Barang pengganti sudah berada di gudang ketika Anita mengetahui nomor persetujuannya belum terbit. Pengelola menelepon kepala operasional karena pejabat pengganti sedang mengikuti pelatihan. Ia mendapat jawaban boleh membeli, lalu menganggap pekerjaan selesai. Harga serta jumlahnya cocok dengan kebutuhan. Namun, orang yang membayar faktur tidak mempunyai dasar untuk mengetahui siapa menyetujui pesanan pada waktu barang benar-benar dikirim.
Davina datang bersama penasihat yang mendampingi peninjauan. Ia sempat merasa kesal mendengar alasan belum memahami jalur darurat. Pengaturan sudah dikirim kepada manajer, bahkan pernah diperbaiki. Akan tetapi, ketika Anita meminta mereka menunjukkan bagian yang dipakai, kepala operasional membuka pesan lama. Daftar kontak yang disimpan dalam teleponnya berbeda dari panduan terbaru di kantor.
'Yang menerima versi baru siapa?' tanya Anita.
Ruangan terdiam. Pengelola mengatakan surel masuk kepada atasannya yang kemudian cuti. Ia menerima berkas terusan tanpa lampiran pengganti. Mereka mengira pengarahan berikut baru diperlukan untuk proyek pusat konferensi. Kepala operasional mengaku seharusnya tetap memastikan kewenangannya sebelum menjawab telepon, tetapi ia sungguh tidak mengetahui kontak mana yang mesti dihubungi.
Pemeriksaan barang diselesaikan sore itu. Tidak ditemukan selisih harga atau jumlah, dan kejadian tetap dicatat sebagai penyimpangan. Anita mengambil tanggung jawab memastikan pengarahan menjangkau orang yang bertugas, sedangkan masing-masing atasan harus memastikan anggotanya hadir. Usul pusat konferensi ditunda dua minggu untuk persiapan, bukan semua kegiatan hotel dihentikan. Devon menyetujui biaya persiapan dari sisinya setelah penjelasan keuangan diberikan.
Pada latihan berikutnya, Davina duduk di dekat seorang staf gudang yang berusaha membuka contoh permintaan dari telepon. Kolom kontak tertutup tombol lain. Staf itu memiringkan perangkat, menggeser layar, lalu tersenyum canggung ketika tetap gagal. Davina memanggil fasilitator dan memintanya mencoba dari perangkat yang sama. Setelah beberapa usaha, pria itu menyerah dan mengambil catatan.
'Ternyata di layar besar saya tidak kelihatan,' katanya.
'Saya juga tadi mengira tinggal dibaca,' jawab Davina.
Mereka memperbaiki tampilan serta menguji panggilan kepada pengganti ketika kontak pertama tidak menjawab. Pertanyaan praktis datang lebih banyak daripada saat pengarahan melalui surel. Seorang pengelola berani mengatakan ia takut menelepon orang yang namanya dikenal hanya dari bagan. Anita meminta staf yang sedang bertugas menjawab latihan itu sendiri, sehingga nomor dalam daftar akhirnya mempunyai suara yang dapat dikenali.
Pada percobaan pertama, pengelola salah menyebut barang sehingga jawaban pengganti tidak dapat dipakai. Ia memerah dan hendak menyerahkan telepon kepada orang di sampingnya. Anita memintanya mencoba lagi, membantunya menemukan informasi yang kurang. Kali kedua percakapan selesai dengan jelas. Davina teringat rasa malu ketika pernah tidak dapat menjawab pertanyaan pada acara mitra. Ia menahan keinginan segera membetulkan kalimat orang itu dan membiarkannya menyelesaikan sendiri. Setelah latihan, pengelola mengatakan ia kini tahu bagaimana memulai panggilan saat benar-benar dibutuhkan.
