Rabu pada pekan ketiga pusat konferensi, panel menyelesaikan penilaian sebelum batas lima hari berakhir. Pemasok yang pernah terkait anggota dewan mempunyai harga lebih rendah, tetapi waktu kirimnya tidak memenuhi kebutuhan. Pilihan lain dapat mengirim lebih cepat dengan mutu yang dinilai setara. Selisih biaya masih tertutup cadangan yang sudah tersedia. Penjelasan itu dibagikan kepada kedua pihak, memisahkan alasan pilihan dari kekurangan pencatatan hubungan lama.
Davina membaca bahan sebelum tinjauan tengah masa. Ia mengira akan merasa sangat puas karena pemeriksaan menghasilkan jawaban, tetapi yang datang justru lega sederhana. Tidak ditemukan tindakan besar yang perlu dibongkar. Ada kelalaian pengungkapan yang diperbaiki dan pemasok dipilih berdasarkan kebutuhan. Anggota dewan yang bersangkutan tidak ikut memberikan suara, lalu menerima keputusan dengan wajah yang masih kaku.
Pertemuan berlanjut pada tiga minggu pekerjaan pusat konferensi. Sebagian keputusan rutin lebih cepat, sementara permintaan dokumen yang sama dari dua tim membuat staf bekerja dua kali. Kelompok menyetujui satu pengiriman bahan yang dapat dibaca kedua sisi. Tidak ada perubahan hak atas transaksi strategis. Pekerjaan diteruskan untuk tiga minggu tersisa, dengan jadwal pemeriksaan akhir yang tetap, bukan masa percobaan baru.
Ketika seseorang mengusulkan menambah proyek berikut sekaligus, Anita meminta semua melihat jumlah orang yang sedang bekerja. Satu petugas tambahan sudah membuat beban dapat ditangani; ia tidak mempunyai orang lain untuk tiga lokasi. Devon mendukung batas itu. Ia pernah menjanjikan kecepatan sebelum menanyakan siapa yang harus mengerjakan, dan kali ini ia dapat melihat kelelahan pada wajah manajer yang duduk di seberang.
Seusai pertemuan, ayahnya menelepon mengenai anggota dewan yang tidak ikut memilih pemasok. Devon menerangkan alasannya, mendengar keberatan sampai selesai, kemudian tetap menyatakan ia tidak akan meminta hasil diubah. Ia memberitahu Davina setelah panggilan selesai. Istrinya bertanya apakah ia ingin ditemani makan siang. Devon mengatakan iya, tetapi ia perlu kembali ke kantor sesudahnya.
Mereka menemukan meja di tempat yang tidak terlalu ramai. Davina ingin merayakan bahwa pekerjaan sudah mempunyai hasil tengah yang nyata, bukan menghabiskan makan dengan menebak siapa paling marah. Devon memesan terlalu cepat dan lupa bahwa hidangan pilihannya harus menunggu cukup lama. Saat pelayan menjelaskan, ia melihat jam, kemudian menukar pesanan sendiri. Davina tertawa karena kali ini ia bukan orang yang mengingatkan.
'Kalau terlambat, aku tidak bisa bilang salahmu,' katanya.
'Kamu selalu bisa mencoba. Aku punya saksi pelayan tadi.'
Devon tersenyum, mengambil air minum. Ia menceritakan rencananya membeli hadiah untuk ibu karena mengingat tanggal penting keluarga yang hampir terlewat tahun lalu. Davina menanyakan apa yang disukai ibunya, lalu mendapati jawaban suami lebih banyak mengenai harga daripada kegunaan. Ia menyarankan bertanya kepada Hawa dan tidak mengandalkan dugaan bahwa benda lebih mahal tentu lebih menyenangkan.
Di tengah makan, Davina mendapat balasan penyelenggara kelas keuangan. Jadwal awal dapat diikuti setelah pekerjaan konferensi selesai, selama beberapa pertemuan pada Selasa sore. Ia belum membayar, ingin membaca syarat serta bahan contoh dahulu. Devon menawarkan membicarakan isi ketika sudah dilihat. Davina mengangguk, kemudian menyimpan telepon karena tidak ingin mengambil setengah jam makan untuk menyelesaikan pendaftaran.
