Pada pekan kedua pusat konferensi, dua klien meminta waktu tambahan untuk persiapan. Jadwal itu bertabrakan dengan pemasangan pembatas ruang. Pengelola menawarkan ruang pengganti dan kontraktor menata ulang pekerjaan, sehingga kegiatan paling bising tetap dilakukan pada siang hari. Salah satu klien memerlukan teknisi tambahan untuk mengatur tata letak. Biaya serta perubahan dijelaskan sebelum ia menerima, kemudian pekerjaan bergerak satu hari dari rencana awal.
Davina datang ketika staf sedang menunjukkan ruang pengganti kepada pelanggan. Ia menunggu sampai percakapan selesai dan mendengar keluhan bahwa pintu masuk tidak semudah ruangan semula. Pengelola menawarkan petunjuk tambahan serta orang yang menjemput peserta di lobi. Davina melihat pelanggan akhirnya menerima dengan wajah masih kurang puas. Keputusan yang dapat dijalankan ternyata tidak selalu membuat semua orang senang pada saat yang sama.
Laporan sementara menunjukkan keputusan rutin cukup cepat, tetapi permintaan dokumen masih membebani staf. Sekretariat memisahkan waktu melengkapi berkas dari waktu menilai setelah lengkap, agar angka tidak menutupi bagian yang perlu diperbaiki. Davina memeriksa penjelasan atas satu kejadian, kemudian kembali pada tugasnya. Tinjauan pekan ketiga tetap menjadi tempat menilai hasil, bukan diperpanjang setiap ada pertanyaan baru.
Malam itu Devon pulang sesudah makan yang sudah diberitahukan tidak perlu ditunggu. Davina sedang mengulang bahan kelas, dengan pensil menempel di rambut. Suaminya meletakkan tas dan mengatakan baru bertemu ayahnya. Ia menanyakan apakah istrinya bersedia mendengar sekarang atau setelah selesai. Davina menutup buku pada akhir paragraf, lalu mengambilkan piring saat Devon mencuci tangan.
'Ayah ingin pengaturan wakil dihentikan sementara,' katanya setelah duduk. 'Sampai persoalan kendali yang ditanyakan Arman dibahas lagi.'
Davina meletakkan sendok. 'Sudah diputuskan?'
'Belum. Itu usulnya. Aku bilang tidak ada alasan menghentikan pekerjaan yang sudah disepakati hanya karena kita sedang menerima pertanyaan investor.'
Ia menerangkan bahwa Arman belum membawa bentuk modal yang pasti. Ayahnya khawatir persetujuan dua sisi membuat peluang hilang dan berharap Devon dapat menjamin jawaban cepat. Devon dapat memberikan perkiraan berdasarkan pekerjaan yang telah berjalan, tetapi tidak dapat menjanjikan pihak Danajaya akan mengikuti semua syarat yang baru datang. Pertemuan selesai tanpa persetujuan, dengan ayah masih terlihat tidak senang.
Davina merasakan perutnya menegang. Ia mengingat telepon tentang rumah yang baru diketahui dari berkas, kemudian melihat suaminya duduk dengan piring belum tersentuh. Kali ini cerita datang pada malam yang sama, sebelum ia menerima telepon Papa atau undangan pertemuan. Ia meminta Devon menjelaskan bagian terakhir sekali lagi, ingin memastikan apa yang merupakan ucapan ayah dan apa yang telah dijawabnya sendiri.
Devon menjawab tanpa menuduhnya tidak percaya. Ia bahkan mengatakan ada satu angka waktu yang ia lupa tepatnya. Ia akan memeriksa catatan sebelum meneruskan kepada tim, bukan memberi ketepatan yang tidak dimilikinya. Davina mengangguk dan mengambil kembali sendok, merasa dapat mendengar persoalan bisnis tanpa harus menebak kabar lain yang disembunyikan di dalamnya.
'Ayahmu mungkin menghubungi Papa?' tanyanya.
'Mungkin. Ia bilang ingin mendengar pihak Danajaya langsung.'
