Rabu sore, Davina duduk bersama tim Danajaya pada pertemuan persetujuan investasi. Ia membawa catatan yang sudah jauh lebih sedikit daripada pertama kali Arman mengirim tawaran. Devon berada pada sisi Mahawira, membaca bahan yang sama. Mereka bertukar pandang sebelum pembahasan dimulai, tersenyum sebentar lalu kembali pada pekerjaan. Duduk sebagai pasangan tidak membuat keduanya mempunyai tugas yang sama di ruangan itu.
Modal diberikan untuk perluasan hotel serta penyesuaian fasilitas konferensi yang tercantum, dengan pencairan bertahap. Dana pertama baru dapat diminta setelah kontrak ditandatangani, rencana kerja terbaru disetujui dan dokumen izin serta pemeriksaan persiapan yang dipersyaratkan terpenuhi. Tahap berikut bergantung pada bukti kemajuan, biaya dan penilaian teknis. Arman tidak memberikan hak kepada siapa pun menggunakan uang untuk pekerjaan lain hanya karena rekening proyek kelak mempunyai saldo.
Penasihat membacakan bagian kewajiban laporan serta pemeriksaan khusus. Auditor dipilih bersama, ruang lingkup terbatas pada proyek dan informasi pribadi yang tidak relevan tidak diberikan begitu saja. Batas persetujuan strategis kedua sisi tetap diterima, sedangkan manajemen menjalankan pekerjaan rutin dalam rencana. Bila terjadi perselisihan, jalur penyelesaian sudah ditentukan tanpa menjadikan pertengkaran pribadi pasangan sebagai pintu untuk mengikat perusahaan.
'Apakah semua syarat awal sudah selesai hari ini?' tanya seorang anggota dewan.
Manajer menjawab belum. Rencana pelaksanaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tamu serta urutan pekerjaan terakhir, kemudian pihak yang memeriksa memastikan kelengkapan dokumen. Arman menanyakan kapan bahan dapat diterima dan mendapat penjelasan persiapan pekan berikut. Ia meminta kabar bila jadwal berubah. Permintaan pencairan akan diajukan setelah bukti pemenuhan dikirim, sesuai isi yang sedang disetujui.
Ketika versi tanda tangan dibagikan, Davina menemukan tenggat pemberitahuan pada satu lampiran masih menyebut lima hari kalender. Catatan pembahasan terakhir menyebut lima hari kerja untuk perubahan biasa, dengan kabar segera bagi kejadian yang berdampak sebagaimana ditentukan. Ia menunjukkannya kepada penasihat. Mereka memeriksa, meminta perbaikan dan tidak menggunakan kelelahan semua orang sebagai alasan membiarkan dua kewajiban berbeda berada pada kontrak yang sama.
Selama menunggu, Devon mengambil air dan meletakkan satu gelas di dekat istrinya. Ia menanyakan apakah bagian lain sudah selesai diperiksa. Davina mengangguk, lalu mengingatkan agar ia makan sesuatu karena sejak siang hanya minum. Pria itu menunjukkan makanan kecil di meja dan mengaku belum sempat membuka. Ia menyodorkan sebagian, membuat keduanya tertawa pelan pada waktu yang terasa aneh untuk berbagi kudapan.
'Jangan sampai remahnya ikut ditandatangani,' kata Davina.
'Aku akan menyerahkan bagian itu kepada penasihat.'
Perbaikan lampiran datang dan dibandingkan sebelum dipakai. Dewan memberi persetujuan. Pengacara di sebelah Davina meneruskan halaman kepada penanda tangan yang mewakili Danajaya, lalu menunjuk salinan yang dapat disimpannya untuk pemantauan. Pada sisi Mahawira, penasihat mengonfirmasi kewenangan wakil yang menandatangani sebelum perjanjian diselesaikan. Devon menunggu bersama timnya dan memastikan bukti penerimaan lengkap. Davina melihat tanda terakhir terpasang pada layar, menahan napas sebentar lalu tersenyum. Pertanyaan yang dikerjakannya selama berminggu-minggu kini mempunyai jawaban yang mengikat pihak-pihak yang benar telah menyetujui.
