Kamis malam, Davina datang ke rumah Mahawira bersama Devon. Ia membawa hidangan kecil yang disukai ibu, sementara suaminya membawa barang titipan Hawa. Suasana tidak berubah menjadi sunyi ketika mereka masuk. Orang masih berbicara, seorang kerabat menanyakan jalan dan ibu menyuruh keduanya duduk sebelum minuman menjadi dingin. Davina merasakan bahunya yang semula tegang perlahan turun.
Ayah Devon menyapa seperti biasa, menanyakan apakah pekerjaan hari itu selesai. Putranya menjawab bagian yang harus dikerjakan sudah ditangani, lalu beralih bertanya mengenai perjalanan singkat yang akan dilakukan orangtua. Davina menyimak kisah mengenai barang yang selalu dibawa terlalu banyak. Hawa membenarkan satu bagian, membuat ibu memprotes bahwa orang yang paling sering menitip barang justru turut mengejek.
Ketika makanan disajikan, seorang kerabat menyebut foto Davina dan Devon tampak kompak pada acara proyek. Ia memuji pasangan yang dapat menjadi tanda baik bagi kedua keluarga. Davina tersenyum, lalu mengatakan mereka mempunyai tugas masing-masing dan tidak selalu sependapat. Devon menambahkan pertemuan lebih berguna ketika orang dapat menyatakan perbedaan, bukan hanya datang untuk menunjukkan gambar yang bagus.
'Tapi kalian tetap satu rumah, kan?' tanya kerabat itu sambil tertawa.
'Tetap,' jawab Davina. 'Itu tidak membuat semua pendapat kami sama.'
Mereka ikut tersenyum, lalu percakapan bergerak pada rumah sewa. Davina menerangkan kunci sudah diserahkan dan keluarga penghuni telah masuk. Ia tidak mengulang seluruh biaya serta syarat. Ketika ditanya jumlah sewa, ia mengatakan detail kontrak tidak perlu dibagikan pada makan keluarga. Devon menyambung dengan cerita anak yang membawa pot bunga, membuat ibu tertawa mengingat tanaman yang dahulu sering terlalu banyak disiram Davina.
'Jangan semua cerita dari Mama diteruskan,' protesnya kepada suami.
'Aku belum menceritakan bagian yang lebih buruk.'
'Karena kamu tidak tahu.'
Devon mengangkat bahu, dan Hawa langsung menawarkan membantu mencari kisah lain. Mereka tertawa, suasana yang membuat Davina lebih mudah menikmati makan. Ia tidak merasa semua orang sudah menerima setiap pilihan, tetapi malam itu bukan ruang untuk menguji apakah ia cukup bersyukur menjadi anggota keluarga. Ia dapat menambah nasi tanpa menunggu pertanyaan berikut tentang pekerjaan.
Sesudah makan, ibu mengajaknya melihat tanaman pada teras samping. Perempuan itu menunjukkan daun yang rusak dan menceritakan nasihat berbeda dari dua orang yang ditanya. Davina mengaku tidak dapat menjadi penengah karena pengalaman tanamannya sendiri sudah dipakai bahan tertawa. Ibu tersenyum, mengatakan ia hanya ingin mengajak berjalan sebentar sebelum duduk lagi bersama semua orang.
Di sana ia menanyakan apakah Davina nyaman tetap tinggal di penthouse. Putranya dahulu terlalu sering pulang hanya untuk tidur, sehingga ia khawatir rumah menjadi tempat keduanya saling menunggu dengan kesal. Davina menjawab ia kini mempunyai pekerjaan serta kegiatan sendiri, dan mereka sedang belajar membagi waktu. Ada hari yang tidak berjalan baik, tetapi ia menyukai tempat itu dan cara mereka mulai mengisinya.
'Ibu kadang tidak tahu harus bertanya apa,' katanya. 'Kalau bertanya terlalu banyak, takut kamu merasa diperiksa.'
'Bisa tanya seperti tadi. Kalau saya belum ingin cerita, saya akan bilang.'