'Bagus kalau begitu. Aku akan minta Papa tidak menjawab seolah kamu sudah setuju.'
Mereka berhenti sejenak ketika nasi yang disimpan terlalu lama menjadi dingin. Devon memanaskan makanannya sendiri, kemudian kembali. Davina menanyakan bagaimana perasaannya setelah berbeda pendapat dengan ayah. Pria itu mengaku takut dianggap membela istri tanpa berpikir. Ia juga kesal karena setiap penjelasan dapat dibaca sebagai bukti bahwa ia sudah berubah oleh perkawinan, bukan karena data yang sungguh diperiksanya.
'Aku bisa membaca laporan lagi besok,' kata Davina. 'Tapi pembicaraan dengan ayahmu tidak bisa kujalani menggantikanmu.'
'Aku tahu. Aku juga tidak mau membawamu supaya orang yang marah punya sasaran lain.'
Davina tersenyum lelah. Ia menceritakan perasaannya ketika Papa menganggap keputusan mengenai staf terlalu lunak. Tidak ada cara menjawab yang sekaligus membuatnya selalu tampak sebagai anak penurut dan pemilik yang bertanggung jawab. Devon mendengar sampai ia selesai. Mereka tidak segera menemukan kalimat yang dapat membuat kedua ayah memahami seluruhnya, tetapi keduanya merasa sedikit kurang sendirian.
Devon bercerita bahwa dahulu ia menunggu pujian untuk nilai yang sudah baik, lalu lebih sering mendengar bagian yang kurang. Ia belajar bersikap seolah tidak membutuhkan jawaban itu lagi. Davina mengenali sebagian perasaan tersebut, tetapi mengatakan ia tidak dapat memakai kekecewaan kepada ayah untuk menekan orang yang lebih mudah dibentak. Devon menatapnya, kemudian mengangguk. Ia tahu kisah masa kecilnya dapat menjelaskan kebiasaan, tetapi tidak membenarkan yang dilakukan kepada istrinya. Untuk pertama kalinya percakapan itu tidak berhenti pada tuntutan agar Davina lebih memahami dirinya; ia harus melakukan sesuatu terhadap kebiasaan yang dikenali.
Setelah makan, Devon mendapat pesan dari ibunya mengenai acara keluarga yang diundang Hawa. Ia menunjukkan waktu yang sudah dicatat: bulan depan, Davina menyusul setelah kegiatan kelas. Ibunya bertanya apakah keduanya sedang bertengkar. Devon menjawab bahwa Davina sudah mempunyai jadwal, bukan menjadikan istrinya alasan untuk menghindari penjelasan atas perbedaan pendapat dengan ayah.
Davina menatapnya beberapa saat setelah pesan dikirim. Ia mengatakan dahulu mungkin akan berusaha datang dari awal agar tidak ada yang bertanya. Sekarang ia masih merasa bersalah ketika orang kecewa, sekalipun tahu keputusannya wajar. Devon mengaku tidak tahu cara menghapus rasa itu. Ia hanya dapat berjanji tidak menambahkan cerita yang membuatnya harus membela pilihan yang tidak pernah dibuatnya.
Ia kembali membuka buku, tetapi tidak menemukan pensil. Devon menunjuk rambutnya. Davina meraba, menarik benda itu, lalu mendesah malu. Suaminya tertawa sampai ia melempar bantal kecil. Ia menangkap, meletakkannya kembali, kemudian bertanya apakah boleh mendengar latihan bagian berikut. Davina mengangguk dan menyodorkan catatan yang harus dibacakan.
Mereka menghabiskan hampir setengah jam pada pelajaran yang bukan urusan merger. Devon salah membaca petunjuk, Davina mengoreksi, dan keduanya saling menertawakan kesalahan yang tidak perlu disimpan untuk pertengkaran kemudian. Ketika bersiap tidur, Davina mendekat dan memeluknya. Devon membalas dengan tenang. Ia tidak meminta penjelasan atas pelukan itu, dan Davina tidak merasa harus menambahkan janji sebelum dapat melepasnya.