Minggu pagi, Devon bangun lebih lambat daripada biasanya. Davina masih tidur, selimut menutupi sebagian wajah. Ia hendak mengambil telepon, lalu mengingat tidak ada pemeriksaan rumah yang harus diikuti. Perangkat diletakkan kembali. Ia berbaring beberapa lama mendengarkan suara dari luar, menikmati sesuatu yang dahulu dianggap buang waktu sebelum pekerjaan berikut dimulai.
Davina bergerak ketika ia akhirnya hendak bangun. Ia menanyakan jam dengan suara belum sepenuhnya sadar, kemudian tersenyum mendengar jawabannya. Mereka memutuskan membeli sarapan setelah berganti pakaian, bukan memulai hari dengan mencari bahan yang tidak ada. Di lift, Davina menggenggam lengannya dan mengatakan senang tidak membawa map. Devon tertawa, menunjukkan saku yang hanya berisi dompet serta telepon.
Mereka makan perlahan pada tempat dekat gedung. Ada keluarga dengan anak kecil di meja lain, beberapa orang membaca dari perangkat, pelayan berjalan membawa pesanan yang membuat Davina menoleh. Ia hendak menambah makanan, lalu teringat sisa dari kemarin. Devon menyarankan mereka membeli satu untuk dibagi. Hari itu keputusan sederhana tidak berubah menjadi perlombaan siapa dapat menentukan lebih dahulu.
'Kalau tidak enak, kamu yang menghabiskan,' kata Davina.
'Kalau enak?'
'Kita berbagi. Aku sudah bilang dari awal.'
Devon tertawa, mengatakan itu kesepakatan yang perlu dibaca lebih teliti. Davina menyodorkan sendok setelah pesanan datang. Ternyata ia menyukai, lalu menyerahkan bagian yang memang disisihkan untuk suami. Mereka menghabiskannya sambil membicarakan tempat yang ingin dikunjungi pada akhir pekan lain, tanpa langsung membuat pemesanan untuk semua ide yang terdengar menyenangkan.
Senin, ketenangan itu berganti ruang pertemuan Mahawira. Pembahasan yang pernah diminta ayah mengenai investasi akhirnya dilakukan di kantor bersama penasihat serta perwakilan yang berkaitan. Davina hadir pada bagian yang menyangkut hak Danajaya. Ia tidak datang hanya sebagai istri Devon, dan setelah bagiannya selesai mempunyai pekerjaan lain yang harus diteruskan.
Ayah memulai dengan kebutuhan kecepatan. Ia menilai Arman dapat membawa modal yang sulit diperoleh jika negosiasi terus penuh batas. Devon menyimak, kemudian meminta mereka melihat syarat yang sudah diterima serta yang masih terbuka. Auditor bersama dan data yang relevan bukan alasan menolak uang, melainkan cara memastikan pemeriksaan tidak menjangkau sesuatu yang tidak termasuk tanggung jawab proyek.
'Kamu selalu dapat menemukan alasan untuk menunggu,' kata ayah.
'Kali ini ada jawaban yang sudah diberikan. Kita menunggu bagian yang memang belum disepakati.'
'Investor tidak menilai seberapa rapi penjelasanmu. Mereka menilai apakah perusahaan bisa bergerak.'
Devon melihat ringkasan di depannya. Ia mengakui beberapa bagian tanggapan mereka pernah terlalu panjang, sehingga penasihat kini menggabungkan pertanyaan yang sama. Namun, janji waktu jawaban perlu disertai siapa yang menyediakan bahan. Ia tidak mau menerima batas yang tampak cepat hanya karena orang berikut harus bekerja semalaman untuk membuatnya mungkin.
Seorang penasihat menjelaskan jalur keputusan rutin serta perkara yang memerlukan kedua pemilik. Ayah menanyakan mengapa perwakilan Danajaya harus tetap menilai pengadaan tertentu jika Mahawira menjalankan proyek. Davina menjawab risiko pembiayaan serta komitmen yang ikut ditanggung tidak hilang karena pelaksana berasal dari sisi lain. Ia tidak meminta meninjau setiap pembelian, tetapi tidak dapat menyerahkan suara pada perubahan yang mengikat pihaknya tanpa batas.
