Pada pekan keenam pusat konferensi, Devon datang bersama Arman untuk melihat hasil yang sudah dapat digunakan. Ia tidak memimpin penjelasan teknis. Pengelola menunjukkan ruangan, memberi waktu calon investor bertanya kepada orang yang menangani pekerjaan. Davina menyusul pada jadwal yang telah ditentukan, membawa bagian yang diperlukan untuk pembahasan biaya. Hari itu bukan penandatanganan modal, melainkan kesempatan melihat bahan sebelum Arman menyusun usul yang lebih pasti.
Di salah satu ruang, sebuah perusahaan sedang menguji tata letak sebelum acara. Staf menggeser kursi dan memastikan petunjuk menuju pintu tidak tertutup. Arman menanyakan apakah perubahan dapat dilakukan tanpa menunggu kedua keluarga. Pengelola menjelaskan apa yang menjadi tugasnya, kemudian langsung memberi instruksi kepada staf. Devon senang jawaban itu dapat dilihat, bukan hanya disajikan pada gambar bagan.
Ketika pembicaraan menyentuh pemberitahuan pekerjaan, seorang staf layanan menyebut keluhan yang pernah datang terlambat ditangani. Devon melihat manajer bergerak hendak menambahkan penjelasan, lalu berhenti sendiri. Keluhan itu sudah mempunyai akibat biaya serta perubahan jadwal. Ia tidak ingin orang yang menyampaikannya merasa telah membuat kunjungan menjadi buruk. Arman justru menanyakan apa yang sekarang dikerjakan berbeda.
Staf menunjukkan bahwa kontak acara kini dikonfirmasi sebelum pesan penting dikirim. Salah satu pemberitahuan dahulu masuk kotak yang jarang diperiksa pelanggan. Survei sementara belum dijawab semua orang; ada tanggapan baik serta satu yang masih kecewa. Davina menyebut jumlah yang sudah merespons bersama hasilnya, sehingga sedikit jawaban tidak terdengar seperti pendapat seluruh pemakai gedung.
Arman mendengarkan, kemudian mengatakan ia tetap khawatir biaya pengawasan bertambah bila proyek lebih besar. Devon meminta ia memasukkan kebutuhan yang dibayangkan dalam usul modal. Mereka dapat membandingkan cara kerja dengan akibat hak serta tanggung jawab yang diminta. Ia tidak dapat menjanjikan pemeriksaan akan selalu secepat hari itu, apalagi sebelum mengetahui proyek serta orang yang akan melaksanakannya.
Arman menanyakan apakah tambahan petugas pemeriksa benar diperlukan. Davina menunjukkan jumlah pekerjaan sebelum dan sesudah orang itu masuk, lalu mengatakan mereka belum mengetahui kebutuhan untuk lokasi lebih besar. Pengelola menambahkan bagian yang akan terbengkalai bila tugas tersebut sekadar disisipkan kepada staf yang sudah penuh. Devon melihat Arman membuat catatan. Untuk pertama kali, pembicaraan biaya menyangkut pekerjaan seseorang yang berdiri di hadapannya, bukan hanya angka yang tampak dapat dihapus dari tabel.
'Anda tidak takut peluang ini hilang?' tanya Arman.
'Takut,' jawab Devon. 'Tapi saya akan lebih kesulitan kalau peluang diterima dengan janji yang tidak bisa kami jalankan.'
Davina meliriknya, tersenyum sedikit. Arman tidak ikut tersenyum. Ia meminta beberapa bahan tambahan dan mengatakan akan membawa rancangan setelah menilai. Devon menerima bahwa ketegasan tidak selalu membuat orang langsung menghargainya. Kadang ia hanya harus berdiri dengan jawaban yang dapat ditanggungnya dan membiarkan orang lain menimbang pilihan sendiri.
Pada Jumat, enam minggu pelaksanaan berakhir dengan pekerjaan yang direncanakan selesai serta pemeriksaan yang dijadwalkan. Laporan akhir dikumpulkan untuk pertemuan sesudahnya. Tidak semua ruangan menghasilkan pengalaman tanpa keluhan, tetapi pengelola dapat menunjukkan apa yang benar diubah. Anita akhirnya mengambil dua hari cuti yang telah disiapkan penggantinya. Devon merasa senang ketika namanya tidak harus menjadi orang yang dihubungi untuk menutup setiap kekosongan.