Saat makan siang, Davina menceritakan perubahan pikirannya kepada Devon. Ia mengira penjelasan yang masuk akal baginya tentu cukup bagi semua orang. Devon menanggapi bahwa ia juga sering menganggap pesan terkirim berarti pekerjaan dipahami. Di DM Electronics, pernah ada persiapan demonstrasi terlambat karena dua kepala bagian menyangka pihak lain mengirim barang. Ia ikut bersalah karena hanya bertanya apakah sudah diberitahu.
'Kamu marah?' tanya Davina.
'Waktu itu? Sangat. Lalu orang yang kusalahkan menunjukkan surelku sendiri.'
Davina tertawa, membayangkan wajahnya. Devon mengangkat bahu dan mengambil sambal. Mereka menghabiskan makan tanpa menyusun kalimat sempurna untuk dilaporkan kepada orangtua. Ketika telepon Davina berbunyi, Papa ingin menanyakan mengapa tidak ada sanksi berat. Ia menjelaskan apa yang diperiksa, apa yang salah pada pesanan, dan bagian pengarahan yang gagal sampai kepada pelaksana.
Papa mendengarkan, kemudian tetap mengatakan ia khawatir orang mencari alasan. Davina tidak mengubah jawabannya untuk segera disetujui. Ia menerangkan kejadian serupa setelah pengarahan akan dinilai berdasarkan fakta yang berbeda. Setelah telepon selesai, ia menghela napas panjang dan mengakui kepada Devon bahwa membantah ayah sendiri lebih melelahkan daripada menghadapi orang yang tidak begitu dikenalnya.
'Aku tahu rasanya,' jawab Devon. 'Tapi tadi kamu tetap menjawab pertanyaannya.'
Pada malam sebelum pertemuan konsultasi berikutnya, Devon duduk agak lama di ruang tamu. Davina melihat buku masak terbuka di pangkuannya, tetapi halaman yang sama belum berpindah. Ia menanyakan apa yang dipikirkan. Devon menutup buku, mengatakan ia diminta mengingat keadaan ketika mulai merasa berhak menentukan jawaban orang lain. Ia menemukan lebih banyak contoh daripada yang semula ingin diakuinya.
Davina merasa dadanya menegang. Ia tidak ingin malamnya berubah menjadi tempat memeriksa seluruh kesalahan suami. Devon melihat wajahnya, lalu mengatakan ia tidak meminta jawaban atau kisah yang ingin ia simpan. Bagian itu sedang dikerjakan bersama orang yang menolongnya. Ia hanya ingin menjelaskan mengapa beberapa kali kelihatan diam, sebelum Davina mengira ada kabar lain yang sengaja ditahan.
'Aku takut kamu akhirnya bilang kamu begitu karena aku membuatmu marah,' ucapnya.
'Aku pernah memakai alasan itu. Waktu di pulau, waktu urusan rumah. Sekarang aku tahu itu pilihanku sendiri.'
Davina menatap tangan suaminya yang tetap berada di pangkuan. Ia mengingat ketakutan yang dulu terasa memalukan untuk diceritakan, bahkan kepada diri sendiri. Ia mengatakan masih ada saat tubuhnya menegang ketika Devon mendekat mendadak. Mengatakan cinta tidak membuat ingatan itu lenyap. Ia berharap suatu hari hal tersebut terasa lebih ringan, tetapi tidak dapat menjanjikan kapan.
Devon mengangguk. Ia tidak meminta Davina segera mencoba membuktikan bahwa ia sudah aman. Setelah beberapa lama, istrinya mengambil novel dan duduk di ujung sofa yang sama. Jarak di antara mereka cukup untuk buku yang dibaca, tidak lagi dipenuhi pertanyaan yang harus dijawab malam itu.
Menjelang tidur, Davina mengatakan ingin ikut melihat latihan terakhir pusat konferensi karena ia kini mengerti siapa yang perlu didengar. Devon tersenyum. Ia menunjukkan halaman resep yang ternyata sejak tadi dibuka terbalik setelah bukunya jatuh. Davina menahan tawa sesaat, lalu gagal. Suara tawa mereka tinggal beberapa lama di ruang tamu sebelum masing-masing beranjak menyiapkan hari berikutnya.