Sepekan sesudah kontrak rumah, Davina menerima bahan dari tim Papa mengenai peran lebih besar yang pernah ditawarkan. Ada kebutuhan penelaahan laporan pemilik tiga hari dalam sepekan, dengan pendamping profesional serta penilaian kerja. Tugas tersebut tidak menjadikannya direktur, tetapi tetap lebih banyak daripada mandat penghubung yang dijalani sekarang. Ia membaca uraian beberapa kali, menandai bagian yang ingin dipahami sebelum menjawab.
Ia menemui penanggung jawab pekerjaan tanpa mengajak Devon. Perempuan itu menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, bahan yang perlu dikuasai dan waktu yang tersedia untuk belajar. Davina senang tidak dijanjikan semua mudah karena ia anak pemilik. Ada bagian yang menarik dan ada yang belum mampu dikerjakan tanpa banyak bantuan. Ia menanyakan apakah menerima akan menggantikan mandat lama atau menambah tugas di atas jadwal yang sama.
'Menggantikan sebagian,' jawabnya. 'Tetapi tiga hari itu sungguh waktu kerja, bukan hanya hadir untuk mendengar hasil.'
'Kalau saya belum mengambil sekarang, pekerjaan tetap dibuka untuk orang lain?'
'Tentu. Kami membutuhkan orang untuk menjalankannya. Bukan menunggu nama yang tepat pada kartu jabatan.'
Davina tersenyum, sedikit malu karena mengira semua orang akan berusaha membuatnya menerima. Penanggung jawab menunjukkan hasil yang perlu selesai pada bulan pertama, lalu menjelaskan cara evaluasi. Uraian itu membuat tawaran lebih menarik sekaligus lebih nyata. Ia akhirnya mempunyai sesuatu yang dapat dipertimbangkan selain rasa takut mengecewakan Papa.
Davina mengangguk. Ia membayangkan kelas yang dipilih, kunjungan proyek dan hari yang ingin disisakan untuk hidup di luar semuanya. Ia tidak ingin menolak hanya karena takut kelihatan belum ahli. Namun, ia juga tidak ingin menerima demi membuktikan bahwa tidak takut, kemudian melakukan pekerjaan buruk yang harus dirapikan orang lain tanpa boleh menegurnya.
Ia meminta sehari membaca, lalu memberi jawaban bahwa belum mengambil jabatan tersebut sekarang. Mandat dua harinya tetap dijalankan dengan hasil yang dinilai seperti sebelumnya. Ia ingin menyelesaikan rangkaian belajar yang sudah dipilih dan memperdalam tugas sekarang, bukan menambah hari sebelum mengetahui bagian yang benar ingin ditekuni. Penanggung jawab menerima jawaban tanpa berusaha meyakinkan bahwa semua dapat disusun setelah ia berkata ya.
Papa menelepon setelah mendapat kabar. Ia menanyakan apakah Davina merasa tawaran itu hanya karena hubungan keluarga. Putrinya menjawab kebutuhan memang terlihat nyata dan ia menghargai tim menyiapkan uraian. Keputusan belum mengambil tidak berarti mereka menyusun sia-sia. Ada orang lain yang dapat mengisi kebutuhan sekarang; perusahaan tidak perlu menyimpan kursi kosong untuk menunggu putrinya merasa siap.
'Papa khawatir kamu menyia-nyiakan kesempatan.'
'Aku juga takut itu. Tapi aku akan lebih menyesal menerima pekerjaan yang tidak bisa kuberi waktu lalu semua orang harus sungkan kepadaku.'
