Jumat, perbaikan rumah selesai diperiksa. Davina berjalan dari dapur ke ruang belakang bersama pengurus, memperhatikan hasil yang dahulu hanya dilihat pada foto laporan. Panel telah terpasang setelah pemeriksaan, bagian yang lembap diperbaiki dan dicat secukupnya. Inspektur menunjukkan catatan yang masih perlu dirawat berkala. Rumah siap ditawarkan, bukan berarti tidak akan pernah memerlukan pekerjaan lagi setelah ada orang tinggal.
Papa datang menjelang pemeriksaan selesai. Ia mendengar penjelasan mengenai garansi, lalu meminta pengacara menyimpan berkas bersama dokumentasi kondisi awal. Davina menunjukkan perbandingan biaya akhir dengan perkiraan sewa. Tambahan telah masuk, sehingga angka tidak sama dengan harapan pertama. Meski begitu, pilihan sewa keluarga tanpa perabot masih masuk akal untuk tujuan yang sudah dibahas. Papa menyetujui penawaran rumah melalui agen.
'Berarti fotonya boleh dipakai sekarang?' tanya agen.
'Setelah kami lihat bagian keterangan kondisi,' jawab Davina. 'Jangan tulis seluruh rumah baru direnovasi kalau yang diperbaiki bagian tertentu.'
Agen mengangguk dan memperbaiki uraian. Ia tidak memerlukan gambar yang membuat orang datang dengan harapan keliru. Davina memeriksa beberapa foto, meminta barang pengurus di sudut dipindahkan dahulu. Mereka menunggu cahaya yang cukup tanpa menyembunyikan bagian yang lebih tua. Rumah tampak rapi dan dapat dipakai, dengan halaman yang kini cukup terang setelah semak dibersihkan.
Devon tiba setelah menyelesaikan urusan pagi di DM Electronics. Ia menyapa Papa, lalu ikut mendengar bagian terakhir mengenai pemeliharaan. Ketika dimintai pendapat, ia bertanya siapa kontak awal bila penyewa menemukan kerusakan. Agen menjelaskan alur serta orang yang dapat dihubungi. Davina menerangkan ia memantau melalui mandat keluarga, sedangkan pengurus serta teknisi menjalankan pekerjaan yang tidak harus menunggu ia datang.
Papa mengelilingi ruang tamu lebih pelan daripada sebelumnya. Ia mengatakan dahulu membayangkan Davina duduk di sana setiap kali keluarga datang. Putrinya mendekat dan mengaku ia pun pernah membayangkan banyak hal yang berbeda dari kehidupan sekarang. Ia tidak ingin ayah merasa semua persiapan ditolak, tetapi ia juga tidak dapat menempati rumah untuk membuktikan terima kasih.
'Papa tahu,' jawabnya. 'Rumah masih milik keluarga karena pengalihannya tidak jadi diselesaikan. Kita urus sewanya sesuai itu, bukan pura-pura kamu harus tinggal di sini dulu.'
Davina mengangguk. Ia merasa lega mendengar status yang sudah dibaca dalam dokumen dapat diucapkan tanpa menjadi tuduhan bahwa ia tidak menghargai orangtua. Kontribusi persiapan Mahawira juga telah dicatat dan diterangkan kepada pihak yang berkaitan. Tidak ada uang bersama pasangan yang tiba-tiba dianggap harus menutup seluruh perbaikan. Ia menyukai bahwa rumah dapat berguna tanpa membuat kepemilikannya perlu dikaburkan.
Di halaman, Devon mengambil foto Davina bersama Papa setelah keduanya setuju. Istrinya berdiri sedikit canggung, memegang map seperti baru selesai presentasi. Ia menyuruh map ditaruh dan mendapat protes bahwa semua orang justru datang untuk memeriksa berkas. Papa tertawa, mengambil map dari tangannya, lalu berdiri lebih dekat. Kali ini senyum Davina tidak tampak dipaksakan.