'Kamu tahu apa yang paling kusukai dari pertanyaan kelas itu?' katanya.
'Tidak ada yang tahu nama keluargamu?'
'Mereka menanyakan aku sudah memahami apa. Aku bisa menjawab belum banyak tanpa langsung membuat orang mempertanyakan kenapa aku ada di sana.'
Devon menatapnya, lalu mengatakan ia berharap ruang kerja juga dapat memberinya kesempatan belajar seperti itu. Davina tersenyum. Ia tidak meminta pekerjaannya dibuat lebih mudah, hanya ingin mempunyai tempat untuk bertanya sebelum harus menjawab bagi banyak orang.
Mereka berpisah di depan tempat makan. Devon memandangnya sebentar sebelum naik mobil, lalu mengatakan ia ingin pergi menonton pada Jumat jika istrinya belum mempunyai rencana lain. Davina menyetujuinya, memilih jam yang membuatnya tidak perlu bergegas dari kegiatan. Pria itu meminta ia mengirim judul. Ia menjawab kali ini Devon boleh memilih, selama tidak menganggap semua film yang disukainya otomatis juga disukai orang lain.
Jumat malam, mereka hampir terlambat karena Devon salah membaca pintu masuk gedung. Davina menunjukkan petunjuk dan berjalan lebih dahulu, menahan tawa melihat wajah kesalnya kepada diri sendiri. Mereka tiba ketika iklan terakhir diputar. Suaminya menghela napas lega, lalu menumpahkan sedikit makanan ringan ke pangkuan sebelum adegan pertama mulai. Davina menyerahkan tisu tanpa berkomentar, yang justru membuatnya semakin ingin tertawa.
Film itu tidak sebaik yang diharapkan. Ada bagian yang lucu, tetapi akhir ceritanya terlalu panjang. Ketika keluar, Devon mengaku sudah membaca ulasan sebelum memilih dan merasa tertipu. Davina mengatakan ulasan tidak dapat menanggung selera dua orang. Ia masih senang pergi bersamanya. Pria itu berhenti di dekat tangga berjalan, tampak lega oleh jawaban yang semestinya sudah dapat ia bayangkan.
'Kamu tidak harus membuat setiap malam sempurna,' katanya.
'Aku tahu. Tapi kadang aku masih ingin memastikan kamu tidak menyesal.'
Davina memandang tangan yang terbuka di sampingnya, lalu meraihnya. Ia tidak dapat memberi jaminan untuk setiap hari yang akan datang. Ia dapat mengatakan ia sedang berada di sana karena ingin. Mereka berjalan menuju parkir dengan perdebatan tentang bagian film yang seharusnya dipotong. Devon membela satu adegan, dan Davina menuduhnya hanya menyukai kendaraan yang muncul di dalamnya.
Sampai di rumah, Davina belum ingin tidur. Ia duduk dekat jendela bersama suami dan menunjukkan pesan Em yang menertawakan pilihan film mereka. Devon akhirnya membaca halaman awal novel yang dipinjamkan, berjanji akan menyelesaikan sebelum ikut berdebat. Davina meletakkan kepala pada bahunya, mendengar napasnya berubah menjadi tawa pada bagian yang dipilih.
Untuk beberapa lama, ia tidak berpikir tentang kamar yang berbeda. Ia hanya menikmati rasa dekat yang tidak segera diminta bergerak lebih jauh. Saat beranjak, Davina mencium pipinya dan mengatakan ia ingin makan pagi bersama besok. Devon mengangguk, menutup buku dengan penanda yang diberikan. Ia tinggal di ruang tamu sampai mendengar langkah istrinya masuk ke kamar cadangan, lalu bangkit dengan perasaan hangat yang tidak perlu dipaksa menjadi jawaban lain.