Sabtu, tepat dua minggu setelah kontrak ditandatangani, Davina tiba di rumah bersama pengurus dan agen. Pembayaran serta persiapan yang disepakati telah selesai. Ia memeriksa salinan daftar kondisi dan memastikan garansi serta kontak diterima keluarga penyewa. Devon datang bersamanya, membawa tas kecil berisi barang yang diminta pengurus dikembalikan sebelum penghuni masuk. Hari itu mereka tidak membicarakan apakah rumah sebaiknya ditawarkan sekali lagi dengan harga lain.
Pasangan penyewa tiba ketika pemeriksaan awal selesai. Anak mereka menggendong pot kecil dengan dua tangan, sangat berhati-hati sampai berjalan lebih lambat daripada orangtuanya. Davina menyapanya dan menunjuk tempat meletakkan pot selama orang dewasa melihat ruangan. Anak itu memilih sudut teras, lalu bertanya apakah sudah boleh menyimpan tasnya di dalam. Ibunya tersenyum, menjawab mereka menyelesaikan beberapa hal dahulu.
Agen menjelaskan bagian berita acara, menunjukkan foto yang menjadi salinan bersama. Pasangan itu memeriksa keran serta pintu, kemudian mengajukan satu pertanyaan mengenai bagian yang tampak baru dicat. Pengurus memperlihatkan lokasi perbaikan dan dokumen pemeriksaannya. Davina membiarkan penjelasan diselesaikan, tidak menutup pertanyaan dengan mengatakan semua sudah pernah dibahas ketika kontrak. Orang yang akan tinggal berhak memastikan apa yang diterimanya pada hari masuk.
Pihak yang berwenang menandatangani berita acara dan agen menyerahkan kunci. Suami keluarga itu mencoba kunci depan, tersenyum ketika pintu terbuka lalu menoleh kepada pasangan. Davina merasakan dadanya hangat oleh kejadian sederhana tersebut. Selama berbulan-bulan ia mendengar rumah sebagai rencana keluarga, biaya yang bertambah serta keputusan yang belum dibuat. Sekarang ada orang yang membuka pintu karena akan pulang ke sana.
'Terima kasih sudah menjelaskan perbaikannya,' kata perempuan itu. 'Kami jadi tahu kalau ada yang perlu diperhatikan.'
'Semoga nyaman tinggal di sini,' jawab Davina. 'Kalau ada masalah, kontaknya sudah disimpan?'
Perempuan itu menunjukkan nomor pada telepon. Pengurus memastikan laporan awal melalui agen, sedangkan keadaan mendesak memakai kontak yang sesuai pada daftar. Tidak semua perkara harus naik kepada pemilik sebelum air yang bocor dapat dihentikan. Setelah penjelasan selesai, mereka memberi waktu keluarga membawa barang. Devon membantu mengangkat satu bungkusan yang ditawarkan, lalu mundur agar orang yang memindahkan dapat bekerja.
Anak perempuan itu memanggil Davina ke halaman. Ia ingin menunjukkan bibit yang dibawa dari rumah lama, menanyakan apakah pot dapat diletakkan dekat tempat yang sudah dibicarakan. Davina mengajak ibu ikut melihat, lalu menunjukkan kembali bagian yang perlu terbuka. Anak itu memindahkan pot beberapa langkah, mengamati seolah sedang memilih lokasi yang sangat penting, kemudian mengangguk puas.
'Besok baru ditanam,' kata ibunya. 'Sekarang masih ada barang.'
'Tapi disiram sekarang boleh?'
Ibunya tertawa dan menyerahkan penyiram kecil yang ternyata juga sudah dibawa. Davina berdiri bersama Devon di dekat teras, melihat air dituang terlalu bersemangat lalu segera dihentikan. Ia teringat tanaman Mama yang dahulu hampir mati karena ulahnya sendiri. Suaminya melihat wajahnya dan menyeringai, rupanya mengingat cerita yang sama. Davina menyikut lengannya pelan sebelum berpamitan kepada keluarga.
