Tiga minggu setelah konfirmasi pilihan, Jumat pagi pusat konferensi menerima peserta acara perusahaan yang telah dipesan dua bulan sebelumnya. Ruang alternatif disiapkan sesuai susunan yang dipilih Ratih. Ruang utama telah menyelesaikan pemeriksaannya pada pekan terakhir, tetapi tidak menjadi alasan memindahkan penyelenggara. Gambar kerja acara, harga serta waktu akses yang sudah diterima tetap dipakai. Pengelola tidak perlu meminta klien mengulang persiapan karena gedung akhirnya mempunyai pilihan yang lebih mahal.
Davina datang ketika meja penerima tamu mulai digunakan. Ia menyapa Ratih dan menanyakan siapa yang perlu ditemui bila ada perubahan. Perempuan itu menunjuk manajer yang berdiri dekat staf layanan, lalu memperlihatkan daftar yang sudah dipakai timnya. Davina tidak mengambil alih daftar peserta atau berdiri memerintah di pintu. Ia datang pada kapasitas pemilik yang diundang, ingin melihat pekerjaan orang yang selama ini dikenalnya lewat laporan.
Devon tiba beberapa menit kemudian bersama perwakilan Mahawira. Ayahnya ikut pada bagian pembukaan atas undangan yang telah diberikan. Ia melihat ruangan, menanyakan mengapa tidak memakai ruang utama yang kini selesai. Putranya menerangkan pilihan klien sudah ditetapkan tiga minggu sebelumnya, dan berpindah sekarang justru membuat mereka menanggung persiapan tambahan. Ayah memandang susunan meja lalu mengangguk, tidak meminta pengelola menawarkan harga penuh sekali lagi sebelum acara dimulai.
Di lobi, beberapa kendaraan datang hampir bersamaan. Antrean sempat menumpuk pada sisi yang tidak diharapkan Ratih. Manajer mengarahkan petugas membuka jalur penerimaan kedua yang sudah disiapkan, sementara staf menunjukkan tempat menunggu. Davina menyingkir agar orang dapat lewat, menahan keinginan segera ikut memberi arah yang mungkin berbeda dari petunjuk. Beberapa menit kemudian peserta bergerak masuk tanpa pintu harus ditutup untuk berdebat.
'Itu bagian yang waktu kita mencoba sudah saya khawatirkan,' kata Ratih ketika sempat menghampiri.
'Sudah ditangani?' tanya Davina.
'Sudah. Saya cuma ingin memastikan orang yang datang berikut tahu pintu mana.'
Ia kembali menemui staf sebelum Davina perlu menjawab. Devon yang mendengar tersenyum kecil, mengatakan orang yang paling tahu kebutuhan acara akhirnya mempunyai jalur untuk bekerja. Istrinya mengangguk. Mereka duduk pada tempat yang ditunjukkan dan mendengar pembukaan. Suara sampai pada sisi belakang seperti ketika diuji, meskipun ruangan yang penuh orang terasa berbeda dari contoh tata letak dengan beberapa kursi kosong.
Pada satu pergantian pembicara, mikrofon pengganti diperlukan. Teknisi bergerak membawa perangkat yang sudah disiapkan tanpa memanggil pemilik untuk menyetujui. Pembicara menunggu sebentar, membuat satu lelucon yang diterima dengan tawa, kemudian meneruskan. Davina melihat Ratih mengangkat ibu jari kepada petugas dari samping ruangan. Gangguan kecil tetap terjadi, tetapi tidak berkembang menjadi kebingungan karena semua orang mengetahui siapa melakukan apa.
Ayah Devon mencondongkan tubuh, menanyakan apakah pengeluaran alat pengganti perlu diperiksa sesudahnya. Putranya menjawab perlengkapan itu bagian layanan yang sudah disetujui. Bila ada pembelian baru, manajemen mencatat sesuai batas tugas. Ia tidak perlu berdiri meninggalkan acara untuk menandatangani benda yang memang sudah harus tersedia. Ayah mengangguk lagi, kali ini sambil melihat petugas kembali menyimpan alat yang tidak dipakai.
