Pada akhir pekan keempat pusat konferensi, Davina membawa rincian perbaikan rumah kepada Papa. Bagian saluran air yang belum dihitung sudah dimasukkan. Angka akhirnya cukup untuk membandingkan biaya pekerjaan dengan perkiraan sewa, tanpa berharap rumah dapat segera dipakai sebelum diperiksa. Papa menerima usul memperbaiki bagian penting lebih dahulu dan pengurus diberi jadwal mengawasi. Davina diminta meneruskan laporan melalui mandat yang telah diberikan, bukan menggantikan pemilik saat menandatangani semua kewajiban.
Sesudah berkas ditutup, Papa menanyakan apakah ia pernah menyesal memilih penthouse. Davina memandang ayahnya, menangkap pertanyaan yang tidak seluruhnya mengenai alamat. Ia menjawab ada hari yang berat dan ia pernah takut. Sekarang ia mencintai Devon, tetapi tidak ingin perasaan itu dipakai untuk mengatakan semua yang dahulu terjadi menjadi wajar. Papa menunduk, jari-jarinya menetap pada pinggir cangkir.
'Papa dulu mengira kalian tinggal menyesuaikan diri,' katanya.
'Aku juga bilang aku bisa membuat dia berubah. Padahal aku sendiri tidak tahu apa yang akan kuhadapi.'
Papa menghela napas. Ia tidak menawarkan kalimat yang dapat membereskan semuanya. Ia mengatakan Davina dapat datang bila membutuhkan tempat tinggal, tanpa menunggu urusan perusahaan selesai. Perkataan itu membuat putrinya diam cukup lama. Ia akhirnya berterima kasih dan mengatakan belum berniat meninggalkan rumah yang sekarang. Ia hanya senang mengetahui pintu keluarga dapat dibuka tanpa harus terlebih dahulu membuktikan bahwa ia sudah gagal.
Mereka makan siang dengan Mama. Percakapan bergerak pada cat serta tanaman yang perlu dipindahkan sebelum pekerjaan. Mama ingin menyimpan satu kursi yang dibeli untuk teras, dan Davina menawarkan mengirim ke rumah orangtua. Beberapa benda akhirnya dapat dipilih karena benar disukai, bukan karena sudah terlanjur menjadi bagian rencana pernikahan. Ketika pulang, ia membawa buah yang dimasukkan Mama ke tas meski sudah mengatakan cukup.
Di depan pintu, Mama memanggilnya kembali untuk menanyakan apakah ia masih suka makanan yang dulu sering diminta sebelum kuliah. Davina terkejut menyadari sudah lama mereka tidak membicarakannya. Ia menjawab masih, lalu berjanji datang untuk makan pada hari yang sesuai. Mama tersenyum, mengatakan tidak perlu membawa pekerjaan. Davina mengangguk. Ia ingin dapat mengunjungi orangtuanya sebagai anak yang merindukan masakan rumah, tanpa setiap kunjungan harus membuktikan perkawinannya bahagia atau menyampaikan laporan tentang rumah kosong. Saat mobil bergerak, ia mengirim pesan berterima kasih atas makan siang, dan merasa hangat mendapat balasan singkat dari ibunya.
Devon berada di penthouse, sedang menghubungkan perangkat kerja yang baru selesai diperbaiki. Ia mengangkat wajah saat Davina masuk, lalu datang mengambil sebagian bungkusan. Istrinya menceritakan keputusan perbaikan sudah diterima dan Papa menawarkan tempat pulang. Devon berhenti sebentar pada kabar kedua. Ia mengatakan ia senang keluarga tidak membuat Davina harus mempertimbangkan merger sebelum meminta pertolongan.
'Kamu tidak takut aku menganggapnya jalan keluar?' tanyanya.
'Ada saat aku ingin semua jalan harus melewatiku. Aku tidak mau mempertahankan itu.'
