Pada Senin pekan kelima, suara pembongkaran panel pusat konferensi mengganggu presentasi di bagian lain gedung. Perkiraan awal tidak sesuai ketika pekerjaan benar dimulai. Manajer menghentikan bagian yang bising dan menemui pelanggan, sementara teknisi memeriksa pilihan penataan ulang. Davina tiba ketika seorang staf layanan sedang menerima keluhan dengan wajah tegang. Di balik pintu, peserta masih duduk menunggu pembicara melanjutkan.
Ia tidak masuk untuk mengambil alih pembicaraan. Pengelola sudah berada di sana dan mempunyai hubungan dengan pelanggan. Setelah mendapat bahan yang dapat diperiksa, tim menawarkan pengurangan biaya atas gangguan serta pemindahan pekerjaan paling keras ke waktu ruang tersebut tidak dipakai. Tidak ada janji suara sama sekali tidak terdengar. Pelanggan meminta pemberitahuan langsung sebelum kegiatan berikut, lalu menerima perbaikan yang ditawarkan.
Kontraktor semula memakai perkiraan dari lokasi dengan bentuk ruang berbeda. Pekerjaan dibagi dengan pembatas tambahan, menambah satu hari dibanding jadwal bagian itu. Pengelola menata kembali kalender agar pekerjaan tetap dapat dituntaskan dalam sisa masa enam minggu. Biaya kompensasi masuk laporan sebenarnya. Davina tidak ingin penghematan terlihat baik hanya karena keluhan dianggap harus ditanggung pelanggan sendiri.
Pada sore hari, ia berbicara kepada staf layanan yang tadi menerima telepon. Perempuan itu mengaku lebih takut tidak mempunyai jawaban daripada dimarahi. Ia baru mengetahui jadwal pekerjaan sesudah pelanggan menelepon. Davina membawa masalah tersebut kepada pengelola, lalu mendengar pengaturan pemberitahuan yang dapat diterima staf. Orang yang harus menjawab keluhan perlu mengetahui apa yang sedang terjadi sebelum pintu ruangan diketuk dengan marah.
Pengelola mengajaknya melihat ruangan setelah peserta meninggalkan gedung. Di meja masih ada gelas serta kertas catatan yang tertinggal. Staf menunjukkan tempat pembicara berhenti karena tidak dapat mendengar pertanyaan peserta. Dari posisi itu, Davina memahami mengapa laporan dua puluh menit terasa terlalu kecil dibanding rasa kesal pelanggan. Ia meminta keterangan tersebut ikut disampaikan bersama durasi, lalu membiarkan staf menyelesaikan pekerjaannya. Di pintu, ia melihat pengelola menghubungi penyelenggara untuk menyebut jam yang benar-benar dapat dipakai esok. Jawaban pelanggan terdengar pendek tetapi tidak lagi meninggi. Davina tidak menganggap hubungan langsung pulih, namun setidaknya seseorang sudah menanyakan apa yang mereka perlukan sebelum menawarkan janji baru.
Devon menerima ringkasan setelah selesai pertemuan di DM Electronics. Ia menelepon, mengatakan dapat menjemput bila waktunya cocok. Davina memilih pulang sendiri karena ingin berhenti membeli bahan kelas. Suaminya menanyakan apakah ingin makan bersama nanti dan mendapat jawaban iya. Ketika masuk penthouse menjelang malam, ia mendapati dapur terang serta Devon sedang memotong bahan dengan kecepatan yang sangat hati-hati.
'Aku tidak ingin makan dengan potongan jarimu,' katanya, meletakkan tas.
'Itu juga bukan rencanaku.'
Davina tertawa, kemudian duduk pada kursi dekat meja. Ia belum ingin membantu, bahunya masih tegang. Devon meneruskan pekerjaan dan menanyakan bagaimana hari tadi. Istrinya menceritakan suara, pelanggan, lalu rasa malu karena tim sempat menganggap perkiraan cukup. Ia tahu bukan dirinya yang menghitung, tetapi ketika orang menyebut pihak pemilik, ia turut merasa ingin mempertahankan bahwa semua sudah dikerjakan dengan baik.
