Selasa pada pekan kelima pusat konferensi, pekerjaan rumah sewa dimulai. Davina hadir bersama pengurus dan pengacara keluarga. Ia memeriksa apakah bagian yang dibuka sesuai lingkup yang sudah disetujui Papa, lalu mendengar kontraktor menjelaskan urutan pekerjaan. Devon tidak ikut karena mempunyai pertemuan di kantornya. Mereka sudah membicarakannya, dan ketidakhadirannya tidak membuat Davina merasa janji yang tidak pernah dibuat telah dilanggar.
Agen properti datang menjelang siang. Ia melihat kondisi awal untuk menyiapkan perkiraan sewa sesudah perbaikan, membedakan rumah tanpa perabot dari pilihan bagi penyewa perusahaan yang menginginkan semua siap. Davina meminta perbandingan hasil bersih serta pekerjaan pemeliharaan, bukan hanya angka pemasukan yang paling tinggi. Keputusan mengenai calon penyewa menunggu rumah layak serta pemilik menilai syarat. Foto kondisi disimpan untuk dibandingkan pada pemeriksaan berikut.
Sebelum pergi, Davina menemukan kursi teras yang ingin disimpan Mama sudah dipindahkan. Pengurus menunjukkan tanda terima pengiriman. Ia mengirim foto kepada ibunya dan mendapat balasan kursi itu sudah ditempatkan dekat tanaman. Benda tersebut tidak harus menunggu rumah dihuni pasangan yang dahulu dibayangkan. Davina tersenyum, kemudian mematikan layar untuk memperhatikan jalan saat berjalan menuju mobil.
Sabtu sore, ia mengikuti kegiatan kelompok kelas yang sudah dicatat jauh sebelumnya. Mereka berlatih percakapan dan sebagian rencana berubah karena satu peserta berhalangan hadir. Davina sempat ingin cepat pulang ketika mengingat makan keluarga Hawa, tetapi memilih menyelesaikan bagian yang sudah diambilnya. Ia mengirim kabar perkiraan tiba kepada Devon dan mendapat jawaban bahwa makanan masih tersedia.
Ia tiba ketika suasana rumah sudah ramai. Hawa menyambut di pintu, mengambil barang bawaannya dan menanyakan apakah kelas berjalan baik. Davina mengangguk, sedikit terkejut tidak langsung dimintai alasan terlambat. Devon muncul dari ruang makan dengan senyum lebar, menunjukkan tempat menyimpan tas sebelum mengajaknya masuk. Di meja, ibunya sedang membuka hadiah dari salah seorang kerabat.
Makan itu juga merayakan ulang tahun ibunya. Devon sudah menyerahkan perangkat minum yang dipilih setelah bertanya kepada Hawa, disertai tulisan pendek mengenai teh yang dahulu sering disiapkan sepulang sekolah. Davina melihat ibunya membaca kartu sekali lagi sebelum menyimpan. Hadiah itu tidak menjadi benda termahal di ruangan, tetapi ia merasa senang suaminya akhirnya mencari tahu apa yang hendak dikenang.
'Kamu lapar?' tanya ibu Devon.
'Lapar sekali. Tadi saya cuma sempat makan sedikit.'
'Kalau begitu duduk. Ceritanya setelah makan.'
Davina tertawa dan mengambil piring. Ia duduk dekat suami, menikmati pembicaraan yang sebagian tidak dipahaminya karena berasal dari masa kecil keluarga itu. Hawa menjelaskan ketika diperlukan, lalu membiarkannya tertawa pada kisah Devon yang pernah merasa dapat memperbaiki barang tanpa membaca petunjuk. Suaminya mengeluh bahwa semua orang memilih hari ini untuk mengingat kegagalannya.
Setelah piring pertamanya habis, ibu Devon menanyakan apakah ia ingin melihat hadiah yang dipilih suami. Davina mengangguk dan mendekat. Perempuan itu menunjukkan bentuk pegangan yang nyaman, mengatakan Hawa pernah mendengarnya mengeluh perangkat lama terlalu berat. Davina tersenyum melihat Devon mencoba bersikap seolah semua itu hasil pengamatannya sendiri. Ibunya mengetuk lengannya, lalu menyimpan kartu lebih dahulu sebelum mengembalikan hadiah ke tempat aman.
