Senin pagi, laporan penutupan pusat konferensi menyertakan hasil pemeriksaan kabel pada pekan terakhir pekerjaan. Satu sambungan lama ditemukan ketika panel dibuka. Teknisi menghentikan bagian tersebut, memastikan luas kerusakan, lalu mengganti sambungan sebelum diperiksa dan ditutup kembali. Gambar instalasi diperbarui. Pekerjaan lain diteruskan sehingga temuan itu telah selesai sebelum penggunaan ruangan pada Jumat, dengan biaya serta perubahan harinya tetap masuk catatan.
Davina membaca foto sebelum dan sesudah bersama keterangan orang yang memeriksa. Ia menanyakan apakah tambahan biaya memang sesuai lingkup, kemudian meneruskan jawaban kepada penasihatnya. Keputusan tersebut tidak perlu menjadi rapat seluruh keluarga. Yang penting bagi pemilik adalah risiko ditemukan dan ditangani oleh orang yang bertugas, tanpa memaksa mereka menutup panel agar hasil akhir kelihatan tepat waktu.
Siang hari ia menyelesaikan pendaftaran kelas keuangan yang sudah dipilih. Pertemuan pertama pada Selasa pekan berikutnya, sesudah tugas tinjauan akhir konferensi selesai. Ia membayar dari penghasilan sendiri dan menerima bahan awal. Ketika Devon menelepon, ia menceritakan dengan semangat yang membuat suaminya tertawa. Ia mengingatkan pria itu tidak boleh segera bertanya nilai ketika ia bahkan belum pernah duduk dalam kelasnya.
'Aku cuma mau bilang selamat,' jawab Devon.
'Bagus. Pertahankan jawaban itu.'
Menjelang sore, hujan membuat rencana berjalan sebentar di taman gedung harus ditunda. Mereka bertemu di penthouse dan memilih menghabiskan malam di rumah. Tidak ada perayaan yang disiapkan. Devon membawa makanan yang dibeli setelah pertemuan, sedangkan Davina mengeluarkan buah dari kulkas. Ia menata meja lebih lambat, menikmati bahwa tidak ada orang menunggu jawaban dalam lima menit berikutnya.
Saat makan, Devon mengumumkan ia sudah menyelesaikan novel yang dipinjamkan. Davina memandangnya dengan curiga, meminta ia menceritakan akhir tanpa melihat halaman. Pria itu menjawab cukup panjang, lalu mengatakan ia justru sepakat dengan Em tentang satu keputusan tokoh. Davina mengeluh suaminya dibiarkan membaca untuk membentuk kubu lain. Devon mengatakan ia bersedia membela pendapat sambil mencuci piring.
Mereka menghabiskan hampir satu jam memperdebatkan cerita, tertawa pada bagian yang sama dan berbeda mengenai alasan tokoh memaafkan. Davina sempat terdiam ketika menyadari betapa mudah orang di luar kisah menginginkan keputusan yang rapi. Ia tidak ingin setiap pilihan dirinya dijelaskan sebagai kelemahan atau kemenangan. Ia kini mengenal lebih banyak hal dari Devon dibanding pria yang dahulu hanya tahu cara membuatnya marah.
Suaminya melihat ia berhenti bicara, lalu menanyakan apakah ada yang ingin disampaikan. Davina menggeleng sebentar, kemudian mengatakan ia sedang senang. Jawaban itu membuat Devon tersenyum dengan wajah yang masih sulit dipercaya dapat begitu terbuka. Ia menyentuh pipi pria tersebut, menertawakan bekas saus kecil yang ternyata tidak hilang setelah makan. Devon meraih tisu, dan ia memintanya duduk kembali.
'Aku bisa membersihkannya,' katanya, lalu mengusap dengan tisu yang dibawa sendiri.
