Senin sesudah dana kedua diterima, tim teknis menguji pengarsipan gambar kerja bersama orang yang benar akan memakainya. Satu pekerja baru belum mempunyai akses dan masih membawa cetakan yang tidak jelas statusnya. Pengawas memastikan salinan yang sah tersedia sebelum ia ditempatkan pada pekerjaan terkait, lalu mengurus akses sesuai tugas. Davina membaca hasilnya, menanyakan siapa memeriksa kesesuaian di lapangan dan menerima nama penanggung jawab yang sudah ditetapkan.
Ia tidak menghadiri seluruh latihan. Tim dapat menjalankan orientasi tanpa pemilik duduk melihat setiap tombol ditekan. Bagian yang penting baginya adalah gambar yang dipakai dapat ditelusuri dan orang yang baru masuk tidak dianggap mengetahui informasi yang belum diterima. Sesudah pertanyaan itu selesai, Davina kembali pada pekerjaannya sendiri. Ia mempunyai hal lain yang membuat telapak tangannya jauh lebih dingin daripada laporan pengarsipan.
Rabu sore menjadi pertemuan terakhir rangkaian kelas Prancis yang selama ini diikuti. Ia membawa catatan, tetapi pengajar sudah mengatakan percakapan penutup tidak dapat dijalani dengan membaca semua jawaban. Davina tiba sedikit lebih awal dan mendapati beberapa teman sama gelisah. Mereka menertawakan usaha masing-masing terlihat tenang, lalu saling mengingatkan bagian yang paling sering tertukar saat berlatih.
'Aku takut lupa begitu berdiri,' katanya.
'Kalau lupa, tanyakan lagi. Kita bukan sedang melamar menjadi pengajar.'
Davina tertawa, mengakui pengingat itu berguna. Ia meletakkan tas dan menahan keinginan mengulang seluruh catatan dalam sepuluh menit. Ketika giliran mulai, ia mendengar teman menjawab dengan jeda serta kesalahan kecil yang tidak membuat pengajar menghentikan. Mereka diberi kesempatan memperbaiki, bertanya dan meneruskan. Tidak ada yang menuntut kalimat paling panjang untuk membuktikan sudah belajar.
Pada gilirannya, Davina mendapat percakapan mengenai permintaan sederhana tamu penginapan. Ia menjawab bagian awal, kemudian terhenti saat tidak menangkap satu rincian. Wajahnya menghangat. Ia hampir mengangguk seolah sudah memahami, kebiasaan yang sering membuat pekerjaan terasa lebih mudah pada menit pertama dan lebih sulit sesudahnya. Kali ini ia meminta pertanyaan diulang, mendengar lebih baik lalu memberi jawaban yang memang dimengerti.
Pengajar meneruskan percakapan dan menutup dengan beberapa catatan. Davina perlu lebih teratur berlatih pelafalan serta tidak buru-buru mengganti jawaban yang sebenarnya sudah cukup jelas. Ia mengikuti sampai selesai, mengucapkan terima kasih dan kembali duduk dengan kaki sedikit gemetar. Teman di samping menyodorkan minum, mengatakan ia tadi terdengar jauh lebih tenang daripada yang diceritakan sebelum mulai.
'Itu karena kamu tidak melihat tanganku,' jawab Davina.
Mereka tertawa pelan. Sesudah semua mendapat giliran, pengajar memberikan penilaian serta saran langkah berikut. Davina menyelesaikan tingkat yang diikuti, dengan bagian yang masih perlu dilatih. Ia tidak ingin langsung mendaftar lanjutan hanya karena teman lain sudah mengambil. Ia menyimpan bahan untuk dipakai lagi, ingin melihat dulu bagaimana waktu belajarnya terbagi dengan kelas keuangan yang masih berjalan.