'Ini yang jangan sampai hilang waktu kalian membantu membereskan,' katanya sambil menunjuk kartu.
'Kalau perangkatnya?' tanya Devon.
'Itu juga. Jangan mulai mencari bagian yang boleh dirusak.'
Mereka tertawa. Davina mengatakan tulisan pada kartu membuat hadiah lebih mudah dikenang. Ibu Devon mengangguk, lalu menceritakan putranya dahulu sering lupa membawa kembali wadah minum dari sekolah. Devon mengerang mendengar kisah baru dimulai. Davina duduk lagi dan meminta dilanjutkan, merasa diterima lewat cerita yang tidak membutuhkan dirinya memberi jawaban yang benar.
Ayah Devon masuk dalam percakapan ketika pekerjaan disebut. Ia menanyakan apakah kelas membuat Davina sulit memenuhi tugas di proyek. Davina menjawab jadwalnya sudah disesuaikan dengan dua hari mandatnya. Ada kunjungan tambahan yang menggantikan hari lain, dan bagian teknis tetap ditangani pengelola. Ia tidak perlu membuktikan kesungguhan dengan hadir setiap kali pintu proyek dibuka.
'Tapi kesempatan belajar langsung tidak datang setiap hari,' kata ayahnya.
'Betul. Saya juga tidak bisa mengambil semuanya sekaligus. Kalau tugas bertambah, saya perlu membicarakan waktu dan persiapannya lagi.'
Devon menahan keinginan menjawab. Ia melihat Davina meletakkan sendok dan meneruskan penjelasan dengan tenang, sehingga ia membiarkannya menyelesaikan. Ayahnya tidak langsung setuju, tetapi beralih menanyakan pelajaran yang sedang diikuti. Perbincangan berjalan beberapa menit sebelum ibu meminta semua mengambil hidangan berikut. Davina kembali makan, mendapati suaminya menyodorkan bagian yang disukainya tanpa komentar kemenangan.
Setelah meja dibersihkan, Hawa mengajak Davina melihat foto lama yang ditemukan saat menyiapkan kartu ulang tahun. Ada Devon dengan pakaian yang jelas terlalu besar dan wajah kesal karena diminta berdiri lama. Davina tertawa sampai suaminya datang untuk memeriksa apa yang begitu menghibur. Ia mencoba mengambil foto, tetapi Hawa lebih cepat menyimpan album di belakang tubuh.
'Ini bukti keluarga,' katanya. 'Kamu tidak bisa menyita.'
Devon mengangkat tangan menyerah. Davina meminta melihat sekali lagi, lalu menanyakan berapa lama gaya rambut itu dipertahankan. Suaminya mengatakan ia mulai menyesal mengenalkan mereka. Hawa tertawa, tetapi ketika hendak mengirim foto ke kelompok yang lebih ramai, ia berhenti dan bertanya kepada Devon. Pria itu membolehkan satu, setelah menolak yang paling memalukan.
Davina memperhatikan pertanyaan kecil itu dan teringat fotonya sendiri yang pernah beredar tanpa keinginan. Ia tidak membuka pembahasan di tengah perayaan. Namun, ia senang Hawa tidak menganggap semua gambar keluarga otomatis bebas diteruskan. Mereka menutup album dengan beberapa tawa, lalu bergabung kembali ketika minuman disajikan.
Dalam perjalanan pulang, Devon menanyakan apakah percakapan dengan ayah membuatnya kesal. Davina mengaku agak tegang, tetapi senang dapat menjawab sendiri. Ia juga senang ibu tidak membuat kedatangannya terlambat menjadi persoalan. Devon mengatakan ia sudah menyampaikan jadwal sejak awal, lalu tertawa ketika istrinya mengingat foto rambutnya. Ia mengulurkan tangan saat mobil berhenti, dan Davina menggenggam sampai kendaraan kembali bergerak. Malam itu ia pulang membawa cerita keluarga yang ingin dikenang, bukan hanya pertanyaan yang perlu dipertahankan jawabannya.