Senin, dewan menerima laporan bulan pertama pelaksanaan investasi yang ditandatangani beberapa minggu sebelumnya. Manajer membuka bahan dari pekerjaan yang sudah berjalan. Tim membawa pembayaran, komitmen, perubahan pekerjaan serta bukti penguatan yang telah diperiksa. Keputusan ruang acara pada Jumat masuk bersama penyesuaian pendapatan. Davina duduk dengan bahan yang sama seperti perwakilan Mahawira dan Arman, mendengar bagian yang baik serta yang masih memerlukan perhatian.
Satu pertanyaan menyangkut pergantian sementara pengawas saat izin keluarga. Peran serta penggantinya sudah tercatat, tidak mengubah keselamatan atau tenggat dan dilaporkan sesuai ketentuan biasa. Arman meminta penjelasan untuk memastikan kontak tetap dapat dijangkau, kemudian menerima bahwa itu tidak memberinya hak memilih siapa yang harus mengambil alih. Manajer tetap bertanggung jawab atas tim. Tidak perlu mengubah setiap giliran menjadi negosiasi antar pemilik modal.
Pengadaan berikut dilakukan bertahap sesuai kemampuan menyimpan dan tanggal pemasangan. Pemasok mempertahankan harga untuk bagian yang disepakati, tanpa perusahaan harus memenuhi gudang dengan barang yang belum siap dipakai. Kerugian dari penyesuaian harga acara tetap terlihat. Dewan menerima laporan dengan pekerjaan koreksi terbatas, bukan mengembalikan pelaksanaan yang sudah berjalan menjadi masa percobaan hotel dari awal.
Ketika pembahasan melebar pada seluruh perusahaan gabungan, ketua meminta tim menyiapkan satu usul akhir mengenai pembagian keputusan berdasarkan hasil yang sudah ada. Unit berbeda perlu batas sesuai tugas, tetapi pekerjaan rutin tidak dapat selalu kembali menunggu perkawinan anak pemilik membuat dua keluarga sepakat. Pertemuan penetapan dijadwalkan setelah acara besar selesai, dengan bahan dibagikan lebih dahulu. Davina menandai tanggal, ingin keputusan itu benar diambil dan tidak kembali hilang di antara permintaan data yang sama.
Seusai pertemuan, Papa menanyakan apakah ia puas dengan hasil investasi sejauh ini. Davina mengatakan ada bagian yang berjalan dan ada biaya yang tidak diinginkan, tetapi ia dapat menjelaskan keduanya. Ia tidak ingin membela semua hasil karena pernah mendukung kontrak. Papa mengangguk, lalu mengaku ia sendiri masih sering merasa perlu menilai apakah pihaknya menang lebih banyak daripada Mahawira.
'Kalau semua hal dihitung sebagai kalah atau menang, kita akan sulit menjalankan yang sudah disetujui,' kata Davina.
'Papa tahu. Tidak selalu mudah berhenti memikirkannya begitu.'
'Aku juga kadang begitu. Tapi laporan ini sebaiknya tetap dibaca sebagai pekerjaan.'
Mereka berpisah tanpa meminta satu sama lain berubah sepenuhnya hari itu. Davina pergi menyelesaikan tugas lain, lalu pulang pada jam yang sudah diberitahu. Di penthouse, ia melihat gambar taman dari anak penyewa dan tersenyum sebelum membuka latihan kelas keuangan. Ada pertanyaan yang dapat dijawab lebih mudah sekarang, serta satu yang masih perlu ditanyakan pada pertemuan Selasa. Ia menyimpan catatan itu agar tidak lupa ketika tiba giliran.
Rabu sore, ia membeli bahan yang sudah dipilih bersama Devon. Kelas Prancis rutinnya telah selesai pekan sebelumnya, sehingga ia tidak harus bergegas meninggalkan dapur untuk memenuhi jadwal lain. Suaminya datang ketika ia sedang mengeluarkan belanja. Devon mengaku hampir membeli bumbu yang ternyata sudah tersedia, lalu menunjukkan pesan daftar yang diperbarui sebelum ia membayar. Davina tertawa karena mereka hampir membawa pulang tambahan yang sama untuk ketiga kalinya.
