Jumat, tepat tiga minggu sebelum acara perusahaan, Ratih datang sebagai wakil penyelenggara untuk menerima konfirmasi. Davina menyambut bersama pengelola, memperkenalkan perannya pada sisi pemilik lalu menyerahkan penjelasan fasilitas kepada orang yang menangani. Devon tiba ketika dua pilihan ruangan sedang disiapkan untuk ditunjukkan. Ruang utama belum selesai diperiksa untuk seluruh kebutuhan tambahan, sehingga mereka tidak dapat memberi konfirmasi seperti yang diharapkan pertama kali.
Ratih mendengar tanpa tersenyum. Ia mengatakan perusahaannya sudah mencetak sebagian bahan serta memberi tahu peserta mengenai lokasi. Ia tahu kontrak menyediakan pilihan, tetapi bukan berarti pekerjaannya menjadi ringan ketika harus mengubah susunan pada minggu yang sama. Davina mengangguk, tidak memakai klausul sebagai jawaban bahwa klien seharusnya tidak kecewa. Pilihan yang adil tetap mempunyai akibat pada orang yang menerimanya.
'Saya perlu tahu alternatif ini benar cukup,' kata Ratih. 'Bukan saya setuju sekarang lalu menemukan masalah pada pagi acara.'
Pengelola mengajaknya ke ruang yang telah digunakan dan diperiksa. Tim menyiapkan contoh tata letak, jalur penerima tamu serta kebutuhan suara. Ratih berjalan dari pintu masuk seperti peserta yang baru tiba, berhenti pada tempat nama akan diperiksa lalu menanyakan antrean ketika beberapa kendaraan datang bersamaan. Manajer menunjukkan jalur yang dapat dipakai tanpa mengganggu akses lain dan meminta staf mencoba posisi meja.
Davina berdiri di dekat pintu, melihat satu susunan membuat orang harus memutari kursi sebelum sampai ke tempat duduk. Ia menanyakan kepada pengelola apakah itu dapat diubah. Ratih mendekat, menunjukkan bagaimana tamu perusahaannya biasa bergerak. Mereka menata ulang beberapa bagian dengan bantuan staf, lalu mencoba berjalan kembali. Kali ini jalurnya lebih mudah dipahami tanpa orang harus diberi penjelasan panjang setiap beberapa langkah.
Pada uji suara, Ratih meminta seseorang berdiri pada sisi yang paling jauh. Pengelola memberi waktu teknisi menunjukkan hasil, tidak meminta semua puas hanya karena alat menyala. Ada bagian yang disesuaikan, kemudian suara dapat didengar seperti yang dibutuhkan. Ratih mencatat, menanyakan kontak yang akan benar hadir saat acara dan mendapatkan nama beserta pengganti yang telah disiapkan.
Seusai melihat, ia meminta waktu menelepon perusahaannya. Davina serta Devon menunggu pada tempat lain, membiarkan klien berbicara tanpa harus mempertimbangkan wajah mereka. Devon mengaku ia masih berharap ruang utama dapat diselesaikan sebelum hari acara. Davina mengatakan mungkin saja, tetapi hari konfirmasi tetap hari ini. Ratih perlu menyusun pekerjaan berdasarkan sesuatu yang siap diterima, bukan ikut berharap bersama mereka selama tiga minggu berikut.
'Aku tahu,' katanya. 'Aku hanya masih menghitung selisih harganya.'
'Aku juga. Tapi selisih itu memang bagian dari pilihan yang kita tawarkan.'
Ratih kembali dengan keputusan menerima alternatif serta penyesuaian harga yang tercantum. Ia meminta susunan, perangkat dan waktu akses yang diperiksa hari itu menjadi bahan pelaksanaan bersama. Pengelola memastikan, meneruskan konfirmasi tertulis kepada pihak yang berwenang dan salinan yang sama diterima penyelenggara. Pilihan membatalkan tanpa biaya tidak dipakai. Tanggal acara tetap, ruang alternatif menjadi lokasi yang dipersiapkan sampai hari pelaksanaan.
