Pada pekan berikutnya, tim menyerahkan bahan untuk keputusan akhir pembagian kewenangan perusahaan gabungan. Data dua lokasi yang sudah berjalan serta pelaksanaan investasi tidak lagi dikumpulkan dari awal. Mereka menunjukkan transaksi rutin yang dapat dijalankan manajemen, perkara yang tertahan karena bahan kurang dan komitmen yang memang mengubah risiko pemilik. Ada perbedaan antar unit, sehingga angka ringkas tidak dipakai menutupi kebutuhan yang berlainan.
Beberapa direktur Mahawira mengajukan usul memusatkan pengadaan serta penjadwalan staf pada satu pejabat mereka. Danajaya mendapat laporan, tetapi peninjauan transaksi tertentu dikurangi. Penasihat membaca akibatnya bersama kedua pihak. Usul belum menjadi keputusan hanya karena ditulis resmi, dan perubahannya memerlukan persetujuan pihak yang hak serta tanggung jawabnya terdampak. Davina meminta alasan berdasarkan kejadian, bukan kalimat umum bahwa manajer selalu terlalu lama menunggu.
Pemeriksaan contoh menemukan sebagian waktu habis sebelum bahan lengkap. Ada pula permintaan kecil yang sudah termasuk rencana tetapi tetap naik ke dua sisi karena orang takut menentukan. Devon ingin bagian kedua dapat diputuskan satu pelaksana yang ditetapkan, dengan jejak serta hak meninjau setelahnya. Davina sependapat pada tujuan, tetapi mula-mula ingin sebagian kategori tetap diperiksa sebelum pemesanan karena khawatir syarat panjang terselip pada nilai yang terlihat rendah.
'Kita sudah pernah menemukan pembaruan otomatis,' katanya pada pembahasan.
'Karena itu kategori harus memeriksa jenis komitmen, bukan cuma harga,' jawab Devon. 'Tapi tidak semua barang yang sudah disetujui perlu menunggu kita sekali lagi.'
Davina menatap bahan, merasa jawaban suami terlalu dekat dengan usul pihak yang ingin mengurangi suaranya. Ia menanyakan siapa menanggung bila manajer salah memakai kategori. Devon menjawab orang yang diberi tugas harus mempunyai kewajiban serta pemeriksaan yang jelas. Ia tidak ingin setiap pemilik merasa aman hanya karena masih memegang kesempatan menahan semua transaksi, sementara orang yang bekerja tidak tahu keputusan mana sebenarnya dapat diambil sendiri.
Percakapan menjadi lebih tegang. Penasihat meminta dua contoh dipisahkan: pembelian rutin dalam rencana yang syaratnya sudah diterima, dan kontrak bernilai kecil dengan kewajiban baru yang lebih panjang. Mereka memerlukan perlakuan berbeda. Devon serta Davina menyetujui dicatat, lalu membawa bahan untuk dibaca sebelum pertemuan penetapan sesudah acara besar. Tidak ada usul dipaksa diterima di ruangan itu demi menjaga wajah pasangan.
Sore hari, Davina pulang dengan perasaan kesal yang belum sepenuhnya dipahami. Devon mengabarkan akan tiba pada waktu biasa, kemudian datang membawa barang yang diminta. Ia menanyakan apakah ingin membahas tadi. Istrinya menjawab iya, tetapi beberapa menit kemudian menyadari ia lebih cepat mempertahankan diri daripada mendengar. Ia menuduh suami terlalu mudah mempercayai bahwa orang akan memakai batas dengan benar.
'Aku tidak meminta tidak diperiksa,' kata Devon. 'Aku meminta pemeriksaannya sesuai jenis pekerjaan.'
'Aku tahu kalimatnya. Aku cuma takut suara Danajaya tinggal laporan setelah semuanya terjadi.'
