Sabtu, Davina datang menemui beberapa teman kelas Prancis yang baru selesai. Mereka memilih tempat makan dengan meja cukup panjang dan tidak membuat orang harus membeli hidangan mahal hanya agar dapat duduk bersama. Ia tiba sebelum semua datang, membantu menggeser kursi lalu menaruh tas. Tidak ada bahan penilaian dibawa. Kali ini mereka dapat salah mengucapkan sesuatu tanpa pengajar perlu menandai bagian yang harus diperbaiki.
Salah seorang teman mengatakan ia sudah mendaftar tingkat berikut, sementara yang lain ingin berhenti dahulu karena pekerjaan. Davina menjawab ia belum melanjutkan. Ada bagian yang masih ingin dilatih, tetapi kelas keuangan serta tugasnya memerlukan waktu. Ia mendengar pilihan orang lain tanpa buru-buru mengubah keputusan sendiri, lalu menanyakan cara temannya akan membagi jadwal yang hampir penuh.
'Mungkin aku akan menyesal sudah mengambil terlalu cepat,' jawab temannya sambil tertawa.
'Kamu belum mulai sudah menakutiku.'
Percakapan bergerak pada makanan serta kisah latihan yang pernah salah dipahami. Davina ikut tertawa ketika seseorang mengingat betapa ia pernah menjawab terlalu panjang untuk permintaan sederhana. Dahulu ia mungkin akan buru-buru menjelaskan alasan agar tidak tampak bodoh. Sekarang ia dapat mengakui memang terlalu ingin terdengar siap, lalu menerima ketika teman di sebelah mengatakan mereka semua punya versi kesalahan sendiri.
Sesudah makan, seorang teman meminta foto bersama. Davina langsung tersenyum setuju, kemudian merasakan ingatan yang datang tanpa diminta: foto sekolah yang pernah membuatnya malu, berada di tangan Devon pada saat ia belum tahu asalnya. Ia mengetahui jawaban itu sekarang. Ia sudah meminta salinan suami dihapus dan unggahan yang dihubungi diturunkan. Namun, ada bagian tubuhnya yang masih bersiap mendengar orang menertawakan dirinya sebelum gambar baru sempat diambil.
Ia menatap teman yang sedang mengatur telepon dan mengatakan ia ingin melihat hasil sebelum gambar dikirim. Orang itu mengangguk sewajarnya. Seorang peserta lain meminta jangan memasukkan fotonya ke akun terbuka, dan permintaan itu diterima tanpa komentar bahwa ia terlalu sensitif. Mereka berdiri dekat meja, menunggu staf mengambil gambar yang tidak membuat orang di belakang tertutup.
'Sekali lagi. Ada yang merem,' kata staf.
'Aku pasti,' jawab Davina sebelum melihat.
Semua tertawa, termasuk dirinya. Mereka mengambil dua gambar, memeriksa bersama lalu memilih satu yang akan dibagi pada kelompok. Tidak semua tampil seperti foto acara resmi, tetapi wajah mereka menunjukkan senang berada di sana. Davina meminta salinan dan menyimpannya, merasa lega tidak perlu menceritakan seluruh sejarah sekolah agar orang menghormati permintaan yang sederhana.
Dalam perjalanan pulang, ia mengirim satu foto kepada Devon dengan pesan bahwa kali ini tidak ada penilaian pelafalan. Suaminya membalas ia tampak gembira. Tidak ada pertanyaan siapa saja yang duduk di dekatnya atau permintaan mengirim seluruh gambar. Davina melihat jawaban itu beberapa saat, lalu menyimpan telepon dan menikmati sisa perjalanan tanpa sibuk memikirkan bagaimana memastikan dirinya tidak salah dipahami.