'Kalau ruang utama jadi lebih cepat, jangan pindahkan kami mendadak,' tambah Ratih. 'Saya tidak mau mengulang penataan setelah semua orang sudah bekerja dengan gambar ini.'
Devon mengangguk. Ia menyampaikan pilihan yang sudah diterima akan dihormati. Fasilitas yang kelak siap dapat dipakai untuk kebutuhan lain, tetapi tidak menjadi alasan mengubah keputusan pelanggan agar perusahaan memperoleh harga yang semula diinginkan. Ratih tampak sedikit lebih tenang. Ia berpamitan dengan beberapa pekerjaan baru, tetapi tidak lagi harus menunggu jawaban yang belum jelas kapan akan datang.
Di dekat pintu, Ratih menelepon rekan yang menunggu di kantornya. Davina mendengar ia menyebut gambar yang dapat dipakai tim undangan serta waktu peralatan masuk. Suaranya lebih cepat dan pasti daripada ketika datang. Ratih sempat menoleh, mengucapkan terima kasih karena sempat menguji jalur langsung. Davina mengangguk, merasa penyesalan kehilangan ruang utama dapat berjalan bersama lega akhirnya ada keputusan yang dapat dikerjakan orang lain.
Setelah klien pergi, pemasaran memperbarui angka pendapatan. Potongan harga benar masuk perhitungan dan tidak ditutup oleh penghematan yang belum terjadi. Davina melihat jumlahnya, merasakan kecewa yang masih sama, lalu menyetujui keterangan dari sisinya. Ia tidak menyesal mempertahankan pemeriksaan balok atau mutu pekerjaan. Namun, ia juga tidak ingin menyebut semua keputusan baik sebagai sesuatu yang tidak memerlukan pengorbanan uang.
Devon memberi kabar kepada ayah sebelum angka beredar dalam ringkasan lain. Ia menerangkan keputusan klien serta alasan jadwal. Ayah tidak senang pada penurunan pendapatan, tetapi menerima bahan untuk dibaca pada laporan yang sama. Putranya tidak menawarkan mengejar harga melalui janji pribadi. Ia menutup panggilan, menyimpan telepon lalu menanyakan apakah Davina sudah makan.
'Belum. Aku dari tadi menunggu Ratih selesai memilih.'
'Aku juga. Kita sebaiknya tidak memakai rasa lapar untuk menilai pekerjaan siapa pun lagi hari ini.'
Davina tertawa. Mereka membeli makan dekat lokasi dan duduk pada meja yang tidak terlalu jauh dari pintu. Ia melepaskan napas, baru menyadari betapa tegang menunggu jawaban klien. Devon mengatakan ia bangga dapat memberi pilihan yang sungguh dilihat, lalu mengakui ia tetap ingin hari acara berjalan baik supaya tidak perlu menanggung kekecewaan berikut. Istrinya mengangguk, merasakan harapan yang sama tanpa menjadikannya jaminan.
Sepulang kerja, Davina menemukan pesan teman kelas mengenai kegiatan santai setelah tingkat selesai. Ia mengatakan akan melihat waktu, lalu menyimpan telepon. Malam Jumat sudah disediakan bersama Devon dan ia ingin menepatinya. Mereka tidak pergi jauh, hanya memilih makan di rumah serta permainan sederhana yang membuat suaminya terlalu percaya diri sebelum kalah pada putaran pertama.
'Kamu tidak boleh mengubah aturan setelah kalah,' kata Davina ketika ia memprotes.
'Aku hanya menanyakan apakah kita membaca bagian ini dengan cara yang sama.'
Ia tertawa, menyodorkan petunjuk lalu menunggu Devon memeriksa sendiri. Mereka meneruskan dengan aturan yang sudah dibaca, saling mengejek tanpa membuat kemenangan perlu dibayar orang lain. Untuk malam itu, angka yang ingin dilihat Davina hanyalah poin permainan, dan ia sangat menikmati bahwa suaminya belum juga dapat mengejarnya.