Dua minggu persiapan selesai dengan pengarahan yang benar-benar diikuti para pengelola. Kontak pengganti diuji, tampilan permintaan dari telepon diperbaiki, dan kejadian pesanan lama telah diperiksa. Pusat konferensi diterima sebagai perluasan terbatas selama enam minggu. Tinjauan dilakukan pada pekan ketiga, kemudian penilaian akhir setelah enam minggu. Kalender pekerjaan serta ruangan yang masih disewa menjadi dasar, bukan anggapan bahwa semua bagian gedung sudah kosong.
Anita memperkenalkan pengelola pusat konferensi kepada kedua perwakilan pemilik. Ia menjelaskan siapa yang menangani pekerjaan sehari-hari agar persoalan kecil tidak selalu naik kepada Devon atau Davina. Tambahan petugas pemeriksa sudah dihitung biayanya. Davina mengajukan beberapa pertanyaan, lalu membiarkan orang yang akan menjalankan pekerjaan menjelaskan kesiapan mereka. Ia mengenali salah seorang staf dari latihan dan mendapat anggukan ramah.
Sabtu berikutnya, Davina mengajak Devon ke rumah yang akan disiapkan untuk sewa. Papa telah menyetujui penawaran kedua dan pengurus ikut membawa salinan batas pekerjaan. Keputusan menyiapkan rumah sudah dibuat, tetapi biaya rinci belum disetujui seluruhnya. Ada kebocoran yang mesti diperbaiki lebih dahulu; mengganti seluruh lampu hias dapat menunggu. Davina tidak ingin rumah tampak cantik pada foto sementara bagian yang diperlukan penyewa belum layak digunakan.
Kontraktor menjelaskan perbedaan dua penawaran di teras. Devon bertanya tentang jaminan pekerjaan, sedangkan Davina menanyakan jadwal pemeriksaan sebelum orang boleh masuk. Ketika pengurus menoleh kepada Devon untuk jawaban akhir, pria itu menunjuk berkas di tangan Davina. Mandat keluarganya ditujukan kepadanya untuk membahas lingkup dan meneruskan persetujuan biaya, bukan kepada suami yang sedang diajak menemani.
'Saya bisa bertanya soal pekerjaan yang saya pahami,' katanya. 'Keputusan pemilik tetap lewat pihak Bu Davina.'
Pengurus mengangguk dan melanjutkan penjelasan tanpa membuat permintaan maaf panjang. Davina menyimak, merasa senang pada cara suaminya menempatkan diri. Ia dahulu mengira menerima bantuan berarti menyerahkan seluruh pembicaraan. Sekarang ia dapat mengajak seseorang yang disayangi datang, memakai pertanyaannya yang berguna, dan tetap memegang tugas yang memang diberikan kepadanya.
Mama menelepon saat mereka hendak masuk ke halaman belakang. Ia menanyakan apakah kamar yang pernah dibayangkan untuk cucu akan diubah. Davina menatap Devon, lalu berjalan beberapa langkah untuk menjawab sendiri. Ia mengatakan ruangan disiapkan sebagai kamar biasa bagi penyewa, bukan menunggu anak mereka. Mama terdengar kecewa, tetapi akhirnya menanyakan kapan dapat melihat warna cat. Davina menawarkan datang bersama ketika pilihan sudah tersedia. Seusai panggilan, ia merasa lega dapat tetap mengajak ibunya hadir tanpa menyetujui harapan yang belum menjadi keinginannya sendiri. Devon hanya menanyakan warna yang dipilih, lalu mengaku ia sulit membedakan dua contoh putih pada berkas.
Setelah orang lain pergi, mereka berjalan mengitari halaman. Tukang kebun sudah membersihkan semak di dekat dinding. Davina menemukan sudut tempat ia pernah berdiri membayangkan masa depan sebelum menikah. Ia bertanya apakah Devon dahulu benar-benar mau tinggal di rumah itu. Suaminya memandang jendela besar di lantai bawah sebelum menjawab.