Arman menjabat tangan wakil kedua sisi setelah salinan lengkap diterima. Ia mengatakan berharap pekerjaan berjalan sesuai yang direncanakan, lalu meminta kontak pelaksanaan dipakai untuk pertanyaan berikut. Tidak ada janji semua pasti lancar. Manajer menerima tanggung jawab menyusun bukti syarat awal, sedangkan kedua pemilik mendapat bahan yang sama untuk memantau apa yang akan dilakukan dengan modal tersebut.
Seusai pertemuan, Papa mendekati Davina. Ia senang pihaknya tidak kehilangan suara, tetapi mengakui perundingan jauh lebih lama daripada yang diharapkan. Putrinya mengatakan sebagian memang dapat disiapkan lebih baik dari awal. Ia tidak ingin setiap jam yang dipakai dianggap pasti berguna hanya karena hasilnya diterima. Papa tersenyum kecil, lalu mengatakan tim perlu belajar dari itu untuk pekerjaan berikut.
Di sisi lain, ayah Devon mengucapkan selamat kepada putranya. Ia mengatakan semula mengira berbagi persetujuan akan membuat Arman mundur. Devon menjawab mereka tetap harus membuktikan pekerjaan, bukan hanya menunjukkan tanda tangan. Ayah mengangguk, mengakui bentuk yang diterima berbeda dari kendali tunggal yang dahulu diinginkan. Ia belum berubah menjadi orang yang menyukai semua pertanyaan Danajaya, tetapi malam itu tidak meminta satu klausul dibuka lagi lewat percakapan keluarga.
Davina keluar setelah menyimpan bahan yang perlu dibawa. Devon menunggu di lorong, menanyakan apakah ingin makan di tempat yang tidak terlalu ramai. Ia menerima. Ketika masuk mobil, ia menghela napas panjang dan melepas sepatu sebentar, mengaku ingin duduk tanpa mendengar kata lampiran selama paling tidak satu jam. Suaminya tertawa dan menyetujui batas yang ia sendiri ingin dapatkan.
Mereka makan pada restoran kecil, memilih hidangan yang dapat diselesaikan berdua. Davina menanyakan apa yang paling membuat Devon lega. Ia menjawab akhirnya dapat berhenti membayangkan semua permintaan Arman sebagai kemungkinan yang belum mempunyai bentuk. Sekarang ada janji yang jelas dan pekerjaan untuk memenuhinya. Istrinya mengangguk, lalu mengaku ia senang tidak mengalah pada salah satu tenggat hanya agar orang lain tidak bosan menunggu.
'Aku bangga padamu,' kata Devon.
'Pada pekerjaanku atau karena aku tidak menghabiskan semua makanan sebelum kamu datang?'
'Keduanya layak dihargai.'
Davina tertawa, menyodorkan piring. Ia senang menerima pujian dari orang yang dapat membantahnya, bukan hanya menghendaki ia setuju. Setelah makan, mereka berjalan sebentar sebelum kembali ke mobil. Devon meraih tangannya dan Davina mendekat, menikmati rasa lelah yang datang sesudah sesuatu benar diselesaikan. Kontrak tidak membuat perkawinan sempurna, dan ia tidak membutuhkan hasil kerja sebagai alasan mencintainya.
Sampai di penthouse, mereka menaruh tas lalu berpelukan dekat pintu. Davina mencium suami, mengatakan ia ingin istirahat bersamanya. Devon mengangguk, membantu menyimpan barang sebelum mematikan lampu ruang tamu. Mereka akan membaca perkembangan pekerjaan lagi pada jadwal berikut. Malam itu ia ingin membawa dirinya yang lelah dan bahagia ke ranjang, dengan suami yang tidak meminta ia memilih salah satunya sebelum dapat didekati.
Ketika Devon menanyakan sisi selimut yang diinginkan, ia tertawa karena ternyata keduanya memilih yang sama. Mereka menggeser sampai cukup, lalu saling mengeluh pelan tentang udara kamar sebelum akhirnya berhenti berbicara dan tidur.