Di penthouse, Devon sedang mencoba menu yang pernah disebut di taman. Persiapan dimulai lebih awal, bahan yang diperlukan sudah dihitung dan dapur tetap tampak seperti ada orang memindahkan semua isi lemari. Davina tertawa dari pintu. Ia bertanya apakah ini hasil membaca sampai akhir atau bagian yang belum pernah diperiksa. Suaminya menunjuk buku terbuka, membela bahwa pekerjaan kali ini memang lebih banyak.
'Aku belum mengundang siapa pun,' katanya.
'Aku tinggal di sini. Aku tidak bisa menolak undangan dengan mudah.'
'Kamu boleh menilai dengan kejam setelah mencicipi.'
Davina tertawa lalu mencuci tangan untuk membantu bagian yang masih dapat dikerjakan. Ia tidak mengambil alih resep. Suaminya sudah menyediakan waktu untuk mencoba dan ia ingin melihat caranya menyelesaikan. Ketika ada pertanyaan mengenai satu bahan, keduanya membaca petunjuk lalu memutuskan sesuai yang tersedia. Makan tidak menjadi kejutan yang menuntut ia memuji sebelum tahu rasa.
Sambil menunggu, Davina menunjukkan foto pertemuan dan menceritakan perasaan yang sempat datang. Devon melihat, meletakkan perangkat pada meja lalu menatap istrinya. Ia mengatakan menyesal pernah memakai foto Darrel serta masa sekolah untuk membuatnya merasa lebih kecil. Ia tidak menyebut itu tanda cemburu yang seharusnya membuat perempuan tersanjung. Ia telah meminta gambar karena ingin tahu, lalu memilih memakainya untuk menyakiti.
'Aku tahu asalnya sekarang,' kata Davina. 'Dan unggahan yang kuhubungi sudah diturunkan. Aku tidak ingin menghabiskan hidup mengejar semua orang yang mungkin pernah melihat.'
'Kamu tidak perlu melakukannya supaya aku berhenti memperlakukannya sebagai bahan.'
Davina mengangguk. Ia mengatakan ia juga tidak ingin Darrel serta kenangan penghinaan masa orientasi menentukan apakah ia berani berada dalam foto bersama teman baru. Masa itu pernah membuatnya malu, tetapi bukan bukti ia pantas ditertawakan sekarang. Devon mendengarkan, lalu menanyakan apakah ia ingin satu salinan dicetak untuk dirinya. Istrinya tersenyum dan mengatakan mungkin nanti, setelah memilih tempat yang tidak membuat meja penuh bingkai.
Makanan akhirnya siap. Mereka mencicipi dengan wajah serius yang segera gagal dipertahankan. Rasanya cukup baik, satu bagian terlalu lama dimasak dan saus justru menjadi yang paling disukai. Devon tampak lega lebih daripada yang ingin diakuinya. Davina mengambil tambahan dan mengatakan ia senang suaminya mencoba sesuatu karena ingin, bukan karena harus membuktikan dirinya berbeda dalam setiap kegiatan.
'Aku tetap ingin kamu menyukainya,' katanya.
'Aku suka. Yang itu tidak perlu kamu ragukan.'
Devon menyimpan catatan kecil mengenai waktu memasak yang ingin diubah lain kali. Davina menambahkan bagian yang paling disukai, kemudian menahan tawa melihat suaminya membaca dengan wajah sungguh-sungguh. Ia tidak sedang memberi nilai pekerjaan. Ia hanya ingin makanan berikut menyimpan sesuatu yang dipelajari dari makan bersama hari itu.
Setelah makan, mereka membereskan dapur lebih lama daripada waktu menyantap. Davina mengeluh pada jumlah wadah dan Devon menerima bagian terbesar untuk dicuci. Ia kemudian duduk dekat meja, melihat foto kelas sekali lagi. Perempuan yang tersenyum di sana bukan orang yang tidak pernah takut atau malu. Ia hanya seseorang yang kali ini memilih ikut berdiri, lalu menerima bahwa gambar dirinya dapat disimpan karena hari itu menyenangkan.