Kamis, hasil uji sampel sejak awal pekan diterima. Bahan akustik alternatif dapat dipakai pada ruang kecil, tetapi tidak memenuhi kebutuhan ruang utama. Pengadaan dibedakan berdasarkan ruang serta fungsi, dengan komitmen keseluruhan tetap ditinjau menurut batas yang berlaku. Davina membaca ringkasan dan menerima alasan yang dapat diperiksa, tidak meminta seluruh lokasi memakai bahan murah agar perbandingan harga tampak lebih baik.
Pada karpet, harga pengiriman yang sudah terkunci tidak dapat sekadar dinaikkan melalui pesan. Penasihat meminta bukti untuk bagian bahan yang memang mempunyai ketentuan penyesuaian. Tim kemudian membandingkan pemasok yang sesuai mutu, ukuran serta garansinya. Keputusan pekerjaan dibuat melalui manajemen dan pihak berwenang, sementara Davina memantau bagian yang menyangkut komitmen pemilik. Ia tidak berkeliling membawa warna sendiri untuk menggantikan orang yang menangani desain.
Namun, potongan yang datang untuk ruang utama berbeda cukup jelas saat dicoba dalam kondisi lampu sebenarnya. Pemasok menawarkan penggantian tanpa biaya, dengan pengiriman dua hari kemudian. Pengelola menerima untuk mendapatkan hasil yang memang disepakati. Akibat waktunya masuk pembaruan. Ruang itu belum dapat dinyatakan lengkap pada Jumat ketika klien acara besar harus mendapat konfirmasi tiga minggu sebelum tanggalnya.
Davina menelepon Devon setelah membaca keterangan tersebut. Ia merasakan kecewa yang hampir berubah menjadi keinginan menanyakan apakah perbedaan warna dapat diabaikan. Namun, masalahnya bukan hanya warna: rangkaian fasilitas utama belum selesai diperiksa untuk kebutuhan acara. Mereka masih mempunyai alternatif yang nyata dan telah dibicarakan. Devon mengatakan ia akan hadir pada pembahasan pilihan esok, tidak meminta pemasaran menunggu kabar sampai batas terlewat.
'Aku ingin ruang utama bisa dipakai,' kata Davina.
'Aku juga. Tapi keinginan kita belum membuatnya siap.'
Ia tersenyum lelah. Suaminya terdengar seperti sedang mengingatkan dirinya sendiri, dan ia senang dapat menerima kalimat tersebut tanpa menganggap perlu dibantah agar tetap mempunyai suara. Mereka mengakhiri telepon setelah waktu pembahasan dikonfirmasi. Davina meneruskan pekerjaan yang dapat diselesaikan, lalu menerima panggilan Papa yang justru menanyakan kabar penghuni rumah sewa.
Ia menceritakan masalah keran sudah ditangani melalui garansi dan keluarga memberi kabar nyaman. Papa terdengar lega. Ia kemudian menanyakan apakah Davina ingin mencari rumah bersama Devon kelak, lalu cepat menambahkan bukan sedang menyuruh. Putrinya tertawa kecil, mengatakan mereka sudah memilih tetap di penthouse untuk sekarang. Tidak ada rencana membeli yang sedang disembunyikan agar orangtua tidak ikut menentukan.
'Papa hanya ingin tahu kamu bahagia atau tidak,' katanya.
'Aku bahagia sekarang, Pa. Aku mencintai Devon. Tapi itu tidak membuat semua yang pernah terjadi jadi tidak penting.'
Papa terdiam sebelum menjawab ia mengerti. Davina mengatakan ia ingin tetap dapat menceritakan hari yang berat tanpa keluarga langsung membatalkan semua hal baik, dan ingin menceritakan yang menyenangkan tanpa dianggap tidak perlu pertolongan lagi bila suatu hari susah. Ayahnya menarik napas, mengaku sulit tidak ingin segera memberi jawaban. Namun, ia dapat mendengar putrinya meminta didengarkan lebih dahulu.