Pada jeda, peserta memenuhi bagian minum dan makanan. Devon berbicara dengan seorang tamu mengenai pekerjaannya di DM Electronics serta pengalaman memilih perangkat untuk ruang kerja. Davina menemui pengelola sebentar, menerima kabar tidak ada perubahan besar lalu kembali kepada tempatnya. Ia sempat ingin memeriksa setiap sudut karena hari penting, tetapi melihat orang yang bertugas bergerak tanpa harus menunggu ia mengangguk.
Arman datang pada bagian yang telah disepakati dengan pengelola untuk melihat penggunaan fasilitas. Ia berbicara dengan Devon serta Davina mengenai hasil yang dapat diamati, kemudian menanyakan apakah potongan harga tetap berlaku setelah ruang utama siap. Davina menjawab iya. Itulah pilihan yang diterima klien pada tenggat. Arman mengangguk, mengatakan angka tersebut harus tetap masuk laporan seperti yang sudah dibaca, bukan diganti oleh perkiraan pemasukan lain.
'Kami tidak akan menghapusnya karena acara berjalan baik,' kata Devon.
'Bagus. Saya ingin tahu pekerjaan seperti ini dapat diulang, bukan hanya diberi penampilan baik pada hari kunjungan.'
Pembicaraan berhenti ketika Ratih memberi tanda bagian berikut akan dimulai. Mereka kembali menjadi tamu yang mengikuti jadwal penyelenggara. Davina menikmati satu pembicaraan yang tidak berkaitan dengan gedung, menuliskan kalimat yang ingin diingat karena menarik. Ia hampir lupa betapa menyenangkan mendengar sesuatu tanpa harus mencari risiko atau siapa yang seharusnya memberi persetujuan.
Menjelang akhir sore, acara ditutup sesuai susunan yang sudah disesuaikan. Peserta keluar bertahap. Ratih berdiri dekat pintu, tampak lelah tetapi tidak lagi tegang seperti hari konfirmasi. Ia menghampiri pengelola, mengucapkan terima kasih dan menyampaikan dua catatan layanan yang ingin dikirim resmi. Davina mendengar tanpa berharap semua yang disebut hanya pujian. Hari yang berjalan tidak harus diubah menjadi cerita bahwa tidak satu pun bagian perlu diperbaiki.
Tulisan nomor meja perlu dibuat lebih besar, dan waktu mengisi ulang minuman pada satu jeda sempat terlalu lama. Manajer mencatat keduanya, memastikan siapa akan memberi tanggapan sesudah hasil tim dibaca. Ratih mengangguk, lalu menyimpan perangkat untuk kembali berpamitan kepada peserta terakhir.
'Saya tetap lebih suka rencana awal kalau sudah pasti waktu itu,' kata Ratih kepada mereka. 'Tapi pilihan yang ini bisa dikerjakan. Tim saya tidak harus menebak lagi sampai pagi acara.'
Davina tersenyum dan berterima kasih. Pengelola menyelesaikan bagian penutupan bersama penyelenggara, lalu pemilik beranjak memberi ruang untuk pekerjaan berikut. Ayah Devon berpamitan kepada staf yang berada di dekatnya dan mengatakan acara tampak teratur. Putranya menerima pujian untuk tim, tidak mengubahnya menjadi pidato tentang siapa akhirnya terbukti benar di depan keluarga.
Di mobil, Davina melepas napas panjang dan mengatakan ia lelah meski tidak melakukan separuh pekerjaan Ratih. Devon tertawa, mengaku ia juga beberapa kali ingin ikut memastikan yang sebenarnya sudah ditangani. Mereka memilih pulang sebelum memutuskan makan apa. Saat kendaraan berhenti, ia meraih tangan suami dan menggenggam. Acara yang pernah menjadi tenggat pada kalender kini benar sudah terjadi, dengan orang-orang yang pulang membawa pengalaman mereka sendiri.