Pekan pertama pusat konferensi dimulai dengan dua ruangan kosong dan kalender acara yang ditempel pada tempat berkumpul staf. Di balik pembatas, suara pengunjung masih terdengar dari bagian gedung yang tetap beroperasi. Davina mengikuti penjelasan pengelola, kemudian mengalah ketika beberapa pekerja membawa perlengkapan melewati pintu. Ia belajar berdiri di tempat yang tidak membuat orang harus menghentikan pekerjaan untuk menyapanya.
Salah satu gambar instalasi suara belum ditemukan. Teknisi sudah menjadwalkan pemeriksaan sebelum membuka panel, sementara barang khusus menunggu ukuran yang pasti. Davina menanyakan akibatnya pada jadwal, lalu mencatat jawaban untuk tim pemilik. Ia tidak meminta teknisi berjanji semua akan cocok hanya karena ingin membawa kabar menyenangkan kepada dewan. Penanganan tersebut tetap berada pada orang yang dapat menilai pekerjaan.
Pada hari ketiga, sebuah acara dibatalkan dan pengelola ingin memakai ruang kosong untuk mendahulukan pemasangan. Anita memastikan konfirmasi pelanggan serta jalur keluar sudah diperiksa sebelum perubahan dijalankan. Kesempatan itu dapat digunakan pada hari yang sama. Davina menerima pemberitahuan setelah keputusan rutin selesai, merasa aneh karena tidak dibutuhkan untuk menanyakan setiap hal. Sesaat kemudian ia menyadari itulah bagian dari pengaturan yang diinginkannya.
Ia pulang lebih awal dari kunjungan dan mampir ke DM Electronics untuk menjemput Devon. Suaminya mengatakan dapat berangkat satu jam lagi. Davina memilih menunggu di tempat yang disediakan, membawa buku kelas. Ia belum pernah melihat kantor itu pada hari sibuk, hanya mengenal Devon sebagai pria yang masuk penthouse dengan telepon masih menempel di telinga.
Melalui pintu ruang pertemuan yang terbuka sesaat, ia mendengar percakapan mengenai jadwal pengiriman. Devon bertanya beberapa hal, lalu meminta penanggung jawab menjelaskan bagian yang dapat dipastikan. Nadanya tegas dan cepat. Davina mengenali ketegasan yang dahulu membuatnya ingin segera membantah, tetapi di sini orang lain menjawab tanpa tersenyum atau mengalah. Seorang perempuan menunjukkan angka yang berbeda, dan Devon kembali melihat berkasnya.
Ia tidak dapat mengetahui mutu seluruh kepemimpinan suami dari beberapa menit itu. Namun, ia senang melihat orang dapat mengatakan tidak sependapat. Ketika pertemuan selesai, Devon keluar sambil mengusap wajah. Ia tampak lega menemukan Davina, kemudian meringis saat melihat jam. Ia terlambat hampir dua puluh menit dari perkiraan yang diberikan.
'Aku mengira sudah selesai sebelum kamu datang.'
'Aku mengira menunggu sebentar akan membuat tugasku selesai. Ternyata aku malah melihat orang keluar masuk.'
Devon tertawa dan meminta maaf karena waktunya meleset. Davina mengemas buku, lalu menanyakan apa yang sebenarnya dibicarakan tadi. Suaminya menjelaskan singkat tanpa membuka bahan yang tidak perlu dibagikan. Ada pengiriman yang harus disesuaikan dan janji kepada pelanggan yang tidak dapat diselamatkan hanya dengan menyuruh orang bekerja lebih keras.
Di lift, Davina mengatakan ia mulai mengerti mengapa Devon tidak dapat hadir pada setiap kunjungan properti. Ia sudah mengetahui pekerjaannya dari awal, tetapi mengetahui nama jabatan berbeda dari melihat jam yang dihabiskan. Devon mengaku pernah merasa pernikahan akan membuat dirinya kehilangan waktu tanpa pernah memikirkan bagaimana Davina mengisi hari setelah lulus kuliah.
