Dokumen calon keluarga tiba setelah tambahan dua hari yang diberikan. Kemampuan membayar memenuhi kriteria dan referensi tempat tinggal sebelumnya diterima. Mereka menginginkan dua tahun, dengan kemungkinan pindah karena pekerjaan setelah tahun pertama. Calon eksekutif tetap menawarkan jumlah lebih tinggi untuk penugasan delapan bulan. Davina membawa perbandingan kepada Papa bersama keterangan agen serta penilaian pengacara, bukan hanya cerita mengenai keluarga yang membuatnya terkesan.
Papa menanyakan kemungkinan meminta harga lebih tinggi kepada calon keluarga. Agen menjelaskan batas penawaran yang sudah disampaikan dan biaya bila rumah kembali kosong. Davina mengakui tawaran kedua menggoda, tetapi kebutuhan perabot serta kelonggaran pengakhiran mengubah hasil bersih. Ia merekomendasikan keluarga pertama dengan syarat yang dapat dibaca kedua pihak. Papa menerima, meminta perubahan yang masih terbuka dijelaskan sebelum orang datang menandatangani.
Pengacara menata pilihan keluar setelah satu tahun, pemberitahuan tiga bulan serta penyelesaian kewajiban yang dibatasi jelas, tanpa menagih dua sewa untuk masa yang sama. Calon keluarga diberi waktu membaca dan mengajukan pertanyaan. Davina tidak menjawab dengan menjamin semua pasti mudah. Bila rencana kerja berubah, mereka perlu mempunyai aturan yang dapat dipakai tanpa harus bergantung pada perasaan baik saat tur rumah.
Calon eksekutif meminta keputusan sebelum tenggatnya. Agen menyampaikan keluarga pemilik memilih penawaran lain dan tidak menerima pembayaran awal. Davina merasa sedikit menyesal melihat jumlah yang dilepaskan, lalu membaca kembali perhitungan yang mendasari pilihan. Ia tidak perlu berpura-pura tidak menyukai uang lebih besar untuk dapat menilai risiko. Keputusan yang diterima Papa sesuai tujuan sewa yang telah dibahas sejak rumah masih kosong.
Sabtu berikutnya, mereka bertemu pada pemeriksaan akhir. Pasangan calon penyewa mengelilingi kamar, menguji beberapa perlengkapan dan mencocokkan daftar kondisi. Pengacara menjelaskan bagian yang semula mereka tanyakan, sementara agen memastikan salinan diterima pemilik maupun penghuni. Devon datang sesudah bagian awal karena pekerjaan kantornya, menyapa tanpa menduduki tempat yang disiapkan bagi pihak penanda tangan.
'Bapak tidak ikut tanda tangan?' tanya calon penyewa kepadanya.
'Bukan saya pemiliknya,' jawab Devon. 'Saya datang menemani Davina.'
Papa duduk bersama pengacara dan menandatangani sebagai pihak keluarga pemilik yang berwenang. Pasangan penyewa menandatangani setelah pertanyaan selesai. Davina memegang salinan tugas pemantauan yang diberikan, memastikan ia tidak tiba-tiba dianggap penjamin pribadi hanya karena paling sering dihubungi. Kontrak berlaku untuk dua tahun dengan ketentuan yang telah dibaca, sedangkan serah kunci dijadwalkan dua minggu kemudian setelah persiapan serta pembayaran yang disepakati selesai.
Anak perempuan yang dahulu menanyakan bunga kembali melihat halaman bersama ibunya. Davina menunjukkan batas yang sudah dijelaskan pengurus. Kali ini pembicaraan dapat bergerak pada apa yang ingin ditanam, karena orang dewasa sudah memutuskan akan tinggal. Ia menahan keinginan membeli bibit sebagai hadiah sebelum mengetahui pilihan mereka. Anak itu mempunyai bayangan sendiri, dan ia senang cukup menjadi orang yang menunjukkan tempatnya.
'Kalau bunganya banyak, boleh bawa ke dalam?' tanya anak itu kepada ibu.