'Aku hanya ingin rencana orangtua segera selesai,' katanya. 'Rumahnya bagus. Tapi aku bahkan tidak memikirkan bagaimana kamu mau hidup di sini.'
'Aku juga memilih penthouse karena ingin membuatmu jatuh cinta. Bukan karena aku tahu semuanya akan nyaman.'
Mereka saling memandang. Davina tersenyum sedikit pada keberanian dirinya yang dulu, lalu merasa sedih mengingat harga dari permainan itu. Ia tidak bertanggung jawab atas ancaman Devon, tetapi ia dapat mengakui betapa lama ia menyembunyikan keinginannya sendiri di balik niat membalas. Ia kini tidak menginginkan kemenangan yang membuat keduanya terluka.
Di dekat pagar, Devon menanyakan apakah menyewakan membuatnya sedih. Davina mengaku sedikit. Ada bayangan yang mesti dilepaskan, meskipun ia tidak ingin menempatinya sekarang. Ia ingin penyewa dapat merawat rumah dan tidak dipaksa menerima perabot yang dipilih untuk pasangan lain. Devon menunjukkan sebuah pot yang miring, mengatakan setidaknya tanaman di situ tampak lebih membutuhkan penopang daripada nasihat perkawinan.
Davina tertawa lalu membantu meluruskan pot. Tanah mengotori jarinya dan bagian lengan baju suami. Mereka mencuci tangan di keran halaman, saling menyalahkan sambil tersenyum tentang siapa yang membuat air menyiprat. Ketika gerbang ditutup, Davina tidak merasa sedang meninggalkan kesempatan terakhir untuk bahagia. Rumah masih mempunyai kegunaan yang dapat dipilih pemiliknya, sementara tempat tinggal mereka tidak perlu diputuskan oleh foto iklan sewa.
Malam itu Devon membuat makan dengan resep yang telah dibaca sampai selesai. Davina menyiapkan sayuran, kemudian berhenti ketika pesan Hawa masuk. Saudaranya mengundang mereka menghadiri makan keluarga bulan depan. Davina memeriksa tanggal dan menemukan jadwal kelompok kelas pada sore yang sama. Ia ingin datang sesudah kelas, tetapi tidak dapat berjanji tepat pada awal acara.
'Aku ingin kamu ikut,' kata Devon. 'Kalau terlambat, aku bisa datang dulu.'
'Aku juga ingin datang. Beri tahu Hawa aku menyusul, jangan bilang aku mungkin berubah pikiran karena marah kepadamu.'
'Aku tidak akan membuka kemungkinan itu untuk dibahas satu keluarga.'
Davina menyikut lengannya pelan. Devon tertawa, kemudian hampir lupa mematikan api. Mereka makan sedikit lebih terlambat daripada rencana, dengan sayur yang masih renyah dan saus terlalu kental. Davina mengambil tambahan sebelum mengomentari rasanya. Suaminya menganggap itu penilaian yang lebih jujur daripada semua pujian yang dapat ia minta.
Sesudah dapur dibersihkan, ia membantu Davina berlatih percakapan untuk kelas. Ia tidak memahami semua pelafalan, tetapi dapat membaca bagian pertanyaan dari catatan. Davina mengulang jawaban lalu mengoreksi sendiri. Ketika suaminya sengaja memakai suara terlalu resmi, ia gagal menjaga wajah serius. Latihan yang semula terasa seperti pekerjaan tambahan berubah menjadi percakapan yang membuatnya ingin terus duduk di sana.
Sebelum beranjak, Davina menyentuh pipinya dan mencium singkat. Ia merasakan tangan Devon terangkat, kemudian berhenti pada pinggangnya ketika ia tetap mendekat. Mereka berpisah dengan senyum yang sedikit canggung, lebih hangat daripada jawaban panjang tentang kemajuan. Davina masih kembali ke kamar cadangan malam itu. Namun, ketika teringat halaman rumah yang dibersihkan, ia mulai membayangkan hal yang dapat mereka bangun tanpa harus menempati bayangan lama orang lain.