Draf akhir modal dibagikan kepada dewan sebelum pertemuan persetujuan. Tim memastikan pembatasan audit, data serta pemberitahuan sudah sesuai hasil pembahasan. Akses faktur berlaku pada proyek yang dibiayai, bukan semua informasi pemasok di luar kaitannya. Davina membaca bersama penasihatnya, menanyakan bagian yang belum dipahami. Persiapan rencana kerja serta dokumen izin berjalan terpisah; menandatangani modal belum dengan sendirinya membuat dana boleh dicairkan atau pekerjaan dimulai.
Ia menyukai bahwa daftar pertanyaan kini lebih pendek. Banyak bagian sudah dijawab dan tidak perlu dibuka kembali setiap kali ada orang baru menerima bahan. Devon juga mengirim bagian dari sisinya, memastikan biaya audit serta pelaporan telah dihitung. Rapat persetujuan dijadwalkan Rabu berikut. Mereka tidak mengubah makan malam keluarga yang baru dijalani menjadi pertemuan kedua untuk memberikan tanda setuju sebelum dewan membaca.
Sabtu, keduanya bertemu beberapa kerabat pada makan siang singkat di luar. Acara itu tidak membahas investasi. Davina senang dapat datang dengan pakaian yang dipilih karena nyaman dan mendengar kisah perjalanan yang jauh dari angka proyek. Devon duduk di sampingnya, sesekali mengeluh karena seseorang terlalu lama menceritakan bagian yang sebenarnya sudah pernah didengar. Davina menyentuh lengannya di bawah meja agar berhenti mengganggu.
Ketika pembicaraan berpindah pada keluarga muda, seorang kerabat menanyakan apakah mereka mulai memikirkan anak. Devon menjawab terlalu cepat, mengatakan Davina sedang sibuk dengan kelas serta pekerjaannya. Istrinya menoleh, mendapati keinginannya sendiri hilang di dalam alasan yang dianggap aman. Ia tahu suaminya ingin menghentikan pembicaraan, tetapi kali ini tidak ingin membiarkan jawaban itu menetap.
'Aku memang punya kelas,' katanya. 'Tapi bukan itu jawaban untuk semuanya. Aku sendiri belum ingin punya anak sekarang.'
Kerabat itu membuka mulut hendak menanggapi, lalu Devon menambahkan ia juga belum ingin. Davina tetap menatap orang yang bertanya, mengatakan mereka akan membicarakan sendiri bila keinginan berubah. Tidak ada janji bulan atau tahun diberikan. Percakapan berpindah ketika pelayan mengantarkan pesanan, dan mereka kembali makan meski ada jeda yang tidak terlalu nyaman.
Di mobil, Davina mengatakan ia ingin membahas jawaban tadi. Devon langsung mengira ia marah karena pertanyaan tidak dihentikan lebih awal. Istrinya menggeleng, menjelaskan ia ingin berbicara untuk dirinya sendiri. Suaminya semula tampak bingung karena menganggap alasan sibuk akan lebih mudah diterima daripada menyebut belum menginginkan. Justru itulah yang membuat Davina menarik napas sebelum menjawab lagi.
'Kalau alasanku dibuat supaya orang lain lebih senang, yang mereka dengar bukan pilihanku.'
'Aku ingin kamu tidak perlu menghadapi komentar setelahnya.'
'Aku bisa memilih meminta bantuanmu. Tadi aku ada di sana, aku belum sempat menjawab.'
Devon diam, melihat jalan di depan sebelum menepi pada tempat yang dapat dipakai berhenti. Ia mengatakan ia memahami perbedaannya sekarang. Ia boleh menyatakan keinginan sendiri, tetapi tidak perlu memberikan alasan atas nama Davina. Istrinya mengangguk, masih merasa tegang karena pertanyaan tersebut mudah membuatnya terlihat harus mempertahankan sesuatu yang belum pernah dijanjikan.
'Aku tidak ingin kamu merasa aku tidak bersyukur kamu mencoba membantu,' katanya.