'Kamu melihat pesanku atau cuma gambarnya?' tanya Davina.
'Aku melihat bagian yang kukira penting.'
'Ternyata bagian lain juga penting.'
Devon meletakkan tas sambil tertawa dan mencuci tangan. Mereka membuka resep yang ditandai, membagi pekerjaan sesuai kebutuhan. Davina memotong bahan, Devon menyiapkan bagian yang harus dimasak lebih dahulu. Sesekali keduanya berpindah agar tidak saling menghalangi. Satu bahan ternyata perlu disiapkan lebih lama daripada yang dibaca sekilas, tetapi tidak ada tamu yang harus menunggu hasil pada jam tertentu.
Ketika wajan terlalu penuh, Devon hampir memaksa semua masuk agar selesai sekaligus. Davina menanyakan apakah hasilnya masih akan sesuai, dan pria itu berhenti, memindahkan sebagian untuk giliran berikut. Ia tertawa pada wajah suami yang seolah baru dipergoki menawar petunjuk buku. Devon membalas ia dapat melihat sendiri mengapa orang sering ingin mengambil jalan lebih cepat walau sudah tahu alasannya tidak cocok.
Makan selesai lebih lambat daripada perkiraan. Saus sedikit terlalu kental, sayuran cukup baik dan keduanya lapar untuk menertawakan hasil tanpa menganggap perlu memesan ulang. Davina mengatakan ia ingin mencoba lagi pada kesempatan lain, mungkin dengan persiapan yang tidak dimulai setelah semua orang pulang kerja. Devon menerima, mengaku bagian memotong tampak lebih mudah ketika yang mengerjakan orang lain.
Istrinya menyodorkan potongan terakhir dari piring, lalu menatap ketika Devon malah mengambil bagian yang lebih besar. Pria itu berhenti, tersenyum dan membagi kembali. Davina tertawa, mengatakan ia tidak perlu mengembalikan semua, hanya ingin melihat apakah sengaja. Devon menuduhnya masih terbawa permainan Jumat. Ia meraih tangan suami, menarik dekat untuk mencium pipinya sebelum beranjak membawa piring.
Sesudah dapur bersih, mereka duduk dekat jendela. Davina menanyakan sesuatu yang selama ini baru disebut sekilas: apakah Devon dahulu pernah ingin hidup jauh dari pekerjaan keluarga. Pria itu berpikir, lalu mengatakan pernah membayangkan tinggal di kota lain, tetapi jarang menanyakan apakah keinginan tersebut cukup penting untuk dijalani. Ia lebih sering memikirkan jawaban yang akan diberikan ayah sebelum mengetahui jawabannya sendiri.
'Sekarang masih ingin?' tanya Davina.
'Kadang. Tapi aku juga menyukai sebagian hidupku di sini. Aku belum ingin menjual semuanya karena sedang lelah.'
Davina mengangguk. Ia sendiri ingin melihat tempat lain tanpa harus mengubahnya menjadi rencana pindah. Mereka membicarakan kota yang menarik, makanan yang ingin dicoba serta perjalanan yang mungkin dilakukan ketika waktu tersedia. Tidak ada tiket dibeli untuk membuktikan berani memilih. Ia senang cukup mendengar suami mempunyai keinginan yang tidak seluruhnya berasal dari tuntutan keluarga.
Menjelang tidur, Davina mengatakan ia menyukai Rabu itu. Devon tersenyum, menjawab ia juga, lalu mengeluh tangannya masih mencium bumbu meski sudah dicuci. Istrinya tertawa dan memeluknya sebelum mereka beranjak. Mereka mempunyai pekerjaan esok serta acara yang masih disiapkan, tetapi malam yang sudah dipilih tidak hilang di antara laporan. Ketika masuk kamar utama, Davina merasa ada lebih banyak cara hidup bersama daripada menunggu hari ketika tidak ada persoalan lagi.