesempatan berikutnya tidak ada.'
'Sekarang?'
'Masih takut. Tapi takut saja tidak membuat waktuku bertambah.'
Mereka tertawa kecil sebelum pengajar masuk. Pembahasan dimulai dari contoh yang pernah dikerjakan, lalu peserta diminta menjelaskan alasan. Davina mendapat bagian mengenai biaya yang tampak lebih rendah tetapi memerlukan pengiriman tambahan. Ia menyebut hal yang perlu diperiksa, lalu berhenti ketika menyadari hampir memberi angka yang tidak tersedia. Ia mengatakan belum dapat menyimpulkan tanpa biaya lengkap. Pengajar mengangguk dan meminta ia meneruskan berdasarkan batas tersebut.
Setelah penilaian, ia menerima umpan balik: pemahaman dasar berkembang, penjelasan cukup jelas dan ia masih perlu berlatih membaca beberapa hubungan angka. Davina melihat catatan itu, merasa bangga tanpa harus mengubahnya menjadi pengumuman bahwa ia kini pantas memimpin semua bagian. Ia menyelesaikan yang dipilih, dengan hasil yang dapat digunakan dan kekurangan yang tidak perlu disembunyikan agar keluarganya tidak malu.
Pada akhir pertemuan, mereka bertukar kabar tentang pekerjaan masing-masing. Ada yang ingin mengambil tingkat berikut, ada yang hanya membutuhkan bagian dasar untuk tugas sekarang. Davina mengatakan akan memakai pelajaran dalam pekerjaannya dahulu. Ia juga ingin mempunyai Selasa yang tidak selalu diisi kelas, setelah beberapa waktu hampir semua hal yang menarik membuatnya ingin segera mendaftar. Temannya tertawa, mengaku baru menghapus satu pilihan lain dari daftar.
Teman di sebelah meminta mereka tetap saling memberi kabar, terutama bila menemukan bahan bacaan yang mudah dipahami. Davina menyetujui dan mengirim judul yang sudah dipakai, lalu mendapat rekomendasi lain. Ia senang hubungan belajar tidak harus berakhir begitu meja kelas dirapikan. Sebelum pulang, mereka berfoto dengan kertas hasil yang sengaja tidak diperlihatkan dekat kamera. Yang ingin dikenang hari itu adalah wajah lelah serta tawa sesudah menyelesaikan sesuatu bersama.
Devon tidak menjemput karena pertemuan kantor yang waktunya sudah diketahui. Ia mengirim pesan selamat sebelum Davina keluar dan meminta kabar setelah tiba. Istrinya membalas dengan foto hasil yang ingin dibagi, lalu pulang sendiri. Ia tidak merasa pencapaian menjadi lebih kecil karena suami tidak berdiri menunggu di pintu. Ada bagian yang dapat dinikmati bersama nanti, setelah ia menikmati perjalanannya sendiri lebih dahulu.
Di penthouse, ia menyimpan buku dekat bahan Prancis yang telah selesai. Dua pilihan belajar menghasilkan tumpukan catatan yang tidak rapi pada beberapa halaman, tetapi benar telah dijalani. Davina menatap sebentar, lalu mengirim pesan kepada Mama serta Em. Ibunya segera menelepon, mengucapkan selamat dan menanyakan apakah ia ingin makanan kesukaan pada kunjungan berikut. Putrinya tertawa, menjawab ia memang sedang menantikannya.
Ketika Devon pulang, ia menemukan Davina memilih tempat menyimpan catatan. Pria itu memberi selamat lagi, kali ini dengan pelukan yang diterima istrinya. Ia menanyakan bagian yang paling sulit dan mendapat kisah mengenai angka yang hampir dibuat-buat karena terlalu ingin menjawab. Devon tertawa, mengaku ia sendiri masih menemukan dorongan itu pada pertemuan yang tidak memberinya waktu berpikir lama.
'Jadi belajar tidak menjamin kamu berhenti melakukannya?' tanya Davina.
'Kalau menjamin, aku seharusnya sudah sangat mudah hidupnya sekarang.'
Mereka tertawa. Davina kemudian menanyakan apakah suami ingin membaca hasil penilaian atau mendengar ceritanya saja. Devon memilih keduanya, lalu duduk dengan perangkat yang diberikan. Ia memandang komentar pengajar dan mengatakan ia senang bagian yang belum kuat tetap ditulis. Istrinya mengangguk. Ia tidak ingin menerima pujian kosong hanya karena orang mengenali nama keluarganya.
Malam itu mereka tidak membuat perayaan besar. Davina memilih makan yang sudah tersedia dan satu makanan penutup yang dibeli pada perjalanan pulang. Devon menyimpan sebagian untuk besok agar keduanya tidak kembali mengeluh terlalu kenyang. Istrinya memprotes sambil tersenyum, lalu menerima. Ia ingin menikmati hasil kecil tanpa semua harus membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Sesudah makan, bahan penetapan perusahaan untuk Kamis sudah tersedia, dan mereka membaca pada waktu yang memang disediakan. Usul akhir membedakan kebutuhan rutin yang telah diterima dalam rencana, kewajiban baru serta perubahan strategis yang memerlukan persetujuan pemilik. Ada penanggung jawab pengganti dan akses pemeriksaan yang tidak memberi satu pihak hak menghentikan semua perkara tanpa alasan. Perbedaan yang dibahas di rumah sebelumnya tercantum bersama akibatnya.
Davina meminta penasihat memastikan satu barang bernilai rendah dengan pembaruan panjang tidak otomatis masuk rutin. Devon meminta satu kebutuhan yang spesifikasi serta pemasoknya sudah disetujui tidak perlu diperiksa dua kali sebelum setiap pengiriman. Keduanya menerima perbaikan rumusan, lalu menyampaikan pandangan melalui jalur masing-masing. Mereka tidak perlu berpura-pura lupa pernah berbeda pendapat agar hasil akhirnya dapat didukung.
'Aku ingin Kamis benar menghasilkan keputusan,' kata Davina ketika bahan ditutup.
'Aku juga. Kita sudah cukup lama meminta orang menjalankan sesuatu yang setiap saat seolah bisa dimulai lagi dari awal.'
Davina mengangguk. Ia menaruh map di tempat yang mudah diambil, kemudian mendekat kepada suami yang sedang mematikan lampu meja. Ia mengatakan hari itu membuatnya merasa lebih mampu, meski tidak lebih tahu segala hal. Devon mencium keningnya dan menjawab ia senang melihatnya demikian. Mereka bersiap tidur dengan satu tingkat belajar yang selesai serta satu keputusan yang akan dihadapi, tanpa harus menjadikan keduanya ukuran apakah cinta mereka pantas diteruskan.