'Kamu tidak perlu berterima kasih untuk jawaban yang malah menghilangkan bagianmu.'
Davina menatapnya. Devon meminta maaf, kemudian mengaku ia merasa malu ditegur di depan orang. Sesaat ia ingin bertanya mengapa tidak disimpan sampai mereka berdua. Namun, ia mengerti jawaban yang salah sudah didengar orang lain, sehingga istrinya berhak memperbaiki di tempat yang sama. Ia tidak dapat selalu memilih kenyamanannya sebagai syarat percakapan mereka.
'Aku tadi juga sempat ingin bilang kamu selalu begitu,' kata Davina. 'Padahal akhir-akhir ini ada banyak hal yang kamu biarkan kujawab sendiri.'
'Kamu tetap boleh bilang yang tadi salah.'
'Iya. Aku hanya tidak ingin memakai kata selalu supaya kelihatannya lebih kuat.'
Devon mengangguk. Ia tidak menjadikan pengakuan itu kesempatan mengatakan kesalahan mereka sama besar atau pembicaraan dapat berhenti karena keduanya sudah mengaku. Ia mendengar, lalu mengulangi jawaban yang kini ingin diberikannya: keinginan menjadi orangtua miliknya sendiri dapat disebut, sedangkan alasan Davina tetap perlu datang dari Davina.
Mereka melanjutkan perjalanan setelah Davina mengatakan tidak ada bagian lain yang ingin disampaikan sekarang. Suaminya tidak berjanji tidak akan pernah keliru lagi. Ia mengatakan akan memberi jeda ketika pertanyaan ditujukan kepadanya, dan bila menjawab atas dirinya akan membuatnya jelas. Davina menerima, merasa lega karena tidak harus menjadikan satu kesalahan alasan menolak semua hal baik yang sudah tumbuh.
Di rumah, ia masih ingin waktu sendiri. Ia masuk ke kamar cadangan membawa buku untuk membaca sebentar, memberitahu Devon akan keluar setelah merasa lebih tenang. Pria itu mengangguk dan tidak mengikuti untuk memastikan ia tidak sedang bersiap pergi. Ruangan itu dapat dipakai tanpa rencana perkawinan harus dinyatakan kembali pada setiap kali pintunya ditutup.
Davina tidak banyak membaca. Ia memikirkan nada yang sempat naik, lalu menemukan kalimat untuk menjelaskan bahwa ia bukan meminta Devon diam pada semua percakapan keluarga. Ia ingin suaminya hadir tanpa mengambil alih. Ketika keluar, ia mendapati pria itu sedang melipat pakaian yang baru kering. Ia duduk di dekatnya dan mengambil sebagian, meneruskan pembicaraan dengan suara yang lebih tenang.
'Kalau aku terlihat bingung, kamu boleh tanya apakah aku mau dibantu,' katanya. 'Tidak harus menunggu aku tahu semua kalimatnya.'
'Baik. Tapi aku tidak akan menyebut kelasmu sebagai jawaban kalau kamu belum mengatakannya.'
Davina tersenyum sedikit. Mereka melipat satu seprai yang terlalu besar untuk tangan sendiri, saling menggeser sampai sudutnya bertemu. Devon salah mengambil sisi, membuat istrinya tertawa meski semula tidak berniat. Ia menyuruhnya melihat yang dipegang, dan pria itu menyerah mengikuti petunjuk. Kegiatan yang biasa itu membuat sisa ketegangan perlahan turun.
Menjelang malam, mereka menyiapkan makan tanpa berusaha membuat hari menjadi sangat romantis untuk menutup percakapan. Davina mencicipi masakan, meminta tambahan sedikit bumbu dan mendapati Devon sudah mengambil yang diperlukan. Ia menyentuh punggung tangannya sebentar. Ia masih mencintainya ketika menegur, dan ingin dapat mengatakan keduanya tanpa satu bagian dipakai membatalkan yang lain. Suaminya menoleh, tersenyum lelah tetapi hangat, lalu mengajaknya duduk sebelum makanan menjadi dingin.