Kamis, ketika perbaikan rumah sudah berjalan beberapa minggu, kontraktor menemukan sambungan pipa kecil yang membasahi kayu di balik panel dapur. Foto serta perkiraan dikirim sebelum pekerjaan tambahan dilakukan. Davina meminta pengurus menghadirkan pemeriksa untuk memastikan masalah tidak berasal dari saluran utama. Ia sudah beberapa kali melihat biaya bertambah, tetapi tidak ingin rasa kesal membuat satu kerusakan dianggap cukup untuk menghentikan seluruh rencana.
Pemeriksaan Jumat menunjukkan perbaikan lokal dapat dilakukan. Rincian jam serta bahan disesuaikan, kemudian pemilik menerima perubahan melalui jalur yang sudah diberikan. Sambungan diganti dan diuji, bagian kayu dibiarkan mengering sebelum ditutup. Penataan berikut dapat diteruskan sambil menunggu. Davina melihat kondisi bersama pengurus, menyimpan foto dan hasil pemeriksaan. Ia tidak perlu memanggil Devon dari rapat kantornya untuk pertanyaan yang sudah dijawab orang yang bertugas.
Sore itu Papa menelepon, khawatir tambahan biaya membuat sewa tidak lagi layak. Davina menjelaskan jumlah yang masih berada dalam cadangan dan kapan perbandingan akhir dapat diberikan. Ia tidak menjanjikan tidak akan ditemukan hal lain, hanya menerangkan batas biaya yang membuat mereka harus menilai ulang. Papa menerima untuk melanjutkan. Sebelum telepon ditutup, Davina mengingatkan mereka tetap datang makan siang pada Sabtu seperti yang telah dijanjikan.
Mama menyambut dengan pertanyaan apakah jalan ramai. Davina menjawab sambil melepas alas kaki dan mencium ibunya. Bau masakan yang dikenali sejak pintu terbuka membuatnya segera menuju dapur. Devon mengikuti setelah menyapa Papa, lalu berdiri di tempat yang ditunjukkan agar tidak menghalangi orang membawa piring. Ia baru hendak bertanya apa yang perlu dibantu ketika Mama sudah menyuruhnya membawa minuman.
'Kamu ingat masih suka ini?' tanya Mama kepada Davina.
'Aku sudah menunggu sejak Mama bilang akan memasak.'
'Jangan cuma bilang karena sekarang jarang pulang.'
Davina mengambil sendok, mencicipi, lalu memejamkan mata dengan wajah yang membuat ibunya tersenyum puas. Devon meminta penjelasan makanan mana yang dahulu paling sering diminta. Mama langsung menceritakan kebiasaan putrinya memilih bagian tertentu sampai semua orang tahu harus menyisihkan. Davina memprotes karena kisah yang disampaikan selalu bagian yang membuatnya tampak merepotkan.
'Kamu juga merepotkan waktu kecil?' tanyanya kepada Devon.
'Sekarang pun kadang masih,' jawab pria itu sebelum Papa sempat tertawa.
Mereka makan dengan percakapan yang tidak tergesa. Davina mengambil tambahan, mengingat betapa dahulu meja ini menjadi tempat ia memikirkan cara membantah rencana pernikahan sambil pura-pura setuju. Sekarang ia datang bersama pria yang dicintai dan tidak harus menertawakan seluruh masa itu sebagai salah paham yang lucu. Ia senang Mama hanya bertanya apakah ingin dibungkuskan untuk besok.
Setelah makan, mereka duduk di teras. Kursi yang dipindahkan dari rumah sewa berada dekat tanaman Mama. Devon mencobanya dan mengaku sandarannya nyaman, mendapat jawaban bahwa ia boleh duduk lama asalkan tidak segera membuka rapat. Pria itu tertawa lalu menaruh telepon di saku. Papa mengambil tempat di dekatnya, sementara Davina menemani Mama menyiram bagian tanaman yang terlalu kering.