'Aku malah berharap kamu selalu tersedia ketika aku pulang,' katanya.
'Aku juga pernah menganggap kalau kamu sayang, kamu harus selalu bisa menjawab teleponku.'
Mereka berhenti pada lantai parkir. Davina merasa pengakuan itu tidak terlalu manis, tetapi lebih dekat pada cara mereka benar-benar hidup. Ia menanyakan apakah Devon masih menyukai pekerjaannya. Pria itu berpikir sebentar lalu mengatakan iya, terutama ketika sesuatu yang semula sulit akhirnya dapat dipakai orang. Ia kurang menyukai pertemuan yang dibuat hanya karena orang takut memutuskan hal yang sudah menjadi tugasnya.
'Jadi kamu tidak setiap hari senang menjadi CEO?'
'Kalau kamu melihat mejaku tadi, seharusnya sudah tahu jawabannya.'
Dalam perjalanan, Davina menceritakan keinginannya mengambil pelajaran dasar keuangan yang lebih teratur. Membaca berkas sambil dibantu penasihat berguna, tetapi ia sering tidak mengetahui apa yang belum diketahuinya. Ia belum ingin mendaftar program panjang hanya agar orang berhenti menyebutnya istri direktur. Ia ingin mencoba kelas pendek dan melihat apakah bidang itu sungguh menarik baginya.
Devon menyebut ia dapat mengenalkan beberapa orang. Davina memotong, mengatakan kali ini ia ingin mencari pilihan dahulu. Suaminya mengangguk, lalu bertanya apakah ia masih boleh membaca daftar yang ditemukan. Ia tersenyum, menjawab boleh, selama ia tidak membalas dengan satu nama yang sudah diputuskan untuknya. Devon menepuk kemudi pelan dan mengaku itu memang jawaban yang hampir diberikan.
Mereka berhenti membeli makan di tempat sederhana yang dahulu sering didatangi Devon sebelum pekerjaannya memenuhi jadwal. Penjual mengenal wajahnya, tetapi tidak langsung mengenali Davina. Pria itu memperkenalkan istrinya dengan senyum yang membuatnya tersipu. Tidak ada pertanyaan tentang saham atau keluarga, hanya pilihan lauk serta apakah mereka ingin tambahan nasi.
Davina memilih terlalu pedas. Pada suapan ketiga ia berhenti, mengambil minum, lalu mendapati Devon berusaha keras tidak tertawa. Ia menunjuk piring suami dan menukar sedikit lauk tanpa upacara. Devon mengambil bagian pedas, mencoba terlihat sanggup, kemudian turut mencari gelas. Keduanya tertawa sampai orang di meja sebelah menoleh.
Sepulangnya, Davina membuka beberapa pilihan kelas. Ada biaya yang dapat dibayar dari penghasilannya sendiri untuk tugas penghubung. Ia membandingkan jadwal dengan dua hari kerja serta kursus Prancis yang belum selesai. Untuk pertama kali, keputusan menunda salah satu pilihan tidak terasa seperti kalah. Ia tidak perlu mengisi semua hari agar tampak mempunyai kehidupan.
Devon duduk di dekatnya dan membaca ketika diminta. Pada satu pilihan, ia menunjuk biaya tambahan yang belum dimasukkan dalam perbandingan. Davina berterima kasih, memperbaiki hitungan, lalu memilih dua untuk ditanyakan esok. Sebelum tidur ia menyimpan daftar itu di mejanya sendiri. Ia merasa senang mempunyai hal yang ingin diteruskan meskipun suaminya harus berangkat bekerja lebih dahulu pada pagi berikutnya.
Ia mengirim pertanyaan mengenai waktu serta tingkat awal kepada penyelenggara. Sesudah pesan terkirim, Davina membuka novel, menandai bagian yang lucu untuk diperlihatkan kepada Devon besok. Daftar pekerjaan belum habis, tetapi ia ingin malamnya berakhir dengan cerita yang dipilih untuk dinikmati.