Sesudah beberapa gambar, Papa meminta satu foto dengan Devon juga. Pengurus mengambil perangkat dan menunggu keduanya berdiri. Davina meraih lengan suami, menggeser sedikit agar semua masuk. Ketika hasilnya dilihat, ia tertawa karena map yang tadi ditaruh justru tampak paling depan pada meja teras.
'Kirim ke Mama,' katanya setelah melihat hasil.
'Yang mana?'
'Yang Papa tidak kelihatan sedang memikirkan biaya.'
Ayahnya menggeleng sambil tersenyum. Mereka berpisah setelah menerima salinan yang diperlukan. Devon mengajak makan siang sebelum kembali ke kantor, dan Davina menerima karena jadwal berikutnya baru pada sore. Mereka memilih tempat dekat rumah agar tidak menghabiskan waktu di perjalanan. Selama menunggu, ia melihat foto sekali lagi, kemudian menyimpannya untuk menikmati percakapan yang sedang terjadi.
Devon menanyakan bagaimana rasanya rumah siap dipakai orang lain. Davina mengaku sedikit aneh. Ia tahu pilihan itu tepat, tetapi tetap membutuhkan waktu membayangkan ruang yang pernah disiapkan untuk dirinya akan diisi keluarga lain. Suaminya mengatakan ia tidak harus segera merasa sangat gembira agar keputusan dianggap benar. Davina tersenyum, merasa dapat mengakui kehilangan bayangan tanpa disuruh membatalkan pilihan.
Ketika telepon Devon berbunyi, ia mendapat kabar draf investasi datang dengan klausul auditor sepihak bila laporan terlambat. Ia tidak membuka seluruh dokumen saat makan. Ia menyampaikan pokok kepada Davina, mengatakan tim sedang memeriksa dan tidak ada jawaban sebelum keduanya selesai pada jadwal kerja. Istrinya mengangguk, lalu menanyakan bagian yang perlu ia baca nanti. Pekerjaan dapat dibagi tanpa mengambil semua yang sedang dinikmati.
Sore itu penasihat mengusulkan pemberitahuan serta kesempatan memperbaiki laporan sebelum pemeriksaan khusus, dengan auditor dan ruang lingkup yang disepakati. Usul diteruskan kepada Arman untuk dibahas. Davina menyampaikan bahwa angka dari proyek tetap dapat diperiksa tanpa memberi hak membuka berkas pribadi seluruh pekerja. Ia tidak meminta satu pertemuan baru hanya untuk mengulang keberatan yang sudah jelas dicatat.
Menjelang pulang, agen memberi kabar calon keluarga ingin melihat rumah pada Sabtu berikutnya. Davina menyetujui waktu kunjungan setelah dokumen awal diterima, sekaligus meminta mereka diberi bahan kondisi serta syarat yang sama dengan calon lain. Ia tidak menjanjikan sewa sebelum orang datang. Foto anak yang dikirim bersama pertanyaan bukan alasan memilih lebih cepat; semua pihak tetap perlu mengetahui tanggung jawab yang akan diterima.
Di penthouse, ia menemukan Devon sudah pulang dan sedang merapikan kotak perangkat lama. Mereka menyeleksi yang masih dipakai, menyimpan bagian yang diperlukan dan menata sisanya untuk diserahkan melalui layanan pengumpulan yang sesuai. Davina mengejek jumlah kabel yang tidak lagi dikenali pemiliknya. Devon membalas dengan menunjukkan tas belanja kain yang terselip di sudut, membuat istrinya tertawa malu.
Malam berakhir dengan ruang yang lebih rapi dan beberapa benda yang akhirnya ditemukan. Davina menaruh foto bersama Papa pada bingkai kecil yang selama ini belum diisi. Devon melihat dari dekat, kemudian memindahkan sedikit agar tidak tertutup lampu. Mereka berdiri berdampingan menilai hasilnya, lalu Davina menarik tangan suami untuk melihat satu kotak lain. Masih ada barang yang ingin dibereskan sebelum keduanya terlalu mengantuk untuk membedakan mana yang harus disimpan.