Davina menatapnya, merasa ingin menangis tanpa sedih yang dapat diberi satu nama. Ia memeluk suami dan berdiri beberapa lama di dekat meja makan. Devon membalas, meletakkan dagu ringan di sisi kepalanya. Ketika Davina melepaskan diri untuk membongkar buah, ia ikut membantu. Tidak ada pertanyaan tentang apakah tawaran Papa berarti ia sudah bercerita buruk mengenai suaminya.
Mereka menghabiskan sore dengan menonton komedi yang dipilih Davina. Sebagian adegan membuat Devon mengeluh, tetapi ia tetap tertawa ketika istrinya menirukan satu kalimat. Setelah selesai, mereka berdebat tentang siapa lebih sering membuat janji terlalu yakin. Davina membawa contoh lauk pedas, Devon membalas dengan pilihan film yang baru dibelanya. Ia melempar kulit jeruk ke tempat sampah dan meleset, membuat argumennya kehilangan wibawa.
Ketika langit mulai gelap, Davina beranjak ke kamar cadangan. Ia membuka lemari, melihat barang yang sudah tinggal beberapa minggu di sana, lalu duduk di pinggir ranjang. Ruangan itu menolongnya bernapas ketika ia belum dapat percaya. Tidak ada yang salah dengan tidur di situ lebih lama. Namun, malam ini ia ingin berbaring dekat Devon dan bangun dengan melihatnya, bukan sekadar ingin membuktikan dirinya sudah sembuh.
Ia kembali ke ruang tamu. Suaminya sedang menyiapkan minum dan langsung menoleh ketika dipanggil. Davina mengatakan ingin memindahkan beberapa barang ke kamar utama lagi. Devon meletakkan gelas pelan, tidak segera mengambil tas sebelum kalimatnya selesai. Ia menanyakan apakah istrinya sungguh ingin malam itu atau sedang merasa harus menjawab semua perubahan yang dilakukan.
'Aku ingin tidur denganmu,' jawab Davina. 'Aku kangen. Bukan karena Papa sudah menyetujui perbaikan rumah atau kamu tidak marah mendengar tawarannya.'
Devon tersenyum, matanya tampak basah ketika ia menunduk. Ia mengatakan ia juga merindukannya. Davina meminta agar kamar cadangan tetap dapat dipakai bila salah satu membutuhkan tidur atau ruang sendiri. Ia tidak ingin suatu malam berpindah menjadi ancaman berakhirnya perkawinan. Devon menyetujui, lalu membantunya membawa pakaian yang dipilih tanpa menyapu seluruh isi ruangan seolah tidak boleh kembali.
Di kamar utama, Davina menemukan sisi lemari yang dulu dipakai masih cukup kosong. Ia menata barang, sesekali menoleh melihat Devon mengganti sarung bantal yang ternyata tidak sepasang. Mereka tertawa karena keduanya sama-sama yakin menyimpan pasangan yang benar. Akhirnya mereka memakai yang tersedia, membuat ranjang lebih rapi tetapi jauh dari penampilan kamar hotel.
Sesudah lampu utama dimatikan, Davina mendekat dan mencium suami. Devon membalas perlahan, berhenti ketika ia menarik napas dan menatapnya. Ia mengatakan malam itu ingin berpelukan dahulu. Suaminya mengangguk lalu menarik selimut untuk mereka. Davina menempelkan pipi pada dadanya, merasakan debar yang lebih cepat daripada wajah tenang yang berusaha ditunjukkan.
'Aku mencintaimu,' bisiknya.
'Aku juga mencintaimu.'
Ia tersenyum dalam gelap. Kalimat itu sudah pernah mereka katakan dan tetap membuatnya hangat. Mereka belum menyelesaikan semua pekerjaan atau menghapus ingatan yang sulit. Namun, malam ini ia tidak sedang menunggu kapan harus menolak langkah yang tidak diinginkan. Ia memejamkan mata dekat suami, lalu menegurnya pelan ketika lengannya mulai kesemutan karena tertindih. Devon menggeser posisi sambil tertawa, dan mereka akhirnya menemukan cara berbaring yang membuat keduanya dapat tidur.