Di luar ruangan, beberapa peserta berfoto dan saling bertukar kabar. Davina ikut pada satu gambar yang disepakati, kemudian berbicara dengan teman yang sering membantunya latihan. Ia mengaku akan merindukan pertemuan Rabu. Temannya menjawab mereka masih dapat bertemu tanpa pengajar menyuruh bercakap. Davina menyukai gagasan itu, tetapi tidak membuat janji setiap pekan yang akan segera sulit dipenuhi.
Sebelum pergi, ia kembali mengucapkan terima kasih kepada pengajar. Ia menyebut kebiasaan meminta pertanyaan diulang yang dahulu terasa memalukan. Pengajarnya tersenyum, mengatakan memahami apa yang ditanyakan merupakan bagian dari percakapan juga. Davina mengangguk dan menyimpan kalimat itu, tidak hanya untuk pertemuan kelas yang baru selesai.
Devon menunggu dekat pintu keluar, tersenyum ketika melihatnya. Ia tidak membawa hadiah besar yang membuat teman-teman menoleh. Ia hanya menanyakan apakah sudah selesai dan ingin makan. Davina mengangguk lalu meraih lengannya, mengatakan ia berhasil melewati percakapan tanpa pura-pura memahami pertanyaan yang tidak ditangkap. Suaminya tertawa, menjawab itu kedengarannya hal yang layak dirayakan.
'Tidak ada pidato tentang kamu bangga?' tanyanya.
'Aku sedang menunggu kamu selesai cerita. Kalau perlu, aku sudah menyiapkan dua kalimat.'
Davina tertawa keras dan memukul lengannya pelan. Mereka berjalan ke mobil, membicarakan hasil serta bagian yang ingin diperbaiki. Devon tidak meminta ia langsung menggunakan bahasa yang baru dipelajari di depan semua orang. Ia menyimak ketika istrinya mencoba satu potongan untuk dirinya, lalu menerima penjelasan bahwa ia sendiri bukan orang yang dapat menilai apakah pelafalan itu tepat.
Saat makan, Davina memandang jadwal di telepon. Rabu sore tidak lagi terisi kelas rutin tingkat itu. Ia merasa lega dan sedikit kehilangan sekaligus, perasaan yang baru saja dikenali ketika menyerahkan rumah. Ada hal yang selesai dengan baik tanpa harus segera diganti supaya hidup tidak tampak kosong. Devon menanyakan apakah ia ingin memakai waktu itu untuk apa pun yang belum sempat dilakukan.
'Aku belum tahu,' jawabnya. 'Mungkin untuk tidak pergi ke mana-mana dulu.'
'Itu terdengar seperti pilihan yang dapat kutemani sesekali.'
Davina tersenyum. Ia menyukai bahwa suaminya menyebut sesekali, bukan langsung mengklaim semua Rabu yang baru tersedia. Mereka dapat merencanakan jika ingin bersama, sementara waktu kosong tetap miliknya untuk dipilih. Ia menutup kalender dan menanyakan hari Devon. Ada persoalan pengiriman yang harus ditangani timnya, tetapi malam itu ia sudah memberikan jawaban yang diperlukan dan dapat menunggu kabar esok.
Di penthouse, Davina menyimpan bahan kelas pada tempat yang mudah diambil. Ia mengirim pesan kepada Em tentang hasil, mendapat ucapan selamat serta peringatan agar tidak menyuruh sahabat menjadi penguji mendadak. Ia tertawa, membalas bahwa tugas itu sudah ditawarkan kepada Devon yang ternyata tidak memenuhi syarat. Suaminya mendengar dari ruang sebelah dan mengajukan protes yang tidak membuatnya berhenti tertawa.
Sebelum tidur, ia melihat catatan awal yang ditulis ketika masih mengira akan menyerah setelah beberapa pertemuan. Ada banyak coretan dan pertanyaan yang sekarang lebih mudah dipahami. Davina menutup buku, mendekat kepada suami dan mengatakan ia senang telah memilih belajar. Devon menciumnya, menjawab ia juga senang mendapat cerita yang hanya dapat disampaikan karena istrinya benar pergi menjalani kegiatan itu sendiri.