Devon menarik napas, lalu hampir menjawab ia selalu mengira yang paling buruk dari pihaknya. Ia berhenti sebelum menyelesaikan, memandang istrinya yang masih memegang kertas. Davina melihat wajahnya berubah, menyadari percakapan mulai memakai ketakutan lama sebagai jawaban untuk usul sekarang. Ia meletakkan bahan dan meminta jeda untuk makan lebih dahulu, bukan menghentikan pendapat yang belum dapat diterimanya.
Mereka menyiapkan makanan yang tersedia, bekerja pada sisi berbeda tanpa saling mengabaikan. Ada kecanggungan yang tidak hilang hanya karena sudah mengetahui cara berbicara. Devon mengambilkan piring dan Davina mengucapkan terima kasih. Ia tidak perlu menolak bantuan kecil agar suami memahami bahwa ia masih tidak setuju. Keduanya makan beberapa menit sebelum ia membuka pembicaraan lagi.
'Aku tadi mendengar semua itu seperti kamu ingin tidak ditanya lagi,' katanya. 'Padahal kamu menjelaskan transaksi yang sudah ada dalam rencana.'
'Aku juga sempat ingin bilang kamu tidak pernah percaya. Itu tidak adil pada pekerjaan yang sudah kamu setujui selama ini.'
Davina mengangguk. Ia mengaku batas Danajaya terasa lebih pribadi karena ia dulu takut pernikahan akan membuat semua pilihannya hilang. Namun, ketakutan tersebut tidak otomatis menentukan cara terbaik mengelola setiap pembelian. Devon mengatakan ia perlu mengakui dirinya menyukai kecepatan karena tekanan yang dulu dikenali, tetapi bukan berarti semua usul cepat dapat dianggap menghapus hak pihak lain.
'Kita tidak harus sepakat malam ini,' kata Davina.
'Tapi kita harus bisa menjelaskan yang benar berbeda sebelum orang lain menyimpulkan kita bertengkar sebagai suami istri.'
Mereka kembali pada dua contoh, kali ini menuliskan kebutuhan masing-masing. Davina tetap meminta peninjauan sebelum komitmen baru yang mengubah risiko, walaupun nilai awal kecil. Devon tetap mendukung satu pelaksana untuk kebutuhan rutin yang benar sudah disetujui. Penasihat diminta membantu merumuskan batas agar tidak ada pihak dapat mengganti nama transaksi untuk melewati tanggung jawab. Pendapat mereka tidak diseragamkan hanya agar pertemuan berikut terasa mudah.
Davina mengirim catatannya dari sisi Danajaya, Devon meneruskan bagian Mahawira pada jalur yang sama-sama diketahui. Balasan penasihat datang mengonfirmasi dua contoh akan diperlihatkan bersama akibat tiap pilihan. Davina membaca, menunjukkan kepada suami lalu menyimpan perangkat. Tidak ada bagian yang perlu dibuktikan lewat debat sampai larut di rumah. Ia senang dapat membawa pertanyaan ke tempat yang tepat tanpa harus lebih dahulu membuat Devon mengaku pendapatnya salah.
Sesudah bahan disimpan, Davina duduk di dekat suami dan menyentuh tangannya. Ia mengatakan perbedaan tadi tidak membuatnya ingin menjauh, hanya lelah harus membedakan rasa takut dari pertanyaan yang benar perlu dijawab. Devon membalas genggaman dan mengatakan ia juga lelah, lalu mengaku sempat ingin melihat senyum istri sebagai bukti pembahasan sudah selesai. Ia tahu itu tidak cukup dan tidak perlu diminta.
'Aku masih sayang kepadamu meski belum setuju,' kata Davina.
'Aku juga. Dan aku masih ingin menjelaskan usulku besok.'
Ia tertawa kecil, menerima bahwa keduanya dapat benar pada waktu yang sama. Mereka menutup malam tanpa keputusan perusahaan yang ditetapkan di sofa. Acara besar masih menunggu pekan berikut, kemudian forum yang memang berwenang akan mengambil keputusan akhir. Davina bersandar pada bahu suami, menikmati bahwa ia dapat mempertahankan pendapat tanpa harus membuktikan cinta dengan menyerah atau membuktikan kemandirian dengan pergi.