Mereka yang meninggalkan rumah setelah kunci diserahkan. Penghuni tetap berada di dalam, mulai memindahkan barang ke tempat yang dipilih. Dari gerbang, Davina mendengar suara anak menanyakan posisi tas, lalu jawaban ibunya yang terdengar akrab. Ia tidak kembali untuk melihat ruang tengah seolah masih harus menjadi orang terakhir yang menutup. Rumah itu kini dipakai orang lain sesuai keputusan pemilik yang sudah dijalankan.
Di mobil, Devon menanyakan bagaimana perasaannya. Davina menjawab lega, lalu setelah berpikir menambahkan sedikit kehilangan. Ia tidak ingin tinggal di sana sekarang, tetapi ada bayangan lama yang benar harus dilepas. Suaminya mengangguk, tidak meminta memilih satu perasaan. Ia menyentuh tangannya sebelum mulai mengemudi, lalu menanyakan apakah ingin makan atau pulang dahulu.
'Makan. Ternyata melihat orang pindah juga membuat lapar.'
'Kamu belum mengangkat sebanyak mereka.'
'Aku menjaga pot agar tidak ditanam di saluran air. Itu pekerjaan penting.'
Devon tertawa. Mereka berhenti pada tempat makan yang belum pernah dicoba bersama. Pelayan menjelaskan pilihan dan Davina meminta satu yang dapat dibagi, lalu suaminya menambahkan hidangan lain karena tidak yakin jumlahnya cukup. Ketika makanan tiba, keduanya saling pandang dan tertawa karena sekali lagi meja lebih penuh daripada perkiraan. Mereka meminta wadah untuk sebagian sebelum memulai makan.
Saat itulah Davina mengatakan ia ingin tetap tinggal di penthouse untuk waktu dekat. Bukan hanya karena ia memilih dahulu dan merasa harus bertahan pada keputusan. Ia menyukai beberapa kebiasaan yang dibangun di sana, termasuk membaca dekat jendela serta dapur yang membuatnya tahu kapan Devon sedang terlalu yakin memasak. Suaminya mengatakan ia juga ingin tetap di sana, selama mereka dapat membicarakan bila kebutuhan berubah.
'Kamar cadangan jangan dijadikan gudang,' tambah Davina.
'Aku baru saja membereskan kotak supaya tidak perlu ke sana.'
Ia tersenyum dan menyentuh lengan suami. Ruangan itu tetap berguna ketika salah satu ingin beristirahat sendiri atau ada orang datang, tanpa harus menjadi ancaman bagi kebersamaan mereka. Mereka menghabiskan makan, kemudian pulang membawa sebagian hidangan. Davina mengirim kabar kepada Papa bahwa kunci sudah diserahkan, dengan foto yang diizinkan keluarga penyewa untuk bukti penerimaan. Ayahnya membalas singkat, lalu Mama mengirim ucapan semoga penghuni baru merasa nyaman.
'Besok kita masih harus ke sana?' tanya Devon saat masuk penthouse.
'Tidak. Kita baru saja menyerahkan rumahnya.'
'Bagus. Aku ingin bangun sedikit lebih siang.'
Davina tertawa, mengingat pagi yang beberapa kali dipakai memeriksa pekerjaan. Ia menyetujui tanpa menyusun kegiatan pengganti. Mungkin mereka akan membeli sarapan, mungkin memasak dari bahan yang tersedia. Ia ingin mengetahui apa yang benar diinginkan setelah bangun, bukan mengisi hari kosong hanya karena terbiasa merasa harus pergi.
Sore hari, agen mengonfirmasi tidak ada hal tertinggal yang perlu dikembalikan. Davina menyimpan pesan dan menutup urusan rumah untuk hari itu. Devon mengajaknya duduk di balkon kecil dengan minuman dingin. Ia menerima, menyandarkan kepala sebentar pada bahu suami. Dari tempat mereka, kota tetap ramai. Namun, satu pintu sudah mempunyai penghuni yang benar dipilih, dan mereka dapat menikmati tempat tinggal sendiri tanpa merasa sedang menolak hadiah setiap kali memutar kuncinya.