Devon diam saat ia mendekat. Davina mencium bibirnya, kali ini lebih lama daripada ciuman singkat ketika berangkat. Pria itu membalas dan menyentuh wajahnya, tidak menarik ketika ia bergeser mencari posisi yang nyaman. Mereka terpisah sebentar karena Davina hampir menjatuhkan bantal, lalu tertawa dengan napas yang belum tenang.
Ia menggenggam tangan suami dan mengajaknya ke kamar. Devon berdiri, tetapi menatapnya sebelum melangkah. Davina tidak merasa terganggu ketika ia memastikan keinginannya. Ia mengatakan ingin dekat dengannya malam itu, sungguh menginginkan lebih daripada berpelukan, dan akan mengatakan bila perlu berhenti. Devon menjawab ia juga ingin, kemudian menciumnya lagi dengan kelembutan yang membuat dadanya terasa penuh.
Di kamar, mereka melupakan jam tanpa berlomba menghapus jarak yang pernah ada. Davina dapat tertawa, bergerak menjauh sebentar, lalu mendekat kembali. Devon mendengarnya ketika ia meminta lebih pelan. Lampu diredupkan dan malam menjadi milik keduanya, dengan keintiman yang lahir dari keinginan bersama. Tidak ada janji tentang anak atau cara membuktikan bahwa seluruh ketakutan sudah hilang.
Setelahnya, Davina berbaring dekat suami, menyimak hujan yang masih turun. Ia merasa lelah dengan cara yang hangat, sedikit malu ketika Devon memandang terlalu lama. Ia menutupi wajah pria itu dengan telapak. Devon tertawa, mencium jarinya dan menurunkan tangan tersebut untuk digenggam. Ia mengatakan ia bahagia. Davina mengangguk, merasa tidak perlu mencari kalimat yang lebih pintar daripada mengaku ia juga begitu.
Beberapa saat kemudian, ia bertanya apakah suaminya masih memikirkan malam pertama. Devon menjawab kadang, lalu mengaku dahulu terlalu ingin membuatnya menerima apa yang tidak dipilih. Ia menyesal pada bagian yang menyakiti, bukan karena rencananya gagal. Davina mengatakan ia sendiri mengingat dirinya yang berusaha mengatur perasaan orang lain, lalu tidak tahu bagaimana menjaga diri ketika permainan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
'Sekarang aku tidak sedang membuatmu membuktikan apa-apa,' katanya.
'Aku tahu. Aku ingin kita tetap bisa mengatakan tidak besok, meski malam ini kita sama-sama mau.'
Davina memeluknya lebih erat. Mereka tidak mengulang seluruh cerita pulau sampai pagi. Ada ingatan yang cukup disebut, ada bagian yang masih dapat dibicarakan lain waktu. Ketika ia mulai mengantuk, Devon meraih selimut yang jatuh dan menutup keduanya. Davina menegurnya karena salah menarik sisi, lalu tertawa saat suaminya menyerah mengatur dan membiarkannya memperbaiki.
Pagi berikutnya, ia bangun lebih dahulu. Devon masih tidur dengan rambut berantakan dan satu tangan terulur ke tempat ia berbaring. Davina tersenyum, mencium pipinya sebelum beranjak dari ranjang untuk menyiapkan minum. Hari itu mempunyai pekerjaan serta janji biasa. Ia merasa senang mengetahui malam yang mereka pilih tidak membuatnya kehilangan dirinya pada pagi sesudahnya.
Devon menyusul ketika air sudah panas. Ia memeluk istrinya dari samping, lalu melepaskan untuk mengambil cangkir ketika Davina menunjuk lemari. Keduanya terlambat menyadari roti yang dipanaskan mulai terlalu gelap. Davina menyalahkan percakapan suaminya, Devon menyebut ia hanya mengatakan selamat pagi. Mereka tertawa dan berbagi bagian yang masih dapat dimakan. Sebelum berangkat, Davina mengingatkan jadwal yang berbeda sore nanti, lalu mencium suami sekali lagi. Tidak ada yang kecewa karena setelah malam begitu dekat mereka tetap harus pergi ke tempat masing-masing.