Jumat menjelang berakhirnya pekan kedua, satu nama pemasok pusat konferensi membawa pertanyaan baru. Seorang anggota dewan pernah mempunyai saham pada perusahaan itu. Hubungan lama tercantum pada pernyataan tahunan, tetapi tidak disebut ketika ia mengomentari kualitas pekerjaan pemasok dalam pembahasan awal. Pesanan belum disetujui. Davina meminta penasihat kepatuhan memeriksa keterlibatannya sebelum orang mulai menyimpulkan hasil yang belum diketahui.
Anggota dewan mengaku ia tidak lagi memiliki saham dan tidak meminta tim memilih perusahaan tersebut. Ia pernah menyampaikan pengalaman proyek lama, menganggap itu dapat membantu. Panel penilai tidak menunjukkan bukti perubahan skor karena komentarnya. Meski begitu, kedua pihak menerima bahwa hubungan tersebut perlu dinyatakan pada pembahasan ini dan ia tidak ikut dalam penilaian ulang penawaran.
'Jadi saya sudah dianggap bersalah?' tanyanya ketika usul dibacakan.
Davina menahan jawaban yang hampir keluar. Ia memahami mengapa pria itu tersinggung. Ia menjelaskan pemasok tidak langsung dikeluarkan, dan hasil dapat tetap mendukungnya bila memenuhi kebutuhan. Tujuannya memastikan keputusan tidak perlu dipertahankan hanya dengan meminta semua orang percaya. Ketua menetapkan batas lima hari untuk pemeriksaan, sementara pekerjaan lain yang tidak berkaitan tetap berjalan.
Seusai pertemuan, seorang direktur dari sisi Danajaya mendekati Davina. Ia memuji ketegasannya, kemudian mengatakan ini saat yang tepat menuntut kendali lebih besar atas semua pengadaan Mahawira. Davina sempat merasa hangat menerima pujian dari orang yang biasanya menatapnya seperti tamu. Namun, kalimat berikut membuatnya berhenti merapikan tas.
'Bukti untuk semua pengadaan dari mana?' tanyanya.
'Kita minta dulu. Nanti mereka yang membuktikan tidak ada masalah.'
Davina memandang pria itu, kemudian menggeleng. Ia mengatakan hubungan satu orang dengan satu pemasok tidak membuat semua transaksi patut dicurigai. Bila kejadian berasal dari Danajaya, ia juga tidak mau seluruh pihaknya dinilai tanpa dasar. Direktur itu menipiskan bibir dan mengingatkannya bahwa ia berada di sana untuk kepentingan keluarga, bukan sebagai penilai yang berdiri di luar semuanya.
Ucapan itu mengikuti Davina sampai keluar gedung. Ia menghubungi penasihatnya untuk memastikan permintaannya memang cukup berdasarkan temuan. Sesudah mendapat penjelasan, ia tidak merasa sepenuhnya tenang, tetapi dapat membedakan ketidaknyamanan dibantah dari alasan mengubah keputusan. Ia harus belajar menerima bahwa orang yang memberi jabatan kepadanya tidak selalu akan menyukai cara ia memakainya.
Devon menelepon pada sore hari. Ia telah menerima kabar tentang pemeriksaan pemasok, tetapi bukan percakapan setelahnya. Davina menceritakan tanpa meminta suami menenangkan direktur Danajaya. Devon mendengarkan, lalu mengatakan ia senang keputusan tidak digantungkan pada hubungan mereka. Andaikan ia diminta membela pemasok hanya karena berasal dari sisi Mahawira, ia pun perlu mengatakan tidak.
'Aku hampir menikmati pujiannya tadi,' kata Davina.
'Aku mungkin sudah menikmati sebelum mendengar kalimat berikut.'
Ia tertawa kecil. Devon tidak mengubahnya menjadi perempuan yang selalu benar. Mereka berjanji berbagi hasil panel ketika datang, kemudian mengakhiri telepon karena Davina mempunyai janji dengan Em. Ia membawa buku yang dulu diminta dan makanan dari tempat yang disukai sahabatnya. Kabar pekerjaan dapat menunggu sampai orang di depannya benar-benar ingin mendengar.