'Kita ternyata bisa salah walau sudah bertanya banyak,' katanya.
'Bisa. Aku paling tidak suka bagian itu.'
'Kamu terdengar terlalu senang aku mengakuinya.'
Devon menoleh, menyadari nada bercandanya belum sesuai. Ia mengatakan tidak senang hari istrinya berat. Ia hanya mengenali perasaan tersebut, terutama ketika orang menganggap bertanya berarti tidak percaya pada tim. Davina mengangguk, menerima penjelasan, lalu meminta beberapa menit untuk menceritakan tanpa langsung membahas pelajaran yang dapat diambil. Suaminya meletakkan pisau dan mendengarkan sampai ia kehabisan kata.
Setelah makan, Davina membuka bahan pengantar kelas yang dikirim penyelenggara. Soal pertama tampak mudah sampai ia mencoba menjelaskan jawabannya. Ia memandang kertas cukup lama, kemudian menutup dengan kesal. Devon yang sedang membersihkan meja menanyakan apakah ada masalah lain. Ia mengatakan ia merasa bodoh karena seharian sudah kesulitan di pekerjaan lalu tidak dapat mengerjakan latihan tingkat awal.
'Kamu baru mau belajar,' katanya.
'Aku tahu. Aku cuma tidak suka merasa tertinggal. Apalagi tadi aku sudah yakin pertanyaan itu dapat kujawab sendiri tanpa kesulitan.'
Pria itu duduk di seberang, tidak langsung menarik kertas untuk menyelesaikan. Ia menanyakan apakah Davina ingin dibantu membaca satu bagian. Istrinya mengangguk, menunjukkan istilah yang dipahami berbeda. Devon menjelaskan memakai contoh dari bahan tersebut, kemudian berhenti sebelum memberikan jawaban soal berikut. Davina membaca lagi, mencoba sendiri, dan akhirnya menyadari mengapa hitungannya tidak sesuai.
Ia tertawa lelah pada kesalahan yang terasa begitu jelas setelah dilihat. Devon mengatakan ia pernah mengirim presentasi dengan judul perusahaan lama yang lupa diganti. Davina langsung meminta kisah lengkap, dan suaminya mengerang karena telah memberi bahan untuk mengejeknya. Ia bercerita juga, termasuk bagaimana seseorang baru memberitahu sesudah pertemuan, ketika semua orang sudah terlanjur melihat layar besar.
Sisa malam menjadi lebih ringan. Davina menyelesaikan satu bagian, menyimpan sisanya untuk esok, lalu duduk dekat Devon. Ia ingin belajar tanpa menjadikan semua kekeliruan bukti bahwa jabatan atau pernikahannya keliru. Suaminya juga sedang belajar hal yang tidak selesai setelah sekali diterangkan. Mereka dapat membantu satu sama lain, selama tidak berpura-pura menjadi orang yang paling tahu seluruh hidup pasangannya.
Menjelang tidur, Davina mengingatkan acara keluarga Hawa pada akhir pekan. Ia tetap datang setelah kegiatan kelompok kelas seperti yang direncanakan. Devon menunjukkan kabar kepada keluarganya sudah dikirim. Ia tidak perlu menyiapkan alasan tambahan. Davina bersandar pada sisi ranjang, merasa lega rencana yang sederhana dapat tetap sederhana meski hari kerja sedang penuh persoalan.
Ketika lampu dimatikan, ia meminta Devon tidak menyalakan berita dari telepon. Ia ingin tidur. Pria itu meletakkan perangkat dan menarik selimut, lalu berbisik meminta maaf karena kakinya terlalu dingin. Davina mendesah ketika disentuh, menggeser posisi sambil menuduhnya sengaja. Suaminya tertawa pelan, mencari tempat yang tidak mengganggu. Tak lama kemudian ruangan menjadi tenang, dan rasa lelah akhirnya tidak perlu dihadapi masing-masing dari balik pintu yang berbeda.