Minggu pagi, ia mendapati Davina sudah berpakaian untuk pergi bersama Em. Istrinya mengingatkan rencana yang pernah diceritakan, dan Devon mengangguk meski sesaat lupa. Ia sempat ingin mengusulkan makan bertiga. Namun, ia tahu keduanya sudah memilih kegiatan sendiri, sehingga ia hanya menanyakan pukul berapa kira-kira pulang untuk mengatur makan malam.
'Aku akan kabari kalau berubah,' kata Davina. 'Kamu mau melakukan apa?'
Devon hampir menjawab bekerja. Ia melihat tas kantor yang ditinggalkan di dekat meja, lalu memutuskan menelepon Hawa untuk menanyakan apakah masih ada pekerjaan membereskan barang perayaan ibu. Ia sudah menawarkan bantuan tetapi belum memberi waktu. Hawa terdengar terkejut, kemudian segera membacakan daftar yang membuatnya tertawa menyesal sudah bertanya.
Ketika Davina berangkat, ia menciumnya singkat di dekat pintu. Devon ingin menahannya beberapa detik lebih lama, tetapi melepaskan dengan senyum. Ia kemudian mengganti pakaian dan pergi ke rumah orangtua tanpa membawa berkas. Di sana, ia mengangkat beberapa kotak bersama Hawa, menemukan kartu yang terselip, lalu mengembalikannya kepada ibu. Perempuan itu membacanya dan mengeluh anak-anak selalu membuat rumah berantakan sesudah membantu.
'Itu cara Ibu bilang terima kasih?' tanya Devon.
'Kalau kamu tetap tinggal makan, Ibu pikirkan kalimat lain.'
Ia tertawa dan menerima. Ayah berada di rumah tetapi tidak membuka pembicaraan proyek saat mereka makan. Devon sempat menunggu pertanyaan, lalu menyadari dirinya sendiri sudah terbiasa menyiapkan pembelaan sebelum ada yang menyerang. Ia menanyakan tanaman baru di teras dan mendengar kisah ibu mengenai tempat membelinya. Percakapan itu terasa biasa, justru karena ia sudah lama jarang menyediakan waktu untuk mendengar.
Davina mengirim pesan pada sore hari bahwa kegiatan dengan Em menyenangkan dan keduanya sedang makan sebelum pulang. Tidak ada foto yang harus diminta sebagai bukti. Devon membalas mengenai kotak serta makanan ibu, lalu menyimpan perangkat. Ia belum merasa selalu mudah melepaskan kebersamaan yang diinginkannya. Namun, ia juga menikmati hari yang dapat diisi tanpa menganggap pernikahan membuat hanya ada satu orang yang boleh ditemui.
Malamnya, Davina pulang membawa cerita yang terputus-putus oleh tawa. Em berhasil memilih tempat yang disukai, dan keduanya terlalu lama berdebat mengenai makanan sampai hampir melewatkan pesanan. Devon mendengar sambil menyiapkan piring. Istrinya kemudian menanyakan hari yang dijalaninya, sungguh menunggu jawaban. Ia menceritakan kartu serta ibu yang pura-pura kesal, merasa rindu pada Davina dapat berjalan bersama hidup yang tetap mempunyai orang lain.
Davina menunjukkan dua pembatas buku yang dibeli dari toko kecil dekat tempat kegiatan. Satu dipilihkan Em untuknya, yang lain untuk Devon karena sahabatnya menuntut novel benar selesai dibaca. Ia tertawa dan mengambil bagian yang bergambar cangkir. Davina mengatakan mereka ingin mengulang kegiatan pada kesempatan lain, tetapi memilih pulang sebelum terlalu lelah hari itu. Devon mengangguk, menyelipkan pembatas pada halaman terakhir yang dibaca. Ia sudah mempunyai pendapat yang akan membuat perdebatan mereka bertiga semakin panjang.