Papa diam beberapa lama, kemudian mengatakan tim dapat melanjutkan mencari orang sesuai kebutuhan. Davina berterima kasih. Ia masih mempunyai rasa takut kehilangan kesempatan, seperti Devon ketika membaca tawaran Arman. Namun, menamai rasa itu membantunya melihat bahwa ia tidak harus membiarkannya memilih seluruh hidup. Ia menyimpan salinan jawaban, lalu kembali pada bahan kerja yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Sore itu ia memeriksa penjelasan teknis yang diminta Arman mengenai biaya sambungan kabel konferensi. Laporan lama sudah mencatat pemeriksaan awal tidak membuka panel, temuan ditangani serta gambar diperbarui. Tidak ada dasar menuduh orang sengaja menyembunyikan kerusakan. Penasihat meneruskan penjelasan serta pembagian biaya sesuai proyek, tanpa membuat pemeriksaan baru untuk membuktikan kembali jawaban yang telah tersedia.
Devon menemuinya setelah pekerjaan mereka selesai. Ia menceritakan demonstrasi DM Electronics telah berjalan dengan bagian yang benar siap ditunjukkan. Pelanggan menerima jadwal pertemuan berikut untuk sisanya karena sudah diberi kabar, bukan mengetahuinya di depan layar kosong. Rendi kembali bekerja sesudah izin keluarga dan tidak disalahkan atas pembagian yang telah diterima. Devon justru meminta tim menilai perencanaan yang membuat persiapan terlalu dekat dengan tanggal acara.
'Kamu tidak malu mengaku ada bagian belum siap?' tanya Davina.
'Malu. Tapi aku lebih malu kalau pelanggan datang untuk sesuatu yang sengaja kami biarkan mereka sangka sudah ada.'
Davina tersenyum, lalu menceritakan keputusan pekerjaannya sendiri. Devon mendengarkan dan menanyakan apakah ia lega. Istrinya mengaku belum sepenuhnya. Ia takut suatu hari orang mengatakan ia hanya mau tugas mudah. Suaminya mengatakan ia tidak dapat menebak komentar orang, tetapi melihat ia tetap melakukan pekerjaan yang sudah diambil. Ia tidak perlu menggunakan semua waktu yang kosong agar kesungguhannya dapat diakui.
'Aku hampir bertanya apa menurutmu aku terlalu penakut,' kata Davina.
'Kalau kamu ingin pendapatku, aku senang kamu membaca sebelum menjawab. Tapi aku tidak tahu pekerjaan mana yang akan paling kamu sukai nanti.'
Jawaban itu tidak memberinya kepastian besar, justru membuatnya tenang. Devon tidak segera menawarkan jabatan dari sisi Mahawira sebagai pengganti. Mereka berjalan ke toko makanan dan membeli lauk untuk dibawa pulang, memperdebatkan jumlah yang cukup setelah beberapa kali menyimpan terlalu banyak. Davina mengambil pilihan yang disukai, lalu mengembalikan satu wadah ketika melihat suaminya mengangkat alis.
Di penthouse, mereka makan dekat jendela yang terbuka sedikit. Davina mengatakan serah kunci rumah berlangsung Sabtu berikut, tepat dua minggu sesudah kontrak. Pengurus telah memastikan kebersihan serta kunci, dan agen mengabarkan pembayaran yang disepakati sudah masuk. Devon menandai jadwalnya, tidak mengubah perkara itu menjadi pengumuman bahwa mereka kini harus mencari rumah lain bagi diri sendiri.
Setelah makan, Davina menelepon Em dan menceritakan tawaran yang dilepas. Sahabatnya tidak memberi pidato tentang keberanian. Em menanyakan apa yang ingin dilakukan dengan waktu yang tetap tersedia, lalu mendengar jawaban yang ternyata lebih mudah disebut setelah ia tidak lagi sibuk membela keputusan. Ia ingin belajar, bekerja dengan lebih baik, mengunjungi orang yang disayangi dan sesekali menghabiskan sore tanpa hasil yang harus ditunjukkan.
Ketika telepon selesai, ia duduk dekat Devon yang sedang membaca. Ia mengulurkan tangan dan menerima genggaman hangat. Tawaran itu sudah dijawab, bukan disimpan agar terus menjadi alasan gelisah setiap malam. Davina membuka bukunya sendiri. Ada beberapa halaman yang ingin dibaca karena menarik, dan malam itu ia mempunyai waktu yang benar ingin dipakai untuk melakukannya.