Ibu mengangguk, tampak lega tidak diminta menebak semuanya. Ia mengatakan sempat membayangkan rumah besar menjadi tempat anaknya menetap, tetapi keluarga penyewa tampaknya juga akan merawat. Davina menjawab ia berharap demikian. Ia tidak perlu menjanjikan akan menempati rumah lebih besar kelak agar percakapan dapat ditutup dengan baik.
Sebelum kembali, ibu memintanya menyampaikan makanan yang disukai bila ingin datang lagi. Davina menyebut satu hidangan malam itu dan mendapat pertanyaan bagian mana yang disukai. Ia bercerita tentang rasa yang mengingatkan masakan rumahnya. Ibu tertawa, mengatakan resepnya mungkin berbeda tetapi ia senang dimakan sampai habis. Davina merasa lebih dekat oleh percakapan sederhana itu daripada pujian bahwa ia sudah menjadi menantu yang dapat dibanggakan di depan perusahaan.
Ketika kembali ke ruang makan, Devon sedang mendengar ayah bercerita kepada kerabat. Ia melihat istrinya dan menggeser kursi yang dapat dipakai. Davina duduk beberapa menit, menikmati hidangan penutup. Tidak ada draf investasi diselipkan untuk dijawab sebelum pulang. Bila seseorang menyinggung, ayah mengatakan bagian itu dibahas melalui tim dan mereka dapat berbicara hal lain malam tersebut.
Davina melirik suami. Devon mendengar juga, tetapi tidak memakai kalimat ayah sebagai alasan mengumumkan bahwa semua telah berubah. Ia hanya meneruskan makan, lalu menanyakan apakah istrinya menyukai hidangan yang dipilih ibu. Davina mengangguk. Ia ingin menyimpan kejadian baik itu sebagai kejadian yang sungguh terjadi, tanpa harus memaksanya menjamin seluruh pertemuan keluarga berikut akan sama mudahnya.
Pukul delapan lewat empat puluh, Davina menyampaikan ingin bersiap pulang. Devon ikut berpamitan. Ibunya sempat menawarkan membawa pulang makanan, sehingga keduanya menunggu sebentar sementara wadah disiapkan. Mereka berangkat sebelum pukul sembilan seperti yang direncanakan, tanpa Davina harus berbisik berkali-kali atau suami menyatakan ia dipaksa meninggalkan acara.
Di mobil, ia mengatakan sedikit bersalah karena masih ada kerabat yang duduk. Devon mengaku ia juga ingin mendengar akhir cerita ayah, tetapi dapat menanyakan lain kali. Davina menatapnya, senang ia menyebut keinginan sendiri tanpa menjadikannya tuntutan. Ia tidak harus tahu suaminya tidak menginginkan hal lain sebelum dapat menerima keputusan bersama yang sudah dibuat.
'Terima kasih sudah ikut pulang,' katanya.
'Aku sudah bilang akan pulang denganmu.'
'Aku tahu. Aku tetap senang.'
Devon tersenyum dan menerima ucapan tersebut tanpa mengubahnya menjadi bukti ia pantas mendapat sesuatu malam itu. Sampai di penthouse, keduanya menyimpan makanan serta mengganti pakaian. Davina membuat minuman, lalu duduk dekat suami untuk menceritakan percakapan tanaman dengan ibu. Devon tertawa, mengaku ia pun sering diminta menjadi penilai daun yang tidak dikenali masalahnya.
Mereka tertawa beberapa lama sebelum bersiap tidur. Davina membawa buku, tetapi setelah beberapa halaman justru menguap. Devon memintanya menyimpan agar tidak tertekuk ketika tertidur, lalu membantu menarik selimut. Malam itu tidak menghapus tekanan keluarga atau menyelesaikan seluruh negosiasi. Namun, mereka telah makan bersama, menjawab yang perlu dan pulang pada waktu yang dipilih. Davina memeluk suami sambil mengucapkan selamat malam, merasa senang keluarga dapat ditemui tanpa semua percakapan harus menghasilkan keputusan baru tentang hidupnya.