Em menyambut dengan penampilan yang lebih segar daripada kunjungan pertama, tetapi mengatakan sedang tidak ingin membicarakan pemulihan sepanjang sore. Davina menyimpan pertanyaan yang sudah siap. Mereka duduk dekat jendela, membuka makanan dan memperdebatkan tokoh pada novel yang baru selesai dibaca. Em menganggap akhir ceritanya terlalu mudah; Davina membela bahwa tidak semua tokoh harus membuat pembaca marah agar terasa hidup.
'Kamu membelanya karena mirip kamu?' tanya Em.
'Aku membelanya karena kamu sudah memarahinya tiga halaman sebelum tahu apa yang terjadi.'
Keduanya tertawa. Percakapan bergerak pada kelas, kenalan lama dan rencana kegiatan singkat di luar rumah. Em ingin memilih tempat sendiri, bukan mengikuti daftar yang disusun orang lain sebagai bukti perkembangannya. Davina mengatakan ia akan menemani jika waktunya cocok. Ia hampir menawarkan mengurus seluruh kendaraan serta pemesanan, lalu berhenti ketika sahabatnya mengangkat alis.
'Aku cuma belum memilih tempat. Bukan lupa cara pergi.'
Davina mengangkat kedua tangan, mengaku terlalu bersemangat. Em tertawa dan menyodorkan daftar dua tempat yang justru ingin ditanyakan. Mereka membandingkan jarak, lama kegiatan serta makanan yang tersedia, kemudian memilih untuk akhir pekan setelah jadwal masing-masing cocok. Makanan yang masih tersisa dimasukkan ke dalam wadah untuk dibawa pulang.
Sebelum pergi, ia sempat bertanya apakah selama ini terlalu sering membicarakan Devon. Em mengatakan kadang iya, lalu tersenyum ketika Davina hendak meminta maaf panjang. Sahabatnya senang akhirnya mendengar kisah orang yang disayangi, tetapi juga merindukan percakapan mereka yang dapat menjadi pertengkaran tentang makanan atau buku. Davina duduk kembali sebentar, merasa malu sekaligus berterima kasih. Ia mengatakan ingin belajar hal baru dan tidak selalu tahu apakah keinginannya sendiri atau usaha terlihat berguna. Em menanyakan pilihan yang tetap ingin dilakukannya bila tidak ada yang melihat. Davina berpikir cukup lama sebelum menjawab tentang kelas serta buku yang dibeli. Mereka tidak menemukan semua jawabannya sore itu, tetapi pertanyaan tersebut dibawanya pulang bersama sisa makanan.
Di penthouse, Devon menerima bungkusan dan menanyakan apakah Em baik. Davina mengatakan sore mereka menyenangkan, lalu menceritakan perdebatan novel yang boleh dibagi. Suaminya membaca judul, mengaku belum pernah mendengar. Davina menyuruhnya mencoba sebelum memberi pendapat. Devon mengatakan ia takut sekarang ada dua orang yang menunggu untuk menguji bacaannya.
Saat makan, ia menanyakan apakah Davina akan mengubah permintaan pemeriksaan demi menenangkan direktur. Davina menjawab tidak. Ia sudah mempunyai jawaban yang dapat diterangkan, meskipun tidak membuat semua orang setuju. Devon menyentuh punggung tangannya di meja. Ia membalikkan telapak, menggenggam sebentar, lalu melanjutkan makan karena masih lapar.
Sebelum beranjak, ia mengatakan kunjungan kepada Em membuatnya teringat bahwa membantu orang tidak selalu berarti mengambil alih. Devon tersenyum tanpa menambahkan nasihat. Davina membuka buku yang baru ditertawakan sahabatnya, kemudian menarik suami duduk di samping. Ia ingin membacakan satu bagian dan mendengar apakah kali ini ada orang yang sepakat dengannya.