'Kita lihat dulu tumbuh atau tidak. Jangan semua sudah dipotong sebelum ditanam.'
Davina tertawa mendengar jawaban tersebut. Ia menunjuk tempat air yang tidak jauh, lalu mendengar anak itu menyusun rencana membawa penyiram kecil dari rumah lama. Tidak ada benda mahal pada percakapan tersebut. Namun, untuk pertama kali Davina sungguh dapat membayangkan halaman dipakai setiap hari, dengan orang yang lupa membersihkan tanah di alas kaki dan seseorang yang mengingatkan sebelum mereka masuk.
Setelah penyewa pergi, Papa berdiri beberapa lama pada pintu depan. Ia mengatakan rumah akhirnya dapat dipakai dan tidak hanya memerlukan biaya. Davina mengangguk, merasa lega juga. Ia telah menghabiskan banyak waktu memeriksa benda yang tidak terlihat dari luar, lalu hari itu dapat menyerahkan tanggung jawab berikut kepada orang yang memang akan mengurusnya. Ia tidak harus datang tiap pekan untuk membuktikan rencana sewa terus layak.
'Kamu menangani dengan hati-hati,' kata Papa.
'Aku banyak dibantu. Dan beberapa kali juga terlalu cepat mengira sudah paham.'
'Kamu tetap menanyakan yang perlu. Itu bagus.'
Davina tersenyum, menerima pujian tanpa segera menepis. Devon menunggu di dekat gerbang, menyimak dengan wajah hangat yang membuatnya ingin mendekat. Ia pamit kepada Papa serta pengurus, lalu berjalan bersama suami ke mobil. Map yang dibawa terasa sama beratnya, tetapi tidak lagi berisi keputusan yang harus ditunda setiap kali orang ingin membayangkan sesuatu yang berbeda untuk rumah itu.
Saat makan siang, ia mengaku dahulu takut Devon merasa ditolak karena memilih sewa. Pria itu mengatakan rumah tidak menentukan apakah ia ingin menjadi suaminya. Ia menyukai penthouse sebagai tempat tinggal mereka sekarang, dan kelak dapat membahas kebutuhan berbeda tanpa harus menyebut siapa pernah memberi bangunan lebih besar. Davina mengangguk, mengingat anak penyewa yang senang pada sebidang tanah, bukan pada cerita di balik pembeliannya.
'Aku ingin bilang kita belikan tanaman,' katanya. 'Lalu aku ingat mereka sebaiknya memilih sendiri.'
'Kamu bisa memberi tahu tempat membeli kalau diminta.'
'Terdengar seperti jawaban yang pernah kusampaikan kepadamu.'
Devon tertawa dan mengambil minum. Mereka memesan makanan penutup untuk dibagi, lalu saling protes ketika bagian yang diambil tidak sama besar. Davina meraih piring untuk menggeser sedikit, suaminya menyerah sambil tersenyum. Tidak ada yang merasa perlu menjaga sikap formal setelah berjam-jam mendengar penjelasan kontrak. Ia ingin menikmati bahwa satu urusan besar benar telah mempunyai hasil.
Sore itu, mereka kembali ke penthouse dan menyimpan berkas pada tempatnya. Davina mengirim kabar singkat kepada Mama serta menanyakan apakah kursi teras masih nyaman. Ibunya membalas dengan foto tanaman, kemudian menelepon karena lebih suka bercerita daripada mengetik. Davina duduk mendengar, sementara Devon menyiapkan minuman dan meninggalkan satu cangkir di dekatnya.
Menjelang malam, Davina menuliskan jadwal serah kunci dua minggu lagi, lalu menutup kalender. Ia memeluk suami dari belakang ketika pria itu merapikan meja. Devon menoleh dan tertawa karena hampir menjatuhkan gelas kosong. Ia meminta tidak dikagetkan saat membawa barang, dan Davina meminta maaf sambil mengambil gelas. Keduanya tersenyum, membereskan sisa pekerjaan sebelum memilih kegiatan lain yang ingin dinikmati bersama.