'Papa bisa tanya aku membutuhkan apa,' kata Davina. 'Kadang jawabannya cuma ingin makan masakan Mama.'
Papa tertawa, mengatakan ia akan menyampaikan kepada orang yang bersangkutan. Telepon berakhir dengan rencana kabar biasa, tanpa tanggal pindah atau anak harus ditentukan. Davina duduk sebentar setelahnya, merasakan hangat yang tidak berasal dari kelegaan menghindari pertanyaan. Ia sudah mengatakan bahagia apa adanya, sekaligus mempertahankan hak untuk tidak terlihat selalu baik pada hari berikut.
Sore itu Devon menjemput pada waktu yang disepakati. Mereka berjalan sebentar sebelum naik mobil, karena istrinya ingin meregangkan kaki setelah lama duduk. Davina menceritakan telepon Papa dan suaminya mendengarkan tanpa bertanya bagian mana yang membuat dirinya terlihat buruk. Ia mengatakan ia senang ayah menerima bahwa kabar bahagia tidak berarti semua pintu bantuan perlu ditutup. Davina meraih tangannya dan menggenggam sambil berjalan.
'Minggu depan Rabu kamu ada waktu?' tanya Devon kemudian.
'Aku baru selesai satu kelas kemarin. Kamu langsung melihat kesempatan untuk mengajakku pergi.'
'Aku sedang bertanya, belum mengirim undangan satu tahun.'
Davina tertawa. Ia mengatakan ingin mencoba malam yang lebih tenang di tengah pekan setelah kelas rutinnya selesai. Jumat tetap mereka sediakan seperti selama ini jika pekerjaan memungkinkan. Rabu berikut dapat dipakai memasak bersama, tanpa menjadikan semua Rabu setelahnya kewajiban yang tidak boleh berubah. Devon mengangguk, meminta ia memilih menu yang belum pernah mereka buat dan tetap mungkin selesai sebelum tengah malam.
Di rumah, mereka membuka buku masak yang sudah berkali-kali dipakai. Davina memilih sesuatu yang gambarnya menarik, lalu Devon membaca waktu persiapan dan menunjuk angka yang terlalu lama. Ia mengeluh foto seharusnya disertai peringatan lebih besar. Istrinya menertawakan wajahnya, mengubah pilihan dan mulai membaca bahan dengan lebih teliti. Mereka menemukan satu menu yang dapat disiapkan setelah kerja serta menandai halaman untuk Rabu berikutnya.
'Kamu betul-betul mau memotong semuanya?' tanya Devon.
'Aku mau membagi tugas. Bukan mengambil yang mudah lalu mengatakan kamu lebih berpengalaman.'
'Padahal itu alasan yang cukup sering kupakai untuk menyuruhmu membaca petunjuk perangkat.'
Davina tertawa dan mengaku ia juga masih melakukan hal serupa. Mereka menulis kebutuhan pada kertas, memeriksa yang sudah tersedia lalu mengembalikan beberapa benda ke tempatnya. Devon menemukan bumbu yang dibeli dua kali karena keduanya tidak memeriksa lemari. Istrinya menatap, kemudian mencoret dari daftar sebelum suaminya sempat membuat pidato mengenai pemborosan. Ia mengatakan mereka dapat membahas persediaan sambil membereskan, dan Devon menerima pekerjaan kecil itu dengan senyum yang membuatnya ikut tersenyum.
Sebelum makan malam, Davina menaruh kalender yang sudah diperbarui di tempat yang dipakai bersama. Ia menatap batas konfirmasi acara pada Jumat dan rencana memasak pekan berikut, dua perkara yang sama-sama ingin dijalani dengan baik. Yang satu tidak perlu mengambil semua ruang bagi yang lain. Ketika Devon memanggil dari dapur, ia datang membantu membawa piring, merasa lega ada hal yang dapat dipilih tanpa harus menunggu ruang utama selesai agar hidup mereka ikut berjalan.