Mama menunjukkan satu pot yang dahulu hampir mati karena Davina terlalu rajin menyiram. Putrinya langsung membantah bahwa saat itu ia belum tahu berapa banyak air diperlukan. Ibunya tertawa dan mengatakan pot yang sama sekarang justru paling mudah dirawat. Devon mendengar, lalu menanyakan apakah itu alasan ia dilarang membantu bagian tanaman di penthouse. Davina menunjuknya dengan penyiram, membuat pria itu segera mundur agar kemejanya tidak basah. Papa ikut tertawa, suara yang sudah lama tidak didengar Davina ketika duduk bersama suaminya. Ia menurunkan penyiram dan menyelesaikan pekerjaan kecil itu sebelum bergabung, merasa senang tidak harus menjadi orang paling dewasa sepanjang siang.
Percakapan tentang pekerjaan baru muncul ketika Papa menanyakan kelas keuangan. Davina menceritakan latihan serta teman belajar, bukan membuatnya terdengar seperti persiapan menjadi kepala keuangan dalam beberapa pekan. Papa mengatakan perusahaan dapat menyediakan peran lebih besar jika ia ingin serius. Putrinya menegakkan duduk, lalu menanyakan peran apa yang benar dibutuhkan, bukan sekadar tersedia karena ia anak pemilik.
'Papa cuma tidak ingin kemampuanmu disia-siakan.'
'Aku juga ingin berkembang. Tapi sekarang aku masih belajar. Kalau tugas baru ada, aku mau tahu apa yang harus kukerjakan dan siapa yang menilai.'
Papa tampak berpikir. Ia mengatakan dapat meminta tim menyusun kebutuhan sebelum mereka membahas lagi. Davina mengangguk, menegaskan belum menerima atau menolak sesuatu yang belum jelas. Devon tidak menyela untuk membela bahwa istrinya sudah sibuk. Ia mendengar, kemudian menanyakan satu bagian pekerjaan Papa yang sudah lama ingin diketahui, membuat pembicaraan bergerak tanpa menyisakan tuntutan jawaban Davina hari itu.
Di dapur, Mama membuka wadah untuk makanan yang akan dibawa pulang. Davina membantu dan mengaku senang kunjungan kali ini tidak menjadi pertemuan kerja sepanjang waktu. Ibunya tersenyum lelah, mengatakan kadang orangtua terlalu ingin berguna sampai lupa anak datang juga untuk makan serta bercerita. Ia menutup satu wadah dan menanyakan apakah putrinya ingin membawa bagian yang paling disukai atau berbagi dengan suami.
'Boleh dua-duanya?' tanya Davina.
'Kamu memang belum berubah pada bagian itu.'
Mereka tertawa. Sebelum pergi, Papa menanyakan kepada Devon apakah pekerjaan elektroniknya membuat sulit mengikuti proyek properti. Pria itu menjawab waktu memang perlu dibagi dan ia tidak dapat menjadi kepala semua lokasi. Papa mengangguk, mengatakan ia sendiri dahulu terlalu sering mengira anak dapat mengambil waktu kapan saja ketika keluarga meminta. Ia belum berjanji tidak akan meminta lagi, tetapi setidaknya kalimat itu membuat keduanya dapat menjawab tanpa langsung dianggap menghindar.
Dalam perjalanan pulang, Davina membuka sedikit tutup wadah karena ingin mengambil satu potong. Devon menegurnya sambil tersenyum, mengatakan makanan itu seharusnya untuk besok. Ia membalas bahwa mereka tidak menandatangani larangan menyantap lebih awal. Pria itu tertawa dan meminta disisihkan. Davina menyuapkan setelah mereka berhenti, lalu mengusap jarinya dengan tisu. Pekan yang diisi kekhawatiran pipa akhirnya memberinya sesuatu yang lebih lama dirindukan: duduk bersama orangtua tanpa harus membawa jawaban untuk semua rencana hidupnya.