'Kalau Devon sudah percaya tim kami?' tanya ayah.
'Kepercayaan Devon pada timnya tidak menggantikan tugas saya,' jawab Davina. 'Seperti pendapat saya tidak otomatis mengubah tugas pihak Bapak.'
Ruangan hening beberapa saat. Devon merasakan dorongan menyela agar ayah tidak tersinggung, lalu membiarkan jawaban itu berdiri. Penasihat menunjukkan contoh keputusan yang sudah dapat berjalan tanpa keduanya hadir. Mereka dapat memberi kepastian operasional tanpa menjadikan perkawinan anak pemilik sebagai pengganti pembagian tanggung jawab. Bagian yang memerlukan perubahan perjanjian tetap dibawa kepada pihak berwenang, bukan diselesaikan lewat pesan suami kepada istri.
Ayah mengusap meja dengan jari sebelum menatap putranya. Ia mengatakan dahulu mengira menyatukan keluarga akan membuat kesepakatan lebih mudah. Devon mengingat hari ketika ia juga menganggap pernikahan hanya harga untuk hasil perusahaan. Ia menatap Davina yang tetap duduk tenang, kemudian menjawab perlahan agar ucapannya tidak menjadi amarah yang dilempar kepada semua orang.
'Kami menikah. Itu tidak membuat Davina kehilangan pendapat atau membuat saya boleh menjanjikan jawabannya.'
'Ayah tidak meminta kamu menjanjikan istrimu.'
'Tapi kalau persetujuannya dianggap tinggal saya urus di rumah, akibatnya sama.'
Ayah terdiam. Devon tidak tahu apakah kalimat itu membuatnya mengerti atau sekadar menghentikan bantahan untuk hari tersebut. Ia meneruskan pada usul yang dapat diputuskan: tanggapan cepat untuk pekerjaan dalam rencana, jalur eskalasi jelas bila ada perbedaan, dan keputusan strategis dari pihak yang menanggung. Penasihat mencatat batas yang diterima serta bahan yang perlu dibawa kepada Arman. Pertemuan berakhir dengan pekerjaan yang dapat dilanjutkan, bukan ayah diminta mengakui dirinya selalu salah.
Davina pamit lebih dahulu sesuai jadwal. Devon tetap tinggal beberapa menit bersama ayah. Ia mengatakan ia ingin investasi berhasil dan tidak bermaksud mempermalukan keluarga. Ayah menatap kursi yang baru ditinggalkan Davina, lalu menjawab ia hanya berharap putranya tahu apa yang dipertahankan. Devon mengatakan ia sedang belajar membedakan mempertahankan perusahaan dari mempertahankan kebiasaan selalu didengar lebih dahulu.
'Kamu terdengar sangat yakin sekarang,' ujar ayah.
'Tidak selalu. Tapi saya harus memberi jawaban yang bisa saya tanggung.'
Ia meninggalkan kantor dengan kepala berat. Dalam mobil, ia sempat ingin menelepon Davina untuk menanyakan apakah jawabannya cukup baik. Ia menahan pertanyaan itu, mengirim kabar praktis bahwa pembahasan tidak bertambah keputusan baru setelah ia pergi. Istrinya membalas terima kasih dan mengingatkan ia makan. Devon tersenyum, merasa senang mendapatkan perhatian tanpa memintanya menjadi penilai semua usaha suaminya.
Sore hari, undangan makan keluarga datang untuk Kamis. Kali ini ibunya menyebut ingin berkumpul, bukan menegosiasikan klausul lagi. Devon meneruskan kepada Davina. Istrinya dapat hadir sampai pukul sembilan, dan ia mengirim jawaban itu kepada keluarga. Ia sendiri ingin bertemu orangtua setelah percakapan sulit, tanpa menghapus isi yang telah dikatakan. Ketika pulang, ia membawa makanan yang diminta Davina dan masuk ke penthouse dengan keinginan sederhana untuk melihat istrinya tersenyum.